Pengelola Kopi Payo Diminta Ikut Cegah Corona

loading...

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Solok, Bujang Putra bersama Kabid Koperasi, Budi, kunjungi Kedai Kopi Payo di Lankelok, Tanah Garam. (ist)

mjnews.id - Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19 (virus corona), Rabu (1/4/2020), Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Solok, Sumatera Barat, H. Bujang Putra bersama Kabid Koperasi, Budi Kurniawan dan jajaran, mengunjungi kedai-kedai Kopi Payo di daerah setempat.

Kehadiran mereka mendapatkan sambutan positif dan memberikan kelegaan bagi pengelola kedai kopi, baik yang berada di jalan Lintas Sumatra, Lankelok Kelurahan Tanah Garam maupun kedai kopi yang ada di kawasan destinasi wisata Batu Patah, Puncak Payo.

Di Payo Coffee Shop, Kadis Bujang menerima keluhan dari Aan, salah seorang pengelola. Keluhan tersebut yakni semenjak mewabahnya Covid-19 dan ditindaklanjuti dengan adanya imbauan Walikota Solok untuk tidak keluar rumah, kontan pengunjung menurun drastis sampai 50 persen.

Dikatakan Aan, Kopi Payo tanpa ampas ala kopi instan di dalam gelas ukuran kecil dijual seharga Rp8.000/gelas dan dobel gelas Rp12.000.

Besar harapan pengelola kedai Kopi Payo tersebut, semoga corona sepat berlalu dan perekonomian bangkit kembali.

Bujang Putra dan Budi Kurniawan, kontan menanggapi bahwa virus corona memang telah merusak berbagai sendi kehidupan. Termasuknya melemahnya perekonomian masyarakat.

“Kini, semua bekerja keras untuk memusnahkan virus tersebut,” tegasnya.

Dia juga minta pengelola kedai Kopi Payo, hendaknya juga menaati aturan yang diimbau pemerintah. Seperti ada pengaturan jarak berinteraksi, berbicara 1 hingga 2 meter. Begitu juga tempat duduk. Sebelum konsumen masuk kedai kopi, pengelola mengarahkan untuk mencuci telapak tangan beserta jari-jari tangan dengan sabun.

“Sudah tentu sabun disediakan. Begitu juga membuat kran serta pembuangan yang mengalir ke saluran limbah,” saran Bujang.

Sedangkan pengunjung yang ada gejala flu, pengelola diberitahukan untuk memakai memakai masker. Tidak ada salahnya, pengelola membatasi kapasitas lesehan, sehingga pengunjung dalam menikmati kopi seraya memikirkan wabah yang menakuti tersebut.

Aan pun menerima saran yang dinilai amat baik dalam mengantisipasi Covid-19 dimaksud.
Sebelumnya, Aan menyebut, Kopi Payo dibeli berupa buah yang matang dengan kulit berwarna merah tua. Kemudian dikelupas dan dijemur. Resting (merendang) kopi yang telah kering, belum dilakukan sendiri, malahan masih diupahkan diusaha bubuk kopi “Ren” di jalan raya Pandan Kelurahan PPA, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok.

Terkait pembudidayaan dan peremajaan kopi payo dengan jenis robusta ini, menurut Kadis Bujang, hendaknya mulai dari hilir menuju hulu, sehingga petani Payo nantinya menjadi petani ‘berdasi’.

“Kami telah membawa lima ketua kelompok Tani Kopi Payo ke Gayo, Aceh, melakukan peninjauan. Sehabis mata memandang, perkebunan kopi Gayo, memang di sana pengembangannya oleh investor,” ujar Bujang.

Sementara di kawasan Batu Patah, Puncak Payo, yakni kedai Murni, pihaknya menikmati Kopi Payo dimaksud. (*/eds)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama