Muncul di Google Doodle, Sariamin Ismail, Novelis Asal Talu


Ilustrasi Sariamin Ismail yang muncul sebagai Google Doodle hari ini.


PASAMAN BARAT-Masyarakat Pasaman Barat boleh bangga. Ada nama besar dari daerah itu kini muncul di Google Doodle hari ini. Bila membuka Google, ada perempuan berkerudung di bagian atas laman Google.


Wanita itu adalah Sariamin Ismail. Ia merupakan novelis perempuan pertama Indonesia yang lahir di Talu, Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Sebelum pemekaran, Talu bergabung dengan Pasaman.

Dilansir dari wikipedia, Google Doodle adalah perubahan logo khusus dan sementara di beranda Google yang dimaksudkan untuk memperingati liburan, acara, prestasi, dan tokoh sejarah terkemuka. Google Doodle pertama menghormati edisi 1998 dari acara tahunan Burning Man yang telah berjalan lama di Black Rock City, Nevada, dan dirancang oleh rekan pendiri Larry Page dan Sergey Brin untuk memberi tahu pengguna tentang ketidakhadiran mereka jika seandainya server mengalami crash.

Google Doodles berikutnya dirancang oleh kontraktor luar hingga 2001, ketika Page dan Brin meminta petugas hubungan masyarakat Dennis Hwang untuk merancang logo untuk Hari Bastille. Sejak itu, tim karyawan yang disebut "Doodlers" telah mengatur dan menerbitkan Doodles.

Awalnya, Doodles bukan animasi atau hyperlink - mereka hanya gambar dengan teks melayang menggambarkan subjek atau mengekspresikan ucapan selamat liburan. Orat-oret meningkat dalam frekuensi dan kompleksitas pada awal 2010-an. Pada Januari 2010, Doodle animasi pertama menghormati Sir Isaac Newton.

Doodle interaktif pertama muncul tak lama setelah merayakan Pac-Man dan hyperlink juga mulai ditambahkan ke Doodles, biasanya menghubungkan ke halaman hasil pencarian untuk subjek Doodle. Pada 2014, Google telah menerbitkan lebih dari 2.000 Doodles regional dan internasional di seluruh halaman beranda-nya,[6] sering menampilkan artis tamu, musisi, dan kepribadian. Pada 2019, tim "Doodlers" telah menciptakan lebih dari 4.000 doodle untuk beranda Google di 

Selain merayakan banyak acara dan hari libur terkenal, Google Doodles merayakan hari ulang tahun seniman dan ilmuwan, termasuk Mary Somerville, Andy Warhol, Albert Einstein, Leonardo da Vinci, Rabindranath Tagore, Louis Braille, Ella Fitzgerald, Percival Lowell, Edvard Munch, Nikola Tesla, Béla Bartók, René Magritte, Norman Hetherington, John Lennon, Michael Jackson, Vladimir Dakhno, Robert Moog, Akira Kurosawa, Satyajit Ray, H. G. Wells, Freddie Mercury, Samuel Morse, Hans Christian Ørsted, Mahatma Gandhi, Dennis Gabor, Édith Piaf, Constantin Brâncuși, Antonio Vivaldi, Abdel Halim Hafez, Jules Verne, Leonhard Euler, Lucille Ball, Hedy Lamarr, dan James Welch, di antara lebih dari 9.000 lainnya. Kemunculan desain logo Lowell bertepatan dengan peluncuran produk Google lainnya, Google Maps. 

Google Doodles juga digunakan untuk menggambarkan acara besar di Google, seperti hari jadi perusahaan itu sendiri.Perayaan peristiwa bersejarah adalah topik umum Google Doodle lainnya termasuk desain bata Lego untuk merayakan ulang tahun ke-50 blok Lego yang saling terkait. Beberapa Google Doodles terbatas pada beranda Google negara tertentu sementara yang lain muncul secara global.

Dikutip dari wikipedia, Sariamin Ismail lahir 31 Juli 1909 atau tepatnya 112 tahun lalu. Dalam karyanya, ia sering memakai nama samaran Selasih dan Seleguri, atau gabungan kedua nama Selasih Seleguri.

Novel pertamanya berjudul Kalau Tak Untung terbit pada 1934. Konon, inspirasi novel ini adalah kisah nyata hidupnya. Yakni tunangannya yang menikahi wanita lain serta kisah dua sahabat kecinya yang saling jatuh cinta namun tak bisa bersatu. 

Pada 1937, ia menerbitkan karyanya yang berjudul Karena Keadaan. Selain menulis novel, Sariamin Ismail menulis untuk sejumlah surat kabar, termasuk Pujangga Baru, Panji Pustaka, Asjarq, Sunting Melayu dan Bintang Hindia.

Bersama kepindahannya ke Kuantan sejak 1941, Sariamin duduk sebagai anggota parlemen daerah untuk Provinsi Riau setelah terpilih pada 1947. Ia terus menulis untuk sisa umurnya.

Selain menulis, Sariamin juga aktif dalam sejumlah organisasi. Dalam rentang 1928-1930, ia mengetuai perkumpulan pemuda Islam Jong Islamieten Bond bagian wanita untuk wilayah Bukittinggi.

Pada 1930, Sariamin menjadi wartawan dan penulis yang “berani” di majalah perempuan Soeara Kaoem Iboe Soematra. Ia mengutuk poligami dan menekankan pentingnya hubungan keluarga inti di Minangkabau.

Dalam surat kabar Harian Persamaan, Sariamin mengkritik ketidakadilan peraturan gaji bagi pegawai wanita, terutama guru. Sariamin Ismail diketahui meninggal di Pekanbaru pada 15 Desember 1995 dalam usia 86 tahun. (*)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama