75 Tahun Menanti, Listrik Menyala di Tanah Seberang

 

Rombongan PLN Sumbar selain menyeberangi lautan, juga berkeliling Mentawai dengan sepeda motor. Ekspedisi demi menerangi daerah terluar tersebut. (ist) 


Liputankini.com-Masyarakat Desa Malako, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai 75 tahun mengurut dada.  Ketika tanah tepi bermandi cahaya, mereka hidup tanpa listrik. 


Tanah tepi merupakan istilah orang Mentawai menyebut daratan Sumatera Barat. Sementara Mentawai diidentikkan dengan tanah seberang. Dalam hal kelistrikan, antara tanah tepi dengan seberang bagaikan siang dan malam. 


Guna mencapai tanah tepi, warga seberang harus naik kapal 13 jam perjalanan. Kalau cuaca buruk, perjalanan tak dilanjutkan serta kapal kembali ke pelabuhan. Hal serupa juga berlaku bagi warga tanah tepi yang hendak ke seberang.


Keterbatasan listrik di tanah seberang tak terlihat dari tanah tepi. Namun, PLN merasakan dan memahami keluhan warga di sana. Terhitung sejak 2 Oktober 2020, listrik PLN menyala di Makalo.


Warga Makalo menyebut 2 Oktober sebagai hari bersejarah. Inilah kali pertama listrik PLN masuk ke rumah warga, setelah sebelumnya cuma  menggunakan LTSHE atau lampu tenaga surya hemat energi untuk penerangan. 


Pihak desa mendapatkan LTSHE dari Dinas ESDM Sumatera Barat. Pemberian LTSHE merupakan salah satu program pra-elektrifikasi, program yang ditujukan kepada desa-desa yang belum memiliki akses listrik. 

“Betapa tertinggalnya kami, mendapatkan listrik dari PLN saja butuh waktu 75 tahun. Ini penantian yang luar biasa,” kata Jaibi, pemuda di sana.


Bersamaan dengan Desa Makalo, listrik PLN juga menyala di Desa Saumanganyak Kecamatan Pagai Utara. Di dua desa itu, listrik menyala 24 jam penuh. “Terima kasih PLN, kami disamakan dengan daerah lain yang lebih dahulu terang benderang, walau itu kami rasa terlambat,” ujar Jaibi.


General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sumbar, Bambang Dwiyanto menyampaikan, keberhasilan melakukan energize Desa Makalo dan Desa Sumanganyak tidak lepas dari tekad PLN untuk melistriki seluruh negeri. 


“PLN mempersembahkan hadiah listrik bagi warga Desa Makalo yang baru mendapatkan listrik. Sementara warga Desa Saumanganyak merasakan listrik 24 jam, yang sebelumnya hanya 12 jam. Ini kado terindah tahun ini bagi masyarakat dan bagi PLN juga,” ungkap Bambang. 


Ia menyebutkan, listrik untuk Desa Saumanganyak kini disuplai (interkoneksi) dari PLTD Sikakap sehingga PLTD Saumanganyak dapat di-off-kan. 


Desa Makalo terdiri dari enam dusun, dua telah terlistriki, masing-masing Dusun Makalo dan Tubeket. Dua dusun itu didiami 250 kepala keluarga. 


“Empat dusun lain akan dilistriki secara bertahap,” ujar Manager Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Sumbar, Sudarmadi. 


Dikatakan Sudarmadi, dengan masuknya listrik ke Desa Makalo, maka rasio desa berlistrik PLN menjadi 99,30 persen, meningkat 0,08 persen dari kondisi Desember 2019. 


“Awalnya kami berencana melakukan energize tepat pada Hari Listrik Nasional, namun ternyata semangat luar biasa dari rekan-rekan di lapangan, sehingga progres pekerjaannya selesai lebih cepat dan bisa kami lakukan energize pada September,” ungkap Sudarmadi.


Program listrik pedesaan merupakan usaha mewujudkan rasio elektrifikasi desa 100 persen di Kabupaten Kepulauan Mentawai..

 

“Meskipun banyak tantangan dan kendala yang ditemui di lapangan, namun tidak mengurangi semangat petugas untuk giat bekerja. PLN menyadari tidak ada kemajuan tanpa infrastruktur yang memadai dan listrik yang mensuplai,” kata Sudarmadi.


Menurut dia, kedua hal tersebut merupakan elemen penting penggerak perekonomian, meningkatkan taraf hidup sekaligus sumber daya manusia. “Mengingat pentingnya listrik, menjadi kewajiban bagi PLN memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat,” kata dia.


Sejak awal 2020, PLN Sumbar serius untuk menerangi tanah seberang. PLN Sumbar memiliki program menjajak tanah pelosok, menebar energi optimisme. Khusus untuk Mentawai dilaksanakan  ekspedisi Mentawai terang.


Ekspedisi Mentawai terang disematkan untuk perjalanan yang dilakukan General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sumbar, Bambang Dwiyanto beserta rombongan. Perjalanan berlangsung  3-6 Maret 2020 di Pulau Sikakap.


Ekspedisi merupakan terobosan PLN Unit Induk Wilayah Sumbar untuk mewujudkan percepatan pemerataan pembangunan  infrastruktur kelistrikan di daerah pelosok, khususnya daerah yang berada di Kepulauan Mentawai. 


Selama tiga hari, General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sumbar bersama SRM Perencanaan, Agus Prasetyo, SRM Distribusi Arif Pramudya, SRM Niaga dan Pelayanan Pelanggan Rizki Muhammad dan seluruh tim berkeliling Pulau Sikakap, tepatnya Pagai Utara untuk melihat infrastruktur kelistrikan serta kondisi masyarakat setempat.


Ekspedisi, kata Bambang Dwiyanto, dilaksanakan mengingat sulitnya upaya melistriki 100 persen sejumlah daerah di Kepulauan Mentawai. Tahapan awal yang dilakukan berupa survei, mencari potensi energi baru terbarukan maupun memantau sistem jaringan di sekitar pulau. 

Hasil kegiatan menjadi masukan dan bahan diskusi bagi PLN untuk mencari solusi terbaik dan tercepat demi mewujudkan Mentawai 100 persen berlistrik.

 

“Rasio elektrifikasi Sumbar berada di angka 97,5 persen. Sudah cukup bagus memang. Tapi ketika kita bicara Kabupaten Kepulauan Mentawai, RE di sana masih berada di angka 66 persen,” katanya.

 

PLN menyadari, daerah yang masuk kategori 3T (terdepan, terpencil, terbelakang) itu tertinggal jauh dibanding Sumbar daratan.  “Ini harus kita atasi. Ini tanggung jawab PLN,” tutur Bambang. 


Tim ekspedisi menapaki Sikakap pada Rabu (4/3/2020) setelah semalaman berlayar dengan kapal dari pelabuhan Teluk Bungus, Padang. 


Perjalanan pertama tim adalah menuju Pasapuat. Tujuan awalnya  meninjau lokasi proyek listrik desa. Selain memantau kondisi kelistrikan di sana, GM bersama rombongan memberikan bantuan tempat wudhu sebesar Rp90 juta untuk Mushalla Ruhama, Dusun Pasapuat, Pagai Utara.

 

General manager bersama tim disambut antusias oleh warga setempat, tidak terkecuali siswa-siswi MTsN Ruhama. Rombongan disambut dengan pengalungan bunga sebagai bentuk ucapan selamat datang kepada tamu.


Bantuan pembangunan tempat wudhu Mushalla Ruhama Desa Pasapuat diserahkan Bambang Dwiyanto kepada Kepala MTsN Ruhama. Kemudian secara simbolis dilakukan peletakan batu pertama oleh Bambang Dwiyanto dan camat setempat. 


“Kami menyalurkan zakat pegawai melalui YBM PLN UIW Sumbar. Mudah-mudahan  bermanfaat dan membawa keberkahan, masyarakat dapat beribadah dengan nyaman dan tenang,” ujar Bambang Dwiyanto.


Kepala MTsN Ruhama menyampaikan rasa haru dan terima kasihnya pada YBM PLN. “Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami. Sebelumnya beberapa warga harus wudhu di rumah dulu baru ke mushalla, tapi sekarang dapat langsung berwudhu di mushalla, terima kasih YBM PLN,” ujarnya.


Perjalanan demi menerangi tanah seberang berlanjut di hari berikutnya.  Perjuangan tim ekspedisi dilanjutkan di hari kedua, Kamis (5/3/2020). Meskipun sehari sebelumnya hujan turun tiada henti, tapi tidak menyurutkan semangat para peserta melanjutkan perjalanan. 

Di hari kedua, rombongan menuju Desa Bulasat dengan menaiki kapal perintis yang khusus disediakan sebagai moda transportasi penyeberangan antar pulau yang dekat. 

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan medan jalan di pulau yang penuh dengan kerikil serta berlumpur menyebabkan perjalanan terhambat dan lebih lama. Turun dari kapal perintis, tim kemudian menggunakan sepeda motor menyusuri jalan berlumpur.


Sebelum sampai di lokasi desa, tim singgah di SDN 36 Taikako. Para guru dan siswa  siap menyambut kedatangan rombongan.  Di sana, PLN melakukan penyalaan (energized) listrik desa untuk sekolah tersebut. 


Setelah penyalaan di SD tersebut, tim ekspedisi kembali melanjutkan perjalanan menuju Desa Bulasat, dengan menempuh perjalanan lebih kurang 3,5 jam. 


Rombongan sempat menyerahkan bantuan YBM PLN UIW Sumbar sebesar Rp40 juta untuk pembangunan rumah dakwah dan kendaraan operasional Masjid Darussalam. Penyerahan dilakukan Bambang Dwiyanto dan Ketua YBM PLN UIW Sumbar Afriman kepada pengurus masjid. 


Perjalanan kemudian berlanjut ke kantor Desa Bulasat dengan beragendakan pertemuan dengan kepala desa, perangkat desa dan masyarakat setempat. Kepala Desa Firman Saogo  menyambut baik kedatangan rombongan.


“Terima kasih telah hadir dan memantau kondisi kelistrikan di desa kami. Listrik baru masuk ke desa dan terasa sekali manfaatnya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat semua keluarga di sini sudah berlistrik,” ujarnya. 


Selesai pertemuan, rombongan mengunjungi PLTD Seay Baru untuk melihat kondisi pembangkit serta bertemu dengan pejuang kelistrikan di sana. 


“Melihat perjuangan rekan-rekan di sana, semakin menambah untuk mendistribusikan listrik hingga seluruh pelosok. PLN akan mencari solusi agar jaringan listrik bisa menjangkau seluruh masyarakat, “ ujar Bambang.


Demi menerangi Mentawai, pimpinan dan karyawan PLN Sumbar rela mengarungi lautan dan menempuh jalan berlumpur di daerah pelosok. Tujuannya, agar rakyat di sana bisa menikmati listrik yang dialiri PLN secara penuh.


Walau fokus menerangi tanah seberang, sepanjang 2020, PLN Sumbar tak menepikan listrik bagi daerah terisolir di Sumbar daratan.


Tepat 29 April 2020, PLN Unit Induk Wilayah Sumbar mengalirkan tenaga listrik (energize) ke sembilan desa. Pasokan listrik ini menerangi kurang lebih 303 kepala keluarga di desa-desa tersebut. 


Desa-desa itu merupakan daerah terisolir sekaligus juga yang pertama kali menikmati listrik PLN. Desa-desa itu, Tiku Limo Jorong (Agam), Manggopoh (Agam),Tanjung Balik Sumiso (Solok), Malakopak (Kepulauan Mentawai), Bulasat (Kepulauan Mentawai), Surian (Solok), Inderapura (Pesisir Selatan), Sungai Naniang dan Andiang (Limapuluh Kota). 

PLN membangun total 62,03 kms jaringan tegangan menengah (JTM), 43,75 kms jaringan tegangan rendah (JTR) dan 16 gardu berkapasitas total 1100 kVA yang tersebar di daerah-daerah tersebut.


Kepala Dinas ESDM Sumatera Barat yang melalui Kepala Bidang  Energi dan Ketenagalistrikan Helmi Heriyanto, menyatakan pihaknya mengapresiasi PLN dengan tetap aktif menerangi desa-desa yang tersebar di seluruh penjuru Sumatera Barat. 


Executive Vice President Pengembangan Regional Sumatera, Budi Pangestu menyatakan pihaknya masih akan merealisasikan desa berlistrik di beberapa wilayah lain di Sumatera Barat. Budi juga mengajak seluruh stakeholder untuk ikut bersinergi dalam mewujudkan 100 persen desa berlistrik tersebut.


“Rasio desa berlistrik Sumatera Barat 99,22 persen dan RE PLN 97,95 persen dan RE total 98,50 persen menuju 100 persen,” ujar Budi


Sahniar, warga Manggopoh menyampaikan rasa terimakasihnya kepada PLN atas dedikasinya melistriki desanya. 


“Terimakasih PLN. Dulu kami kesulitan mendapatkan listrik, sekarang sudah ada listrik dan bisa merasakan program listrik gratis dari pemerintah. Saya jadi dipermudah dalam hidup sehari-hari.” ungkap Sahniar. (Edwardi)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama