Dampak Covid-19, Sejumlah Pelaku Usaha di Pasaman Barat Terancam Gulung Tikar

Salah seorang pelaku UMKM di Pasaman Barat menjahit masker, selama merebaknya virus corona. Hanya saja, kini umumnya pelaku usaha di daerah setempat terancam gulung tikar. (andika)

mjnews.id - Pedagang dan pemilik toko di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat mulai panik dan menjerit. Dagangan tidak laku. Lapak atau toko tetap buka, tapi pembeli tidak ada. Hal ini, imbas dari ketakutan masyarakat terhadap virus Covid-19.

Nelia, salah seorang penjaga toko di Simpang Empat mengatakan, omzet penjualan di tokonya sejak 3 minggu terakhir menurun tajam, mencapai 70 persen.

“Jangankan membeli, yang masuk melihat-lihat saja jarang,” katanya.

Katanya, untuk pesanan barang ke grosir, harga sudah naik pula. Ongkos kirim juga naik. Sementara daya beli masyarakat sangat rendah.

“Jika saja lama-lama begini, toko bisa tutup. Ya, bangkrut,” tukasnya.

Terpisah, Ketua Forum UMKM Pasbar, Ade Media Putra mengatakan, sebanyak 360 pelaku usaha yang tergabung dalam forum UMKM Pasaman Barat, kontan mengalami penurunan omzet sampai 75 persen. Dan sekarang rata-rata terancam gulung tikar.

Ia menerangkan, penurunan omzet itu dikarenakan menurunnya permintaan mencapai 87,5 persen. Hal itu dipengaruhi karena imbauan pemerintah agar masyarakat menerapkan pembatasan sosial. Cukup di rumah saja.

“Ini memperparah keadaan dan para pedagang kian mengelus dada dengan kondisi tersebut. Jika pandemi Covid-19 tidak segera berakhir, para pelaku usaha terancam gulung tikar,” ujarnya.

Selain karena imbauan tersebut, juga dipengaruhi sulitnya untuk mendapatkan bahan baku, bahkan sejumlah bahan baku harganya pun naik. Artinya, order pesanan dari konsumen dalam bidang kuliner tidak ada.

Lanjutnya, saat ini para pelaku UMKM juga sulit memasarkan produk secara langsung dan online. Hal itu dikarenakan, tidak bisa untuk keluar provinsi.

“Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun, bukan kita saja, semua terdampak akibat virus corona ini. Namun kita berharap dan berdoa semoga ini segera berakhir,” harap Ade.

Ia menambahkan, akibat situasi yang melanda anggota forum UMKM yang dipimpinnya, sudah ada yang memilih menutup usaha. Seperti pelaku usaha rumah makan di kawasan wisata Pantai Pohon Seribu Sasak, karena tidak ada pengunjung.

“Beberapa anggota kita, mulai beralih profesi untuk bisa menutupi biaya kelangsungan hidup keluarganya masing-masing,” ujarnya.

Namun demikian, pihaknya berharap pemerintah setempat dapat meringankan beban, seperti ada bantuan atau stimulus agar para pelaku UMKM tetap berusaha. Hal ini agar mereka bisa mengatur kembali dan menata bisnis yang terpuruk akibat corona. (dika)
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama