Lapar

loading...


Oleh: KHAIRUL JASMI
(WARTAWAN UTAMA)

Ada kebahagiaan rahasia bersama perut yang kosong.
(Jalaluddin Rumi)

****

Puasa? Menahan lapar dan haus serta segala nafsu. Biar kita merasakan bagaimana hebatnya kelaparan yang dialami orang miskin.  Sementara itu, hidangan hangat dan lengkap di meja makan saat berbuka, tak dialami dan dirasakan orang miskin itu. Jadi?

Kita pura-pura saja menyama-nyamakan nasib dengan kaum fakir miskin. Entah kalau yang benar-benar alim. Harusnya juga ada hal sebaliknya, lezatnya berbuka dinikmati pula oleh mereka yang tak punya.

Adakah itu teringat saat berbuka? Begitu beduk berbuka terdengar, diteguk teh hangat dan sedikit kolak lantas bergegas ke masjid. Sehabis shalat baru makan sedikit agar Isya dan Tarawih tak terganggu. Betapa hebatnya. Itu untuk Anda, untuk si miskinnya mana?

Ada tuh kotak infak sedekah untuk anak yatim. Di beberapa masjid ada kotak untuk fakir miskin. Kapan isi kotak dibagi? Paling cepat tiga hari sebelum Idul Fitri. Lalu? Habis lebaran diulang dari awal.

Kita sudah merasa sangat cukup beramal saleh selama Ramadhan dan kembali merindukannya. Rindu sekali tak terkatakan. Sementara itu orang-orang miskin kembali pada rutinutasnya. Tak ada lagi waktu untuk menyelamani bagaimana rasanya miskin, kecuali oleh orang miskin itu sendiri.

Lapar dalam puasa dan bau mulut yang tak sedap semoga jadi pahala. Dan ini sudah hampir sepekan berpuasa tapi undangan berbuka bersama belum ada. Dari kantor, teman se grup WA, alumni, teman sepermainan atau undangan dimana saja. Ketawa-ketiwi dan sebagainya.

Lapar menggulung galang-galang, ada rasa perih, badan lenyai, semangat hilang namun tetap bekerja. Kerja di saat Ramadhan berlipat amalnya. Saat puasa emosi gampang tersulut, makanya kalau berurusan dengan orang miskin jangan emosi, sebab mereka juga bisa emosi. Jika bisa menahan, mereka akan menunduk, menyurukkan kesedihan pada hati yang amat dalam.

Begitulah kalau THR sudah diterima, zakat dibayar bagi yang ingat dan mau. Bagi yang lupa tentu tak lupa berbelanja. Riang tiada tara, lalu dimana letak upaya menyamakan nasib dengan orang miskin.

Jangankan soal THR soal berbuka saja kita lupa pada si miskin. Dengan demikian puasa kita tidak paripurna. Belum top, belum hebat.

Jadi bagaimana bagusnya?

Ha ha ha teruslah seperti sekarang, tanggung. Tapi sekali dua cobalah berbuka dengan nasi pakai garam saja.

Lai takao? Sanggup?

“Jadilah kosong, lalu merataplah seperti indahnya ratapan bambu seruling yang ditiup pembuatnya” kata Jalaluddin Rumi lagi.

Beliau meneruskan, “Puasa adalah cincin Sulaiman jangan melepasnya demi segelintir kepalsuan hingga kau hilang kekuasaan.”

Ah benarkah kita rindu Ramadhan serindu-rindunya? Dan sudah berapa kali membeli masakan enak untuk berbuka? Adakah tanpa kolak? Bagaimana sejarah di meja makan selama Ramadhan, samakah dengan hari-hari alang?

Banyak benar tanya ya. Tak baik sebenarnya. Yang baik itu diam-diam saja. Diam adalah emas. Emas sekarang mahal dan banyak toke emas kena rampok. Hidup makin ganas dan jahat saja. Tak aman lagi. Perbanyak saja pasak pintu kapan perlu buat pintu berlapis, tapi bagaimana kalau gempa?

Nah. Kemari bedo juga jadinya. Makin jengkel kalau saat berbuka lampu mati. Untung belum, kalau kejadian sumpah serapah akan terdengar, meski hanya dari sebagian kecil rumah. Yang lain? Sabar. Orang sabar kasihan Allah. Lihatlah di jalan raya sabar semua sehingga lalu lintas amat teratur.

Ini puasa bro jangan banyak cakap. Berperkara kita nanti. Kalau sudah berselisih paham maka puasa akan batal. Ini puasa bagai menanak minyak penuh, sedikit saja tersinggung segera tersulut, ee tumpah.

Betapa hebatnya puasa. Dan dengan apa Anda berbuka sore ini?

Jangan lupa tiga biji kurma. Berbukalah dengan yang manis-manis. Jaga kesehatan sebab puasa sesungguhnya juga adalah bongkar mesin setelah 11 bulan perut bekerja dengan hebat.

Kucikak dalam tulisan ini jangan diambil hati nanti puasa Anda jadi batal.

Ah yang sabar ya. Suka oom... (*)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama