Agustus

loading...


Oleh: KHAIRUL JASMI
(WARTAWAN UTAMA)

Agustus, bulan penantian. Menanti dilantik setelah Februari para kepala daerah disumpah. Bak menanti amai pulang dari balai. Lama sekali. Bulan kedelapan ini juga hari-hari penuh perjuangan. Kemerdekaan diproklamirkan!

Jangan dikira mudah jadi Bung Karno dan Bung Hatta. Rasa hormat kita sampaikan untuk para pejuang, termasuk kaum ibu yang menyediakan nasi bungkus untuk para penyandang bambu runcing.

Agustus adalah bulan patriot, tetap gagah meski ekonomi lesu bagai daun pisang yang didiang untuk bungkus nasi orang ke sawah.

Dan kini pula agenda banyak sekali. Segala bentuk rapat, upacara, jamuan makan siang, makan malam. Segala ada. Yang tak ada bendera di mobil yang lalulalang di jalan raya. Jika pun ada secuil. Di rumah? Jangan disebut, lupa.

Padang selain sibuk menyambut HUT RI juga sibuk merayakan hari jadinya. Pakai jas semua. Berdasi. Gagah, segagah balaikota di Aie Pacah yang gila kena banjir itu.

Saat yang sama remaja kita masuk kuliah, yang kuliah menikmati hasil smesternya. Ada rektor baru ada dekan baru ada rumah kost baru, kontrakan. Ini adalah hari dimana langkah pertama diayunkan, melangkah ke masa depan. Wahai indahnya.

Yang kurang indah adalah ekonomi. Inflasi rendah. Tentulah rendah, uang tak ada. Coba banyak uang, lepas selera. Soal selera tergantung jabatan. Makin tinggi kian mahal jasnya ha ha ha...

Akan halnya pelantikan pejabat sebentar lagi akan ada ratusan orang. Ini piutang lama dibayar orang. Lelah terobati. Maklum kita timses atau teman timses. Atau bukan siapa-siapa tapi profesional belaka.

Ini bulan Minang Mart mulai melangkah. Entah terang bulan di langit entah temaram. Waktu yang akan menjawab. Yang pasti kita semua akan merayakan Hari Kemerdekaan bangsa sendiri. Berbagai pihak mulai bergerak minta sumbangan untuk persiapan tujuhbelasan. Dulu, entah sekarang, di desa warga mencat pagar bambunya dengan kapur warna putih. Memasang gabah-gabah dihiasi sedemikian rupa.

Kini?

Orgen tunggal. Hoyak sini lenggok sana musik menghentak tiada tara. Tawa dan canda lepas sudah, biduan lelah sampai malam menjadi basah. Basah oleh embun yang turun tak terasa.

Pada bulan ini belum lama benar, Bandung disulap sedemikian rupa dengan payung-payung cantik di jalan Asia Afrika. Tak ada nama jalan semacam itu di kota lain. Bandung memang punya sejarahnya sendiri.

Sejarah sendiri adalah keindahan. Kala kita berjuang sendiri membangun masa depan. Apalagi dengan pasangan, rasa akan dijinjing dunia ini berdua. He... he... he...

Sementara itu, ketika kita penuh perayaan atau memasuki hari baru di kampus, hari baru di kota lain, ratusan ribu jemaah calon haji berangkat ke Tanah Suci. Yang berangkat pergi sudah, yang antre menunggu bertahun-tahun.

Untuk haji perlu uang. Uang perlu untuk hidup. Karena uang orang korupsi. Karena korupsi masuk tangsi. Dalam tangsi nasib ditangisi. Yang menangis, silahkan, yang tertawa juga silahkan. Yang tak boleh diam membisu menghabiskan jatah orang lain.

Lantiklah Pak ini sudah Agustus, biar jelas pula apa yang akan dikerjakan. Kemarin saja kabinet baru sudah tersusun dan dilantik.

Kelemahan kabinet sekarang, nama-nama menterinya tak hapal lagi oleh anak sekolah. Kelemahan kedua, bajunya banyak yang putih seperti anak sekolah.

Bintangnya sekarang Sri Mulyani Indrawati. Bisa berdua dengan Rini Sumarno. Mungkin Sri akan jadi Wapres pada pilpres mendatang. Bintang hebat lainnya Susi.

Kabinet baru setelah pergantian beberapa menteri, menjadi kisah yang menarik di awal Agustus. Bak tokoh-tokoh dapat penghargaan dari Pemko Padang.

Ah..... (*)
Agustus 2016




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama