Kematian Anak Indonesia Akibat Covid-19 Meningkat




JAKARTA-Indonesia kembali mencatat rekor kematian akibat Covid-19 sebanyak 1.566 kasus pada Jumat.Menurut data yang dirilis Satuan Tugas Penanganan Covid-19, total kasus meninggal mencapai 80.598.

Sebanyak 569.901 pasien Covid-19 masih dirawat dan menjalani isolasi mandiri pada Jumat kemarin. Sedangkan, 267 ribu orang lainnya berstatus sebagai suspect.

Jawa Barat melaporkan kasus tertinggi dalam 24 jam terakhir sebanyak 8.925, diikuti Jakarta 8.033, dan Jawa Timur 6.912. Sedangkan angka kematian tertinggi dalam 24 jam terakhir terjadi di Jawa Tengah sebanyak 446 dan di Jawa Timur 349.

Terkait program vaksinasi nasional, Indonesia telah menyuntikkan total 60,8 juta dosis vaksin. Sebanyak 43,7 juta orang telah menerima dosis pertama dan 17,15 juta orang telah disuntik dua dosis dari total target vaksinasi 208,2 juta orang.

Meningkat

Ketua IDAI Aman Bhakti Pulungan mengatakan lebih dari 100 anak meninggal dunia per minggu dalam tiga minggu terakhir akibat infeksi SARS-CoV-2.

“Mayoritas yang meninggal itu adalah balita, sedangkan 30 persen lainnya remaja antara 10 sampai 18 tahun,” kata Aman kepada Anadolu Agency, Jumat.

Indonesia, kata dia, juga masih menjadi negara dengan prevalensi kasus kematian anak akibat Covid-19 yang paling tinggi di dunia. “Saat ini iya, Indonesia masih jadi yang tertinggi di dunia,” tutur Aman yang dikutip dari ihram.co.id.

Aman mengatakan sebagian anak yang meninggal setelah terinfeksi Covid-19 memiliki penyakit penyerta (komorbid). Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak-anak mereka mengidap penyakit tersebut.

“Salah satunya yang tidak disadari oleh orang tua di Indonesia itu obesitas, diabetes juga lengah, lalu TBC padahal angka penyakit TBC kita ini nomor dua di dunia,” tutur Aman.

Selain itu, krisis yang terjadi di fasilitas kesehatan juga berdampak pada sulitnya anak mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.

Fasilitas kesehatan yang hampir kolaps membuat banyak pasien harus mengantre hingga tiga hari di Instalasi Gawat Darurat (IGD) demi mendapatkan perawatan.

“Tidak mungkin anak-anak menunggu begitu lama di IGD, sementara tidak semua rumah sakit mempunyai IGD atau ruang rawat khusus anak. Jadi banyak yang kadang kita terlambat (menangani) pada saat ini,” ujar dia.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan 12,8 persen atau sekitar 388 ribu dari 3,03 juta kasus positif yang dilaporkan hingga Kamis terjadi pada anak berusia 0-18 tahun.

Selain itu, 1 persen atau sekitar 790 kasus dari total 79.032 kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia merupakan anak-anak.

IDAI menduga kasus positif maupun kasus meninggal akibat Covid-19 pada anak yang sebenarnya terjadi lebih tinggi dibandingkan data yang dilaporkan secara resmi.

Data yang ada sejauh ini menunjukkan mayoritas kasus kematian pada anak terjadi di Pulau Jawa, namun Aman mengatakan bukan berarti kasus kematian di luar Jawa lebih rendah.

Hal itu disebabkan oleh rendahnya tes, telusur kontak, serta kesadaran untuk mendeteksi dini infeksi Covid-19 pada anak-anak di Indonesia, terutama di daerah-daerah di luar Pulau Jawa.

“Di luar Jawa apalagi di tempat yang testing dan tracing-nya sulit tentu bisa jadi saat meninggal juga tidak tahu apakah karena Covid-19 atau bukan,” tutur Aman.

“Kalau saya bisa bilang, data yang sekarang ini masih under reported,” lanjut dia.

Aman juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terkait risiko Covid-19 pada anak sehingga menempatkan anak pada posisi yang rentan terinfeksi seperti dibawa berjalan-jalan, ke kerumunan, dan tanpa menggunakan masker.

IDAI juga merekomendasikan agar para orang tua segera mendaftarkan anak-anak mereka yang telah berusia 12 tahun ke atas untuk mendapatkan vaksin Covid-19.

Sejauh ini, kata dia, belum ada laporan Kejadian Ikutan Pasca-imunisasi (KIPI) yang serius pada anak. Sebanyak 622 ribu remaja berusia 12-18 tahun di Indonesia telah menerima vaksin Covid-19 sejauh ini dari target sebanyak 26,7 juta orang. (*)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama