Desy, Ibu Rumah Tangga yang Sumbang Emas untuk Papua

 Desy Rzahayu 


TIMIKA-Penghujung September 2021 menjadi  catatan sejarah sangat berharga bagi Desy Rzahayu.  Ibu rumah tangga dua anak ini membuktikan dirinya bahwa masih kuat dan layak  menyemat medali emas di lehernya untuk Papua dalam laga final PON XX setelah  mengalahkan pejudo Jawa Barat, Ardelia Yulli Fradivtha pada babak final di Venue Cabor Judo, Gedung Eme Neme Yauware, Kamis (30/9).

Desy tampil dalam kelas -63 Kg putri. Desy Rahayu, Jumat (1/10/2021) merasa bangga dalam laga bergengsi level tertinggi tingkat nasional ini boleh memberikan penampilan terbaik untuk Papua.

PON Papua menjadi kali keempatnya mengejar prestasi di dunia olahraga judo. Sebelumya, ia  mengikuti PON di Kalimantan Timur tahun 2008. Lalu empat tahun berikutnya mengikuti PON Riau tahun 2012 dan PON tahun 2016 tanpa mengoleksi medali. Atas kegagalan ini menjadi pemacu agar dirinya terus bangkit berjuang dengan berlatih lebih ulet.

Sebagai ibu rumah tangga sempat vakum latihan fokus mengurus keluarga. Ia baru kembali aktif di dunia judo pada tahun 2018 dan setelah memastikan lolos seleksi tim judo Papua.

Pada PON XX ini, pada babak final dirinya berhadapan atlet yang sudah  mengukir banyak prestasi, juga Anggota TNI AD terlatih. Secara fisik bisa jauh lebih kuat.

"Pertarungan terakhir itu sebenarnya saya sudah pernah ketemu juga, tapi sudah lama sekali. Saya juga sudah vakum lama," kata Desy yang dikutip dari situs resmi PON.

Dengan aktif bergabung di PON, Desy mengatur waktu agar urusan rumah tangga dan hobbi tidak berantakan serta bukan menjadi penghalang untuk berprestasi. Membuatnya kuat pilihan aktif dunia bela diri judo mendapat support dari sang suami.

"Alhamdulillah suami mendukung, kasih izin, kalau bukan berkat dia, pasti saya tidak akan ada di sini. Terimakasih banyak untuk Ketua Umum Judo Papua, untuk pelatih saya, tim, terutama supporter untuk Papua. Terimakasih banyak," katanya.

Raihan emas ini mengobati rasa lelahnya setelah kembali bergabung dengan tim judo Papua selama 1,5 tahun menjalani latihan terpusat yang penuh ketat.

"Sebenarnya dengan adanya pandemi ini berterimakasih sih, karena kita lebih fokus untuk TSC. Jadi nggak pulang pergi, keluar masuk, jadi lebih terfokus latihannya," pungkasnya. (*)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama