Kapan Lagi Ada Kapal ke Padang?

Kapal Pelni yang dirindu urang awak. (Pelni)



PADANG-Sebanyak empat kapal motor milik Pelni pada era 1990-an begitu akrab dengan masyarakat Sumatera Barat, KM Lawit, Kerinci, Kambuna dan Lambelu. Kapal datang dan bersandar di Teluk Bayur. Rute populer waktu itu, Tanjung Priok-Padang-Gunungsitoli. Kini, hanya kapal perintis yang tersedia di Padang.

Berawal dari tiket murah yang diberikan pesawat pada awal 2000-an, pelan-pelan kapal mulai ditinggalkan. Pengguna transportasi beralih ke pesawat. Nasib serupa juga dialami bus yang mulai pula ditinggalkan penumpangnya. Sejak tiket pesawat murah, sudah mulai jarang empat kapal tersebut berlabuh di Teluk Bayur.

Andri Besman, warga Padang yang kerap menggunakan jasa kapal ke Tanjung Priok rindu kehadiran kapal motor Lambelu, Kerinci, Lawit dan Kambuna. "Kapan lagi ada kapal ke Padang," kata dia pada liputankini.com, Senin, 26 Juli 2021.

Begitu kapal bergerak dari dermaga Teluk Bayur, dari ruang kemudi kapal diputar lagu Teluk Bayur. Suara emas Ernie Djohan tersebut menggema ke seluruh ruang-ruang kapal dan sampai terdengar hingga dermaga. 

“Selamat tinggal Teluk Bayur permai
Aku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan suratmu setiap minggu
Kan ku jadikan pembunuh rindu

Lambaian tanganmu kurasakan ngilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Air mata berlinang tak terasa kan olehku
Nantikanlah aku di Teluk Bayur”


Mendengar lagu itu, tak sedikit yang warga menangis, apalagi jika melihat orang tua, sanak saudara dan pacar yang melambaikan tangan di dermaga sebagai pertanda selamat jalan. Aduhai memang!

Menurut Andri, tiap moda transportasi memiliki keunikan dan memberikan kesan yang berbeda. Bila dengan kapal, bisa menikmati alam. Syahdu menikmati sunset di tengah laut, sambil menyeruput kopi. Selain itu, bisa berinteraksi dengan masyarakat kepulauan. Dia mengenang, dulu ketika berlayar bisa berkenalan dengan warga Gunungsitoli, sebab kapal itu ke Gunungsitoli dulu, baru balik ke Teluk Bayur dan kemudian lanjut ke Jakarta. 

Di kapal, kata dia, terasa Indonesia banget. Penumpang yang naik di Padang maupun Gunungsitoli, ada yang melanjutkan perjalanan ke Tanjung Perak, Surabaya. "Tak sedikit pula masyarakat dari Indonesia Timur berada dalam perjalanan itu," kata Andri.

Saling kenal dan berinteraksi dengan suku yang berbeda di kapal, membuktikan Indonesia memang memiliki beragam etnis dan suku. Di laut, anak bangsa saling kenal dan akan makin mengukuhkan semangat keindonesiaan.

Sensasi lain yang didapatkan dengan berlayar, kata Andri, ada unsur pariwisata juga. Selama perjalanan bertemu dengan pulau-pulau kecil, nelayan yang mencari ikan. Panorama alam itu tak akan didapatkan bila menggunakan moda transportasi lain. "Perjalanan dengan kapal sesuatu banget," ujar Andri Besman yang kini rindu naik kapal ke Jakarta di tengah makin kerasnya persaingan moda transportasi.

Para pedagang pakaian juga menjadi fans berat empat kapal milik Pelni itu. Pasar Tanah Abang sudah lama akrab dengan masyarakat Sumatera Barat. Bukan lantaran banyak urang awak yang jadi pedagang di sana, namun para pedagang pakaian di Padang maupun kawasan Sumatera Barat lainnya rata-rata membeli pakaian di Tanah Abang, kemudian dijual lagi. 

Tiap berbelanja, barang diangkut dalam jumlah besar. Pada 1990-an, hanya dengan kapal bisa membawa barang demikian banyak dengan harga yang terbilang murah. "Kalau dengan pesawat tak kuat di ongkos, sebab barang ditimbang," kata Nazwir, pedagang pakaian era 1990-an kepada liputankini.com.

Dikatakannya, kapal merupakan moda transportasi yang pas buat pedagang yang membawa banyak barang. Dengan ongkos angkut tak terlalu mahal, makanya biaya jadi murah dan ketika dijual tak terlalu berat bagi konsumen. "Baguslah kalau ada lagi kapal ke Padang," katanya, ketika ditanya soal apakah perlu lagi kapal-kapal Pelni melayani Padang-Jakarta.

Menurut Nazwir, bila melakukan perjalanan dengan kapal, jarak yang jauh tak terasa capek. Ada kamar untuk istirahat. "Kapal memberikan pilihan kelas. Kita yang memilih sesuai dengan kemampuan," katanya.

Bukan cuma warga Sumatera Barat yang rindu dengan kehadiran kapal Pelni. Dua warga Gunungsitoli, Sumatera Utara, Arlianus Zebua dan Yamoni Laoli, juga rindu berlayar lagi bila ke Jakarta.

Menurut Arlianus Zebua, warga Kepulauan Nias bila hendak ke Jakarta, naik pesawat dulu ke Kualanamu, kemudian lanjut ke Jakarta. Kalau mau menggunakan transportasi darat, naik kapal ke Sibolga, kemudian disambung dengan bus. "Baguslah kalau ada pelayaran lagi ke Jakarta," katanya.

Hal senada dikemukakan Yamoni Laoli. Dia yakin, banyak orang merindukan pelayaran tersebut. "Mudah-mudahan terealisasi lagi kapal ke Jakarta dari Gunungsitoli," katanya.

Dikatakan Yamoni, tiap moda transportasi memiliki kelebihan tersendiri. Perjalanan dengan kapal memberikan banyak kenangan. "Dengan kapal yang disediakan pemerintah, membuktikan masyarakat kepulauan diperhatikan oleh negara," katanya.


Menjaga konektivitas, berjuang melawan pandemi

Indonesia merupakan negara kepulauan. Mau tak mau transporasi laut menjadi keharusan. Pada 15 Januari 2016, pemerintah menugaskan PT Pelni melayani angkutan laut perintis tahun 2016. Penugasan PT. Pelni tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2/2016 tentang Penyelenggaran Kegiatan Pelayanan Publik Kapal Perintis Milik Negara. 

Untuk menjalankan peraturan presiden tersebut, menteri perhubungan menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM Nomor 6/2016 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Pelayanan Publik Kapal Perintis Milik Negara.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Bobby R. Mamahit kepada wartawan, Jumat 15 Januari 2016 di Jakarta menjelaskan, penugasan kepada Pelni tersebut karena Pelni memiliki pengalaman angkutan penumpang dan barang serta memiliki manajemen dan sumber daya yang memadai. PT. Pelni juga merupakan perusahaan BUMN di bidang angkutan yang memiliki jaringan terbesar.

Dikutip dari dephub.go.id, Dirjen Bobby mengatakan PT. Pelni selama ini sudah mempunyai standar pelayanan kepada penumpang termasuk untuk perawatan kapal. Dengan pelayanan tersebut, jaringan utama pelayaran Pelni akan terkoneksi dengan jaringan kapal perintis, khususnya di kawasan timur Indonesia. Sehingga diharapkan kualitas dan kontinuitas pelayanan kepada penumpang tetap terjaga sepanjang tahun dan tidak mengalami gangguan yang dapat menurunkan pelayanan.

Kiprah Pelni dalam menjaga konektvitas di Indonesia tak perlu diragukan lagi. Logistik dan transportasi ke daerah pulau terluar pun dilakukan.  Ketika berbagai sektor ambruk akibat diamuk pandemi Covid-19, Pelni tetap membantu agar ekonomi di negeri ini tak makin tergilas dan tenggelam oleh badai Corona. 

Dikutip dari kontan.co.id, sepanjang semester pertama 2021, kinerja angkutan barang PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT Pelni terbilang ciamik. Perusahaan mengerek kenaikan produksi hingga 85 persen. Capaian tersebut tak lepas dari rute potensial KM Logistik Nusantara 5 (Trayek T-10) yang memberikan kontribusi terbesar. 

Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut PT Pelni, Yahya Kuncoro menyampaikan, rute T-10 yang melayari jalur Surabaya ke arah kepulauan sekitar Ternate dapat dimanfaatkan secara optimal. 

"Pencapaian angkutan barang yang positif ini tentu memberikan sedikit nafas panjang bagi perusahaan yang terkena hantaman telak akibat berbagai pembatasan akses masuk penumpang akibat situasi yang berkembang saat ini," ujar Yahya, Jumat (23/7/2021).

Dari sembilan trayek tol laut, rute dengan produksi tertinggi di paruh pertama ini ditempati oleh KM Lognus 5 (T-10) dengan total 1.580 TEUs selama periode Januari hingga Juni 2021.

Rute T-10 sendiri melayani rute Tanjung Perak–Tidore–Morotai–Galela–Maba/Buli–Weda–Tg.Perak. Trayek dengan padat muatan selanjutnya adalah KM Logistik Nusantara 3 (T-15) menyumbang sebanyak 1.058 TEUs muatan dengan rute Tg. Perak – Makassar – Jailolo – Morotai – Tg.Perak. Pada semester 1-2021 kapal barang PT Pelni telah mengangkut 6.005 TEUs muatan barang yang terdiri dari 3.704 TEUs muatan berangkat dan 2.301 TEUs muatan balik. 

“Kebijakan PPKM Darurat di masa pandemi Covid-19 tidak menyurutkan kinerja angkutan barang PT Pelni. Hal ini patut disyukuri meskipun terjadi tekanan pada kinerja angkutan penumpang. Jika dibandingkan 2020, Perusahaan hanya mengangkut sebanyak 3.242 TEUs muatan barang di semester pertama,” terang Yahya.

Adapun, muatan berangkat biasanya diisi dengan bahan sembako dan produk industri seperti minyak goreng, gula, mie instan, air mineral hingga makanan ringan. Sedangkan untuk muatan balik saat ini juga sudah mengalami kenaikan, pemerintah daerah telah menunjukkan komoditas unggulannya di masing-masing daerah, yaitu trayek dengan muatan balik terbanyak pada T-10 yang menyumbang muatan balik sebanyak 551 TEUs.

Pada paruh pertama tahun ini, muatan barang di kapal penumpang juga mengalami kenaikan. Tercatat sepanjang semester 1-2021, General Cargo pada 26 kapal penumpang naik 33 persen atau naik sebanyak 4.062 ton sedangkan muatan barang pada kontainer kapal penumpang naik 27 persen atau naik sebesar 1.180 TEUs dibanding 2020 pada periode yang sama.

Muatan kendaraan di kapal penumpang juga menunjukkan tren positif, naik 56 persen atau naik 2.219 kendaraan dibandingkan pada semester 1-2020. Pertumbuhan muatan tertinggi di semester 1-2021 adalah pada muatan Redpack 355.466 kilogram, yaitu naik 177.572 kilogram atau naik 99.8 persen jika dibandingkan semester 1-2020.

Penumpang meningkat

Di tengah kondisi pandemi PT Pelni masih mengangkut 1.234.954 pelanggan di paruh pertama 2021. Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT Pelni, O.M. Sodikin menjelaskan, secara akumulatif jumlah pelanggan kapal Pelni pada armada kapal penumpang dan kapal perintis di semester I/2021 tercatat naik 3,2 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 sejumlah 1.195.938 pelanggan. 

Sodikin merinci jumlah pelanggan pada kapal penumpang sepanjang semester I/2021 tercatat 968.498 pelanggan. Jumlah tersebut turun 2,7 persen jika dibandingkan dengan semester I/2020 yang mencapai 995.749 pelanggan. Jumlah penumpang kapal perintis pada periode semester I/2021 naik 33 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu atau dari 200.189 pelanggan menjadi 266.456 pelanggan. 

"Penurunan penumpang pada armada kapal penumpang di semester I terjadi karena terdapat kebijakan pengendalian mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19 seperti peniadaan angkutan mudik 2021, penutupan sejumlah pelabuhan dalam rangka PSBB, hingga pengetatan persyaratan perjalanan dengan transportasi laut," ungkapnya. 

Dalam catatan PT Pelni, dalam semester pertama, lima rute padat kapal penumpang, Belawan-Pulau Batam dengan jumlah penumpang mencapai 18.428 pelanggan, disusul dengan rute ParePare-Tarakan (17.826), Pulau Batam-Belawan (14.341), Makassar-BauBau (11.845) dan Tarakan-ParePare (11.809). 

Sementara itu, lima rute terpadat kapal perintis meliputi rute Tua Pejat-Teluk Bayur dengan jumlah penumpang mencapai 4.411 pelanggan, Kalianget - Masalembo (3.795), Tanjung Wangi-Sapeken (3.630), Banda-Amahai (3.485), serta Masalembo-Kalianget (3.307). 

"Sesuai ketentuan selama masa pandemi, kapal Pelni hanya mengangkut penumpang 50 persen dari kapasitas terpasang. Hal tersebut dilakukan agar pelaksanaan prokes tetap terjaga selama pelayaran berlangsung," tambah Sodikin. 

Sodikin menambahkan Pelni terus menjaga performa ketepatan waktu (on time performance/OTP) dalam kegiatan operasionalnya walaupun ditengah keterbatasan kegiatan selama pandemi Covid-19. Pada semester I/2021, OTP kapal penumpang PELNI tercatat  96,65 persen dan kapal perintis tercatat sebesar 95,22 persen. 

"Perusahaan akan terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh pelanggan dan berupaya untuk menjaga on time performance dalam setiap kegiatan operasional armada kapal," terangnya yang dikutip dari pelni.co.id, 4 Agustus 2021. 

Nah, masyarakat menanti kapal ke Padang yang akan berlayar ke Jakarta. Bisakah Pelni? (edwardi)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama