Agam Keluar dari Zona Merah


Jasman Rizal


PADANG-Terhitung Minggu (23/5/2021) yang juga merupakan pekan ke-63 pandemi, Satgas Covid-19 Sumatera Barat menyebut  Agam di zona merah.

Satgas Covid-19 Sumatera Barat pada Minggu (30/5/2021), menyebut tak ada lagi zona merah di Sumbar. Agam berada di  zona oranye. 

Berdasar data terbaru, tak ada lagi zona merah (risiko penyebaran tinggi) di Sumbar, seperti sepekan lalu. Sebanyak 15 daerah masuk kategori zona oranye (risiko penyebaran sedang) dan empat daerah lainnya di zona kuning (risiko penyebaran rendah).

Menurut juru bicara Satgas Covid-19 Sumatera Barat, Jasman, pembagian zonasi tersebut berdasar hasil perhitungan 15 indikator data onset pada minggu ke-63 pandemi covid-19 di Sumbar oleh Satgas. Menurutnya, zonasi tersebut berlaku satu pekan mulai 30 Mei 2021 sampai dengan 5 Juni.

Daerah yang menduduki zona oranye (skor 1,81 – 2,40), Sijunjung (skor 2,36), Padang Panjang (skor 2,34), Padang (skor 2,31), Payakumbuh (skor 2,26), Bukittinggi (skor 2,23), Pesisir Selatan (skor 2,23), Tanah Datar (skor 2,17), Kota Solok (skor 2,14), Padang Pariaman (skor 2,11), Pasaman (skor 2,09), Kabupaten Solok (skor 2,08), Limapuluh Kota (skor 2,03), Dharmasraya (skor 2,02), Pasaman Barat (skor 2,02) dan Agam (skor 1,84).

Sedangkan daerah yang berada di zona kuning (skor 2,41 – 3,0), Kota Pariaman (skor 2,66), Kepulauan Mentawai (skor 2,49), Solok Selatan (skor 2,49) dan Sawahlunto (skor 2,42).

Jika dilihat trend skor secara keseluruhan, telah terjadi perbaikan penanganan covid-19 di berbagai daerah. Keseriusan satgas kabupaten/kota melakukan berbagai upaya pemutusan mata rantai Covid-19 semakin menunjukkan hasil yang baik.

"Satgas kabupaten/kota diharapkan secara rutin dan berkala melakukan razia dan penindakan pelanggaran protokol kesehatan baik kepada perorangan maupun perusahaan dan institusi yang diatur dalam Perda Provinsi Sumatera Barat Nomor 6/2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru dan diharapkan Satgas kabupaten/kota dapat melakukan berbagai inovasi yang berlandaskan kearifan lokal dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19, seperti adanya Nagari Tageh atau kongsi covid," harap Jasman. (*)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama