Pertashop, Cara Pertamina Mengembalikan Senyum Koperasi


 Pertashop beri kemudahan bagi masyarakat dan usaha kecil. (pertamina.com)



Oleh Waitlem

Pertashop tumbuh bak cendawan di musim hujan.  Lembaga penyalur dari Pertamina ini disiapkan untuk melayani konsumen yang selama ini belum terlayani oleh lembaga penyalur BBM, seperti SPBU. 


Sejak diluncurkan pada akhir 2020 lalu, Pertashop tumbuh sangat cepat. Ini tidak terlepas dari persyaratan ringan yang diberikan oleh BUMN ini. Kalau selama ini untuk membangun SPBU dibutuhkan dana dana milyaran rupiah dan persyaratan yang sulit dijangkau banyak badan usaha, Pertashop bisa dibangun dengan modal Rp250 juta dan persyaratan administrasi yang tidak terlalu sulit dipenuhi. 

Dikutip dari https://money.kompas.com (2/2/2020), kriteria mitra Pertashop bagi masyarakat yag ingin mendaftar sebagai mitra Pertashop Pertamina, yakni  memiliki legalitas usaha berbentuk badan usaha dan atau badan hukum (CV, koperasi dan PT). Memiliki kelengkapan dokumen legalitas berupa KTP, NPWP, akta perusahaan. Memiliki atau menguasai lahan untuk pengoperasian Pertashop. Mendapatkan rekomendasi dari kepala desa.

Ini tentu sangat menarik karena selama puluhan tahun, masyarakat hanya mengenal SPBU sebagai penyalur BBM bersubsidi atau BBM satu harga. Semua SPBU dikelola oleh PT (perseroan terbatas) maupun CV, dibutuhkan  modal milyaran rupiah. Sehingga selama bertahun-tahun, pertambahan SPBU di kabupaten/kota masih bisa dihitung dengan jari sampai dengan sekarang. 

Kini terbuka peluang bagi koperasi untuk bermitra dengan Pertamina dalam membangun Pertashop (Pertamina Shop) atau SPBU Mini. Peluang ini muncul di saat ekonomi Indonesia dihantam pandemi Covid-19. Pertashop hadir untuk membangkitkan ekonomi masyarakat yang sedang dihatam badai pandemi ini.


Koperasi Mati Suri

Pertamina mampu mengubah kendala dan tantangan menjadi peluang. Pertamina tidak pernah menyerah, selalu menciptakan inovasi yang selama ini mungkin tidak pernah dipikirkan oleh jutaan rakyat Indonesia. Ini sejalan dengan moto Semen Padang yakni  Kami telah berbuat sebelum yang lain memikirkan. Pertamina menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi hingga ke pelosok negeri. 

Kita memiliki puluhan ribu koperasi di Indonesia. Sekalipun tidak semuanya sehat. Banyak koperasi yang sakit atau mati suri, koperasi nyaris lumpuh. Namun bukannya tidak ada koperasi yang sehat dan tetap beroperasi dengan lancar. 

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki berjanji akan membersihkan koperasi-koperasi nakal seperti koperasi rentenir serta tempat cuci uang. 

Melalui langkah  'Reformasi Total Koperasi' yang dicanangkan pada 2014 tercatat sebanyak 40.013 koperasi di Indonesia yang tidak aktif dan nakal dibubarkan, sedangkan sisanya masih dikaji. Dari total jumlah koperasi pada 2014 atau sebelum ‘Reformasi Total Koperasi’ terdapat 212.570 unit, dan per 2018 tinggal 138.140 unit usaha (https://money.kompas.com).

Padahal koperasi ini menjadi andalan bagi masyarakat hingga pelosok negeri. Adanya KUD (Koperasi Unit Desa), yang dulu juga diberi kepercayana untuk menyalurkan pupuk bersubsidi, telah menjadikan KUD sebagai pahlawan bagi masyatakat tani. 

Pada saat itu, koperasi tumbuh dan berkembang dengan baik. Pemerintah pun setiap tahun menggelar perlombaan antarkoperasi, hingga muncul koperasi mandiri. Koperasi inilah yang terus didorong, hingga memiliki beragam usaha dan modal koperasi pun terus tumbuh dan berkembang.

Namun secara perlahan, sinar koperasi meredup. Koperasi Mandiri, yang pada awalnya tumbuh subur, ikut meredup. Koperasi mulai mati suri. Layanan terhadap anggota menurun, modal menguap entah ke mana. Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang menjadi syarat utama kokohnya koperasi tidak lagi digelar, pada akhirnya satu per satu koperasi itu benar-benar tutup dan mati, tanpa jelas tindak lanjutnya. 

Di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) misalnya, tercatat ratusan koperasi dalam kondisi tidak sehat. Menurut data, sebanyak 239 koperasi yang terdaftar, namun yang aktif hanya 153.Dari jumlah tersebut, koperasi yang sehat hanya 117. 

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, (https://mediaindonesia.com, 4 Oktober 2019) mengungkapkan, secara keseluruhan terdapat 239 koperasi dengan jumlah anggota 55 ribu lebih. Aset koperasi di Purbalingga mencapai Rp337,9 miliar dan untuk omzet mencapai Rp228 miliar lebih. 

Sementara di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sebanyak 46 koperasi mati suri. Kepala Bidang Koperasi Kabupaten Manggarai, Tarsius Asong, mengatakan koperasi-koperasi tersebut dalam tiga tahun berturut-turut tidak pernah menjalankan rapat anggota tahunan (RAT). 

Koperasi mati suri ini terjadi nyaris di seluruh wilayah Indonesia. Dalam kondisi seperti itulah, Pertamina hadir dengan program Pertashop. Kehadiran Pertashop ini membawa angin segar bagi koperasi karena bisa membangun jenis usaha baru dengan keuntungan yang lebih pasti. Apalagi beberapa koperasi yang memiliki modal milyaran rupiah, bisa membangun lebih dari satu Pertashop di lokasi yang berbeda. 

Peluang ini juga terbuka bagi Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) maupun Bumnag (Badan  Usaha Milik Nagari) yang kini sedang tumbuh mekar di seluruh Indonesia. Jika peluang ini dimanfaatkan dengan baik, tentu koperasi akan kembali tersenyum. Bumdes/Bunag pun akan semakin maju. Bisa jadi Pertashop menjadi cara bagi Pertamina untuk mengembalikan senyum koperasi. 

Apalagi Pertamina menawarkan tiga jenis skema dan spesifikasi dalam membuka Pertashop. (https://money.kompas.com). Ketiga skema tersebut yakni: 

Skema Gold yang membutuhkan modal Rp250 juta,  yang mencakup biaya Pertashop dan pengiriman. Rinciannya: Modal pembelian produk (Pertamax): Rp20 jt (Rp8.150 x 2.000 - liter/hari + biaya lain-lain). Keuntungan/liter: 850/liter (untuk sales 1-1.000 liter/hari), Estimasi pendapatan/hari: minimal 400 liter/hari Estimasi pengembalian modal maksimal 5 Tahun (tergantung pendapatan penjualan). 

Skema Platinum membutuhkan modal Rp400 juta yang mencakup biaya Pertashop dan instalasinya. Rinciannya: Modal pembelian produk (Pertamax): Rp70 jt (Rp8.400 x 8.000 liter/hari + biaya lain-lain). Keuntungan/liter: 600/liter (untuk sales min 1.001- 3.000 liter/hari) Estimasi pendapatan/hari: minimal 1.000 liter/hari. Estimasi pengembalian modal maksimal 4 tahun (tergantung pendapatan penjualan).  Dimungkinkan menjual LPG Bright Gas dan Pelumas Pertamina. 

Skema Diamond, modal yang diperlukan untuk skema ini Rp500 juta yang meliputi biaya Pertashop dan instalasinya. Rinciannya: Modal pembelian produk (Pertamax): Rp70 jt (Rp8.565 x 8.000 liter/hari + biaya lain-lain). Keuntungan/liter: 435/liter (untuk sales > 3.000 liter/hari) Estimasi pendapatan/hari: minimal 3.000 liter/hari. Estimasi pengembalian modal maksimal 3 Tahun (tergantung pendapatan penjualan).

Ketiga skema ini bisa disepakati atau diputuskan melalui RAT (Rapat Anggota Tahunan) koperasi. Apalagi Kementerian Koperasi dan UKM terus berupaya mendorong peningkatan kemitraan terbuka dengan ragam mitra baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Salah satunya penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Pertamina tentang pemberdayaan koperasi dan UMKM.

Deputi Bidang Perkoperasian Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi mengatakan bahwa Koperasi dan UMKM didorong menjadi mitra strategis dalam menjamin ketersediaan dan pemerataan distribusi energi di Indonesia dengan menjadi pengelola outlet/agen Pertamina Shop (https://www.idxchannel.com, 12/5/2021).

Tercatat, saat ini, terdapat 13 koperasi di 7 provinsi yang mengantongi izin usaha tambahan sebagai pengelola outlet/agen Pertashop. Koperasi tersebut adalah KUD Sarasah Jrg Pasir Jaya, Koperasi Konsumen Dua Putri Mandiri, Koperasi Mesrania, Koperasi LKM DAPM Mandiri Makmur, Koperasi Gema Indonesia Maju, Koperasi Pemasaran Warung Karya, Koperasi Bina Sejahtera Sampora, Koperasi Bumi Rejeki, Koperasi Nur Lintang Falah, Koperasi Krama Subak Lumbung Sari Temesi, Koperasi Produksi Kristar, Koperasi Bumdes Matilango, dan KUD Wanasari.

Jumlah ini tentu masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah Pertashop yang ada. Di Sumatera Barat misalnya, hingga akhir Oktober 2021 sudah beroperasi 200 outlet Pertashop, yang tersebar di semua kabupaten/kota, tetapi hanya satu yang dikelola oleh koperasi yakni   Pertashop KUD Sarasah Jrg Pasir Jaya, yang berada di Ramabatan, Kabupaten Tanah Datar. Padahal di Sumbar terdapat ratusan koperasi. 

Padahal, kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan Pertamina sangat potensial untuk dikembangkan melalui penyusunan Perjanjian Kerja Sama. Hal itu terkait program kemitraan Pertamina dengan koperasi sebagai pengelola outlet/agen Pertashop melalui pemberian harga khusus berupa diskon pembelian pertama dari suplai Pertamax atau biaya investasi yang lebih ringan. Selain itu, terdapat juga program pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak bagi nelayan (SPDN/Solar Packed Dealer Nelayan) dari Pertamina (https://idxchannel.com).

Sejak awal, Pertamina sudah menggandeng Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KemenkopUKM) untuk mempercepat penambahan outlet Pertashop  di pelosok daerah. Pertashop merupakan lembaga penyalur Pertamanina skala kecil yang disiapkan untuk melayani kebutuhan konsumen BBM Non Subidi, Elpiji Non Subsidi, pelumas, dan produk Pertamina ritel lainnya yang tidak atau belum terlayani oleh lembaga penyalur Pertamina lain (https://www.republika.co.id, 21 Desember 2020). 

KemenkopUKM juga akan membantu Pertamina memberdayakan Koperasi dan UMKM dalam distribusi minyak, gas, serta energi terbarukan. Kerja sama ini untuk mempercepat pemerataan energi di seluruh penjuru negeri melalui Program BBM Satu Harga dan One Village One Outlet (OVOO). Sinergi Pertamina dan KemenkopUKM ini tertuang dalam penandatanganan Nota Kesepahaman oleh Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati , Senin (21/12). 

MenkopUKM Teten Masduki optimistis bahwa sinergi seperti ini merupakan salah satu cara terbaik untuk mewujudkan kehadiran pemerintah bagi masyarakat. Melalui Nota Kesepahaman ini, Teten Masduki memastikan jaringan Koperasi dan UMKM di seluruh daerah di Indonesia siap menjadi mitra strategis pengelola Outlet Pertashop. 

Peluang ini perlu ditindaklanjuti oleh kabupaten/kota. Dinas Koperasi dan UKM perlu mengembalikan senyum koperasi, kembali melakukan pembinaan, memaparkan program Pertamina untuk koperasi di seluruh Indonesia. Apalagi dengan adanya keinginan MenkopUKM Teten Masduki untuk mewujudkan  One Village One Outlet (OVOO). 

Program ini sangat memungkinkan terwujud karena semua desa/nagari di Indonesia  memiliki koperasi, yang sudah berbadan hukum. Jangankan One Outlet, beberapa Outlet  Pertashop sekaligus bisa dibangun. Apalagi Pertamina sudah menargetkan akan membangun Outlet Pertashop sebanyak 40.000 unit di seluruh Indonesia. 

Dirut Pertamina Nicke Widyawati menilai Koperasi sebagai mitra strategis pengelola Outlet Pertashop. Selain sudah berbadan hukum, Koperasi pasti sudah memiliki lokasi-lokasi strategis hingga tingkat desa untuk digarap menjadi lokasi Outlet Pertashop, sehingga kerja sama lebih maksimal. 

Hingga tahun 2020, jelas Nicke Widyawati, Pertamina menyasar pembangunan 4.558 Outlet Pertashop. Rencana pengembangan ke depannya, hingga tahun 2024 Pertamina menargetkan sebanyak 40 ribu Outlet Pertashop beroperasi di seluruh penjuru negeri. Karena inilah Pertamina menggandeng, bersinergi dengan KemenkopUKM sebagai salah satu kementerian strategis agar target ini tercapai sekaligus memberikan manfaat bagi pemberdayaan dan pembangunan daerah (https://www.republika.co.id, 21 Desember 2020). 

MenkopUKM Teten Masduki pun menyambut optimis kerjasama ini. Setidaknya sebanyak 86,6 persen koperasi di sektor riil berpeluang membangun kemitraan dengan Pertamina, baik itu untuk program Pertashop maupun pengembangannya di kemudian hari. Kerja sama ini juga membantu jaringan anggota Koperasi maupun pelaku UMKM di seluruh Indonesia menjadi lebih mudah mendapatkan akses energi untuk mendukung kegiatan usaha. 

Teten Masduki mencontohkan para nelayan di seluruh wilayah Indonesia yang membutuhkan program pemerataaan energi. Menurut MenkopUKM, terdapat sekitar 1.973 unit koperasi nelayan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, belum semuana dengan mudah bisa mengakses BBM untuk perahunya. Ini juga berpeluang untuk menjadi bagian dari perluasan program kemitraan pembangunan Solar Pack Dealer Nelayan (SPDN) yang sudah dimulai selama ini. 

Jumlah koperasi di luar unit koperasi nelayan tentu lebih banyak lagi. Karena itulah koperasi perlu mengambil peluang dalam kerjasama ini, sehingga kemitraan koperasi dan Pertamina terjalin dengan baik. 

Jika Pertashop menjadi cara Pertamina untuk mengembalikan senyum koperasi, mengapa koperasi harus terus murung dan seperti mati suri. Saatnya untuk bangkit karena Pertamina sudah memberikan energi untuk semua.  

Bukankah Pertamina baru saja meluncurkan moto Energizing You pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 tahun, 10 Desember 2020 lalu. Energizing You diberi makna Pertamina selalu berusaha untuk melayani masyarakat dan memberikan energinya untuk kepentingan bangsa Indonesia, tentu saja termasuk koperasi di dalamnya. (*)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama