Veteran

loading...

Oleh: Khairul Jasmi

Waktu kecil, saya ikut membuat hiasan 17 Agustusan dari botol plastik sabun colek B-29. Sekarang, dibuat dari botol air mineral. Dicat merah putih, disusun sedemikian rupa, direntang di tepi jalan.

Meski sudah September, hiasan-hiasan semacam itu masih ada bahkan bendera belum diturunkan dari tiangnya di sejumlah rumah. Ketika itulah datang kabar, Letkol (purn) Ilyas Karim yang mengaku satu dua dari pengibar bendera Merah Putih 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, sedang sengsara. Rumahnya digusur.

Urang awak ini berdomisili di Jakarta. Ia sedang mengguncang sejarah, sebab menurut buku, salah seorang pengibar bendera Proklamasi itu bukan dia tapi Soehoed dari Barisan Pelopor. Sejarah kadang hanyut dalam sungai waktu, lalu kita lupa. Pengibar bendera Proklamasi saja, bangsa ini tak tahu dengan pasti.

Tapi, penggusuran telah terjadi, untuk sebuah kota yang smart. Kota yang ramah dengan sungai yang berair jernih dan rumah yang tertata. Soal kota yang smart itu, Padang, juga sedang berusaha. Memperbaiki dirinya, sekuat tenaga, namun kota tua ini sudah lelah.

Amat lelah. Bukan hanya kota kita, bangsa ini juga sudah lelah, apalagi belakangan bicara soal pajak, tentang APBN yang dipotong, menyangkut pemborosan dan entah apalagi. Di negeri ini, kepala saja yang belum dipajak. Gaji dipajak, beli sepatu dipajak, beli pakaian, beli kendaraan, beli oli, bensin, onderdil. Beli rumah, perabot, listrik, pulsa telepon, kena pajak semua.

Oleh negara ini masih saja tak cukup-cukupnya. Model orang kelaparan, semua uang rakyat disikat, tinggal sekadar keperluan saja. Semua uang pajak itu digelontorkan untuk pembangunan, dikorupsi pula. Dalam beberapa tahun ke depan, kian sedikit uang
yang dikorup, akan terasa ekonomi sulit. Setelah itu baru datang fajar, uang yang beredar sudah halal semua.

Kapan? Entahlah.

Bagi kebanyakan orang sekarang, ekonomi terasa sulit sekali, tak dapat yang akan disebut, makin jauh dari dari hari kemerdekaan, makin payah dan parah. Tapi tidak bagi yang lain, makin hari kian membaik. Dalam keadaan yang parah semacam itu muncul persoalan-persoalan parah lainnya.

Salah satu persoalan parah adalah kota yang penuh urban. Jakarta dan Padang sedang memperbaiki dirinya, namun Jakarta lebih kompleks,karena persoalan urbannya sebanyak uban di kepala. Dalam persoalan yang rumit itulah tersua sebuah nama, veteran pejuang, pengibar bendera Proklamasi digusur.

Ilyas Karim, lelaki yang lahir di Padang pada 13 Desember 1927 itu, kini sedang tak punya rumah. Sejumlah perantau Minang badoncek mengumpulkan bantuan, termasuk Timmi, anak Minang dengan kitabisa.com-nya itu.

Pejuang, memang sedang sepi. Ia sedang sendiri tenggelam dalam masa lalu dan seolah terpisah dari zaman sekarang. Seperti para tukang batu yang membuat tembok besar di China. Setelah selesai, jasa mereka tak diingat lagi, bahkan dibunuh.

Waktu membunuh banyak hal, apalagi kenangan, apalagi kebangaan orang lain yang seharusnya menjadi milik bersama. Hanya teks yang tak lenyap.

Teks Proklamasi masih ada, tapi suasana batin saat pengibar bendera 17 Agustus itu, telah lenyap. Tak ada yang bisa menangkap secara utuh, betapa tegangnya suasana. Dalam suasana semacam itulah, menurut Ilyas, ia menggerek bendera. Itu 71 tahun silam.

Waktu 71 tahun silam, belum lama, tapi bisa amat lama, tergantung kita memaknainya.

Kapan Anda menikah? Kapan Anda mulai masuk SMA?

Bisa lupa, bahkan sering lupa. Memori kita akan masa lampau, amat sedikit, sesedikit uang di kantong.

Yang kita tak lupa, kapan gajian, berapa hutang orang pada kita. Sebaliknya lupa. Lupa bagian dari keseharian manusia. Karena itu jangan heran, kita lupa dimana meletakkan HP, kunci kendaraan dan kunci rumah.

Maka lupalah orang akan jasa para veteran tapi ingat saat 17 Agustus. Veteran di Indonesia banyak yang terlantar. Negera belum sempat mengurusnya. Jika diurus pun setengah hati.

Maka selalu, setiap diwawancarai wartawan, veteran berpesan agar bangsa ini jangan lupa sejarah.

Sejarah bukan tuturan, melainkan kejadian tapi di masa lalu. Tiap orang bisa mengisahkannya, tapi sering berbeda. Sejarah Indonesia adalah kemelut tak berkesudahan.

Waktu kuliah, saya membeli buku sejarah Indonesia enam jilid, tapi kemudian buku itu tak terpakai, karena menurut para sejarawan, buku itu, banyak muatan politisnya dan akhirnya tak terpakai lagi. Meski tak dipakai, saya tetap menyimpannya.

Maka sejarah Proklamasi kini tersimpan dalam benak orang-orang yang sudah meninggal, terbawa ke dalam kubur. Ingat poin besarnya lupa sisi kecilnya tetapi penting.

Bendera Ibu fatmawati berkibar di puncak tiang, 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Sejarah hebat hari itu berkibar, tapi kita sering mengabaikannya.

Adakah 17 Agustus kemarin Anda mengibarkan bendera di tiang rendah depan rumah masing-masing? (*)
Padang, 4 September 2016




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama