Risiko

loading...


Oleh: KHAIRUL JASMI
(WARTAWAN UTAMA)

“Kerjakanlah apa yang kau tulis,
tulislah apa yang kau kerjakan.”

Nasihat ini pasti bukan untuk wartawan, tapi untuk karyawan sebuah perusahaan seperti pabrik semen atau bank. Tulislah yang patut, jangan kalau tak patut, itu baru untuk wartawan. Kaji untuk orang, ini lain lagi, he he...

Tiap pekerjaan ada risiko, tak bekerja pun punya risiko. Jika bencana alam ada, antisipasinya disebut mitigasi, maka untuk risiko pekerjaan juga sama sebutannya. Yang susah itu mitigasi dompet, apalagi sekarang pemerintah main pajak saja, segala kena pajak, tak ada ampun. Juga main potong sana-sini.

Main potong itu, menunjukkan, pemerintah tidak melakukan mitigasi anggaran. Kena dia pada risiko likuiditas dan strategis. Kalau kredit rumah KPR menunggak, maka Anda terkena risiko yang sama.

Kalau ban motor pecah di jalan, itu namanya risiko operasional. Sejak membuka mata pagi sampai terpejam malam hari, kita dibayangi risiko operasional.

Adakalanya, makan telat, pulsa habis, jalan macet, pekerjaan banyak, anak menangis dan sebagainya. Dan sebagainya itu misalnya, ditangkok polisi karena tak pakai helm. Lalu sibuk menelepon kiri-kanan, tapi kena tilang juga.

Banyak risiko di pundak sebanyak manfaat. Jabatan yang empuk, peluang bisnis yang menggiurkan, Minang Mart, Alfa Mart, mall, pasar tradisional, tradisional modern, jual kacang tojin, jual daun bawang, manggalas sandal jepit, serta apa saja. Banyak orang menghindari risiko, main aman saja, tapi kalau mendapat dia duluan ke muka. Ada yang mencari-cari risiko, kemari mendongkak saja, segala tak baik di matanya. Ia akhirnya sakau sendiri, sebab dunia terus berputar, ia tercecer di belakang. Makin tercecer, makin marah dia, makin sakit akhirnya stroke.

Karena tak mau ada risiko, ia tak mau ditunjuk jari, atau tak mau dikritik. Mau, katanya, tapi yang membangun, dikiranya, kritik itu kantor PU, membangun segala, he he he...

Begitulah risiko, dimana-mana ada. By Pass Padang misalnya, telat selesainya, itu bagian dari gagalnya pemerintah mendeteksi risiko kepatuhan dan regulasi. Akibatnya berhati-hati agar tak terkena risiko hukum. Implikasinya, terkena risiko operasional. Ujung-ujungnya rusak program strategis, merusak nama baik pemerintah. Nama baik itu penting, sepenting listrik saat berbuka, sepenting cermin saat berdandan.

Sepenting-pentingnya, nama baik itu bisa rusak karena tidak memperhatikan berbagai risiko dalam hidup. Gila berpacaran saja misalnya. Atau gila mencimeeh saja.

Yang parah merasa benar sendiri. Di depan kawan, di depan anak, istri, murid, dia saja yang benar. Di depan murid, buku pegangan guru saja yang betul, yang dibaca murid salah, padahal ilmu terus berkembang. Teman saya waktu kuliah S-2 pernah ditegur dosen, karena dilihatnya main HP saja.

“Kamu kalau mau main HP di luar sana,” kata di dosen.

“Tidak main HP Pak, tapi mencatat, nanti hasil catatan ini saya print,” katanya.

Tak sampai ilmu si dosen ke sana, dikiranya mencatat itu hanya dengan pena. Sekarang, pekerja pers, nyaris tak pakai notes dan pena lagi. Semua di HP pintar; catat, rekam dan foto. Kemudian bahan diolah di HP yang sama, selesai, kirim ke redaksi dengan HP yang sama.

Selesai, sambil duduk-duduk saja, kecuali HP masuk air, baru pusing tujuh keliling.

Pernah merasakan hal itu?

Saya pernah, nama kerennya vertigo, berputar dunia ini, yang ke atas ke bawah, yang ke bawah ke atas, bola mata pangkal balanya. Tidak fokus lagi, akibat kelelahan. Bangun tidur, langsung saja menghambur. Makanya hati-hati, namanya 3,5 menit hati-hati di kala pagi.

Soal pena saya pernah terkena risiko pula. Waktu itu, seorang hebat dari Jakarta, puluhan tahun silam, di Harian Semangat, saya diinterview olehnya. Ia memarahi saya karena tak bawa pena. Waktu itu memang hanya pena satu-satunya alat pencatat, selain pensil.

Sekarang? Jangan disebutlah.

Waktu Uji Kompetensi Wartawan, saya dapat kabar, ada peserta yang tak bawa laptop, ia ditegur, tapi kemudian dijelaskannya, segalanya bisa di HP sampai pada memprintnya. Penguji setuju. Inilah antisipasi risiko zaman ini, jangan seperti saya puluhan tahun silam, tak bawa pena, padahal saya punya, yaitu pena besar bertinta parker.

Tintanya dihisap lewat ujung pena. Kuriak warnanya, tutupnya setelah dimasukkan diputar. Ada dratnya. Sering, lupa menutup, langsung disematkan di kantong, maka basahlah kantong baju oleh tinta. Tidak hati-hati, risiko operasional, he he he...

Kalau suatu hari Anda kehabisan uang, likuiditas yang kena, kalau kena tilang, kepatuhan kurang, jika tak bisa meminjam di bank, tingkat kepercayaan rendah. Konon, bank hati-hati sekali meminjamkan uang kepada: jaksa, polisi, TNI, pengacara dan wartawan. Ini namanya diskriminasi. Atau mau amannya saja. Sebenarnya, orang-orang di kelompok kerja ini mengerti hukum, jadi bank yang suka mempertakut nasabah, tak mempan.

Di sisi lain, bisa juga sedikit-sedikit gertak, orang bank tak mau digertak, sebab mereka sama dengan orang pajak, tukang gertak ha ha ha... (*)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama