Wisata

loading...


Oleh: KHAIRUL JASMI
(WARTAWAN UTAMA)

Pergilah ke negeri orang, maka kau akan menemukan bukti-bukti baru betapa maha hebatnya Tuhan.

****

Saudara Suryadi yang menulis kolom Minang Saisuak di Singgalang, mempostingkan foto-foto sungai di Leiden dan Amsterdam yang berair jernih. Di sungai itu terlihat perahu membawa orang-orang Belanda yang sedang menikmati musim semi.

Itu baru foto tapi semua teman di grup WA menyatakan kekagumannya. Apalagi kalau kita berkunjung ke Belanda. Selain kagum juga bisa dibangga-banggakan.

Tapi kata teman saya, ke Mekkah lah dulu setelah itu baru ke tempat lain. Ia tak tahu raun-raun ke luar negeri bukan dengan uang sendiri. Dikira kita distributor semen he he...

Tapi jangan salah, orang Belanda pun bisa mati berdiri di sini melihat keindahan Indonesia. Cerita semacam ini sering saya dengar. Misalnya, suatu hari si Belanda datang ke Sumbar hendak ke Dharmasraya untuk satu proyek. Tak tahunya di Sitinjau Lauik tiap sebentar dia berhenti. Foto sana foto ini.

“Oi Yuang ko ka mamoto atau karajo,” kata yang mendampinginya.

Manalah dia tahu. Ia tetap saja memoto alam yang di negaranya tak dijumpai.

Ini bukti lain. Beberapa hari lalu salah seorang operator wisata di Padang, Ian Hanafiah mengirimkan video singkat pada saya.

“Teman saya di Belanda yang mengirim. Tahun depan ia ingin ke Sumbar,” kata Ian.

Saya kemudian mengirim video itu pada Gubernur Irwan Prayitno. Video tersebut berisi obyek-obyek wisata di Sumbar, termasuk Kelok Sembilan. Jadi, mereka ingin ke sini, kita ingin ke sana. Itulah wisata.

Wisatawan datang membawa uang, seperti orang Malaysia ke Bukittinggi. Galigaman mereka belanja di sini karena murah meriah.

Tapi, wisata bukan hanya destinasi. Yang penting dari itu banyak; infrastruktur, transportasi, keamanan, kenyamanan. Yang sangat perlu sikap dan pelayanan.

Keluhan utama saat ini soal pelayanan. Kita berdagang bukan cari pelanggan, akibatnya yang didapat bukan konsumen, tapi pembeli sesaat.

Kini sedang hebat-hebatnya promosi wisata. Hebat pula upaya perbaikan yang dilakukan di Ranah Minang ini. Saya heran tiba-tiba saja hampir semua orang hebat sadar wisata. Namun, saya tak tahu kalau mereka pergi berwisata ke Bali atau mana saja.

Wisata ke Bali jangan disebut ada-ada saja alasannya sehingga bisa ke Pulau Dewata itu. Sesampai di sana tak pula jelas apa yang dituju. Begitulah kalau ada sumber keuangan, bisa pergi sesuai rencana.

Lalu teman saya Suryadi yang orang Piaman itu mengirim foto-foto lain. Ada-ada saja yang dikirimnya dan dikengkapi dengan pantun-pantun tua yang saya baru pertama kali membacanya. Ia menemukan pantun itu di pustaka Leiden.

Maka berwisatalah kemana saja. Orang laut pergilah ke gunung dan sebaliknya. Jika jalan macet nikmati saja. Tak usah jauh-jauh di Sumbar saja. Bukankah negeri kita elok seeolak orang-orangnya.

Bukankah waktu sekolah kita carter bus untuk keliling Sumbar meski sesungguhnya kita tak pernah mengelilinginya.

Wisata adalah bepergian. Sendiri. Dengan pasangan atau dengan siapa saja. Mewah atau berdikit-dikit. Makan mewah atau makan ampera, murah dikatakan mahal. Lalu marah-marah.

Pergilah ke negeri orang maka engkau akan menjaga negerimu.

Selamat berwisata. (***)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama