Seni Ukir Berbahan Kayu di Desa Lolomboli Butuh Perhatian Pemerintah

 Kerajinan kayu yang menanti bantuan pemerintah.



GUNUNGSITOLI
-Seni pahat atau seni ukir memang kurang dikenal di Kota Gunungsitoli. Namun, salah satu warga bernama Febrianus Yaman Zebua, warga Desa Lolomboli, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara sudah lama menekuni keterampilan seni ukiran yang terbuat dari bahan kayu.

Semula, Pebrianus Yaman Zebua hanya iseng mengukir sembarang pohon kayu. Lambat laun, Kayu jati dan mahoni menjadi sasarannya disebabkan kedua kayu tersebut merupakan kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya.

"Meskipun keras dan kuat, kedua kayu ini mudah dipotong dan dikerjakan. Selain itu, sangat tahan terhadap serangan rayap," ujar Febrianus Yaman Zebua, Jumat (11/6/2021) di kediamannya.

Dikatakannya, ukiran kayu dibuatnya memiliki variasi corak batik yang beragam mulai dari jenis burung garuda, burung elang, dudukan meja, ukiran naga, asbak rokok, mangkok dan berbagai ukiran lainnya sesuai kebutuhan pasar dengan harga bervariasi mulai dari Rp100 ribu sampai Rp4 juta.

"Saya mulai mengguluti seni ukiran seni ini sejak tujuh tahun silam sampai sekarang. Namun, selama ini kurang diketahui masyarakat luas karena pengaruh aksesoris yang saya miliki. Setelah saya punya HP android dan sedikit demi sedikit mulai banyak pemesanan," cetusnya.

Pria paruh baya ini membutuhkan proses pengerjaan yang agak lama. Apalagi, dengan proses pembuatan yang masih mengandalkan keterampilan tangan, waktu pengerjaan ditentukan oleh ukuran dan tingkat kerumitannya.

"Namun tidak perlu khawatir. Meski waktunya lama, dari sisi kualitas sangat terjaga karena kami tidak ingin konsumen kecewa. Kerajinan ini butuh ketekunan dan ketelitian sehingga produk yang dihasilkan Sempurna dan memuaskan konsumen, " tutur Febrianus Zebua.

Pebrianus Zebua mengaku menemui sejumlah kendala selama ini sehingga kapasitas produksinya terbatas karena dikerjakan secara manual. Dirinya berharap kepada Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui Dinas Koperasi dan UMK serta Dinas Perindag dapat memperhatikan nasib para seniman kecil seperti dirinya agar lebih berkembang dan maju, terutama berkaitan dengan modal usahanya.

"Kalau karya seni kita terkenal. maka nama Gunungsitoli bahkan Kepulauan Nias akan menjadi harum," katanya. (YAMONI)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama