Riza Falepi Kepala Daerah Inovatif, Memiliki Segudang Prestasi




Riza Falepi



PAYAKUMBUH–Inovasi menjadi kata yang sudah begitu melekat pada pribadi Riza Falepi. Menjabat Wali Kota Payakumbuh sejak 2012, berbagai inovasi sudah dilakukan oleh kepala daerah dua periode itu untuk kemajuan Kota Payakumbuh. Maka tak heran, Payakumbuh semakin bergerak maju dan diganjar ratusan penghargaan baik oleh pemerintah provinsi (pemprov) maupun pemerintah pusat.


Beberapa penghargaan yang berhasil diraih antara lain Leadership Award, Investment Award, Bung Hatta Award, Perpamsi Award, dan lain-lain. Payakumbuh juga dinobatkan sebagai Kota Layak Anak, Kota Sehat, Piala Adipura, Opini Keuangan WTP, Pelayanan Publik Terbaik, SAKIP BB, Perencana Pembangunan Terbaik, Pengelola Pendidikan Terbaik, Penghargaan Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU), Penyelenggara Irigasi Terbaik Nasional, dan seterusnya. Meskipun sudah banyak prestasi yang ditorehkan Riza, sepertinya masih banyak masyarakat Sumatera Barat yang belum mengenal sosok yang suka bekerja keras tanpa ekspos media ini.



Wali Kota Reza Falepi dan Wakil Wali Kota Erwin Yunaz


Harapan besar masyarakat dijawab Riza dengan kerja maksimal. Jejak-jejak inovasi dan prestasi Riza bersama jajaran bisa ditelusuri pada semua sektor kehidupan di Payakumbuh. Tak hanya di sektor layanan dasar, seperti infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Tetapi juga pada sektor pemerintahan, ekonomi, pertanian, pemuda, olahraga, dan lainnya. Semua jejaknya nyata dan bisa dinikmati masyarakat Payakumbuh.

Pada sektor keagamaan, Riza menjadi wali kota pertama yang mencanangkan Pesantren Ramadan yang belum ada pada periode pemerintahan Wali Kota Payakumbuh sebelumnya. Dia juga mencanangkan program Payakumbuh Menghafal dan menyediakan hadiah umrah bagi pelajar yang hafal Alqur’an 30 juz.

Berbagai program keagamaan lainnya juga dicanangkan mantan anggota DPD RI ini. Gerakan Subuh Berjamaah menjadi sarana dialog dan silaturahmi bagi Riza untuk menyerap aspirasi masyarakat dari masjid ke masjid di samping menumbuhkan semangat cinta masjid di kalangan generasi muda. Lalu ada program Payakumbuh Berwakaf. Program kerja sama Pemko dengan Kemenag Payakumbuh itu merupakan program pertama di Indonesia sehingga Payakumbuh dijadikan sebagai pilot project nasional.

Dalam hal infrastruktur keagamaan, keberadaan masjid yang representatif sangat dibutuhkan masyarakat Payakumbuh sebagai pusat kegiatan keagamaan. Hal itu begitu disadari Riza. Pembangunan Masjid Agung Payakumbuh sudah direncanakannya sejak awal menjabat. Lahan dan maket masjid sudah disiapkan namun keinginannya tersebut ditolak oleh DPRD Payakumbuh karena lahan yang tersedia dianggap kurang layak. 

Mantan Aktifis Masjid Salman ITB itu tak patah arang. Pembangunan Masjid Agung dialihkan ke kawasan Sawah Kareh, Kelurahan Pakan Sinayan, Kecamatan Payakumbuh Barat. Niniak mamak dan masyarakat setempat menyambut baik rencana pembangunan tersebut sehingga mulai dilakukan proses pembebasan lahan dan diperkirakan akan selesai di tahun 2022 nanti. 

Pada sektor pendidikan, Riza memberikan perhatian penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dari segi anggaran, sektor pendidikan menjadi prioritas dalam melahirkan anak didik yang berakhlak mulia. 

Alokasi anggaran pendidikan di APBD Payakumbuh bahkan mencapai 30%. Peningkatan kualitas guru dan pengajar juga menjadi fokus perhatiannya. Hasilnya, Payakumbuh mampu menjadi Pengelola Pendidikan Terbaik di Sumbar. Dari segi pembangunan di bidang pendidikan, Riza berinovasi untuk mendirikan 2 sekolah baru yaitu SMAN 5 Payakumbuh dengan konsep Boarding dan SMK 4 dengan konsep SMK Informasi Teknologi (IT).


Riza Falepi

Sektor infrastruktur Payakumbuh mengalami kemajuan sangat pesat. Riza banyak melakukan perbaikan dan pelebaran jalan sehingga jalan Payakumbuh masuk kategori baik atau mulus mencapai 95%. Berbagai pembangunan infrastruktur dilakukan seperti Normalisasi Batang Pulau, pembangunan drainase, saluran irigasi, embung, dan Water Treatment Plant (WTP) yang merupakan teknologi canggih untuk memfilter air Batang Agam menjadi air layak minum.

Berbekal kepiawaian lobi dan jaringan Riza di tingkat pusat, dia berhasil mendatangkan anggaran dari Kementerian PUPR untuk mega proyek Normalisasi Batang Agam. Anggaran senilai Rp 195 M digelontorkan pemerintah pusat untuk pembangunan terbesar yang ada dalam sejarah Kota Payakumbuh. Proyek multiyears dengan pengerjaan sepanjang 10,6 km Batang Agam itu merupakan masterpiece Riza selama memimpin Payakumbuh. 

Wali Kota Riza Falepi mempunyai kebiasaan unik dalam memantau infrastruktur. Hampir setiap akhir pekan, dia blusukan sambil bersepeda keliling Kota Payakumbuh. Dengan turun langsung, Riza mengaku lebih mengetahui persoalan daripada hanya duduk manis menerima laporan bawahannya. “Fahmul as’al nisfu jawab (paham persoalan, separuh dari jawaban),” ujarnya, Selasa(16/11) 


Riza Falepi

Setiap persoalan infrastruktur yang ditemui Riza di lapangan langsung direspon dengan kebijakan pembangunan. Perhatiannya terhadap perbaikan infrastruktur terutama irigasi sangat tinggi karena sangat dibutuhkan petani dan petani adalah profesi mayoritas masyarakat Payakumbuh. Blusukan bersepeda diiringi kebijakan pembangunan itu akhirnya membuahkan prestasi. Payakumbuh dinobatkan sebagai Penyelenggara Irigasi Terbaik Nasional.

Dalam bidang pemerintahan,  Riza berusaha keras mewujudkan Good Government. Usahanya untuk “cuci piring” birokrasi pada awal pemerintahan dan mengedepankan transparansi keuangan, diganjar opini WTP untuk pertama kalinya dalam sejarah Payakumbuh. Sejak itu Payakumbuh selalu mendapatkan opini WTP dari BPK sebanyak 7 kali berturut-turut hingga sekarang. Selain itu, dalam hal evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), Payakumbuh mampu meraih predikat BB. Dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia, hanya 20 daerah yang bernilai BB termasuk Kota Payakumbuh di tahun 2021.

Pada sektor kesehatan, Riza memutuskan untuk merehab berat bangunan Puskesmas Lamposi sehingga puskesmas tersebut bisa berdiri megah dan mendapat akreditasi utama dari Kemenkes RI. Pembenahan sarana RSUD Payakumbuh juga dilakukan. Ruang operasi dan rawat inap terus ditambah. Alhasil, Gedung Kemuning 4 lantai RSUD berdiri megah dengan fasilitas dan peralatan operasi terbaik di Sumatera Barat.

Prestasi di bidang kesehatan dibuktikan dengan penghargaan Payakumbuh sebagai Kota Sehat sebanyak 6 kali berturut-turut. Selain Dinas Kesehatan sebagai leading sector, prestasi Kota Sehat juga ditunjang oleh program Rehab Rumah Tak Layak Huni (RTLH) melalui Dinas Perumahan dan Permukiman. Sebanyak 2000 rumah sukses dibedah sehingga Kota Payakumbuh menjadi percontohan nasional dalam program ini. Dalam hal jaminan kesehatan, Riza mampu mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) dimana 96,69% masyarakat Payakumbuh telah menjadi peserta BPJS Kesehatan. Capaian itu diganjar penghargaan UHC JKN-KIS oleh Presiden RI.

Pada sektor pertanian, berbagai inovasi terus dilakukan mulai dari peningkatan kapasitas produksi padi hingga diversifikasi kepada budi daya holtikultura. Terbaru, Riza menggagas penerapan teknologi sistem pengawetan pascapanen untuk untuk produk sayuran ataupun holtikultura dengan tujuan alat pengendali inflasi. Sehingga nantinya petani memiliki kebebasan untuk menentukan waktu penjualan produk pertanian dalam menyikapi fluktuasi harga.

Pada bidang olahraga, Riza punya prinsip Payakumbuh hanya menggunakan atlet lokal atau putra daerah dalam berbagai perlombaan seperti Porprov serta ajang lainnya. 

Menurutnya, percuma prestasi tinggi tapi malah memakai atlet bayaran dari daerah lain. Hal ini tentu sangat berpengaruh dalam proses pembinaan atlet. Kebijakan ini dia dukung dengan kucuran bonus untuk peraih medali emas sebesar Rp 40 juta, perak Rp 11 juta, dan perunggu Rp 9 juta. Atlet Payakumbuh yang notabene putra daerah tadi, menjadi semakin semangat untuk berlatih demi mengejar prestasi.

Infrastruktur olahraga juga disiapkan. Pembangunan GOR dan stadion sepakbola berstandar nasional sedang dilakukan di Kelurahan Tanjung Pauh, Payakumbuh Barat. Pembangunan Payakumbuh Bugar yang berada di Kecamatan Payakumbuh Utara menjadi tempat olahraga favorit bagi warga Payakumbuh saat ini. 




Riza Falepi

Pada sektor ekonomi, Riza berhasil menjadikan Payakumbuh sebagai kota yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera Barat. Hal itu bisa terjadi karena Riza menciptakan suasana ekonomi yang kondusif seperti mempermudah perizinan sehingga kantor pelayanan dan perizinan Payakumbuh menjadi terbaik nasional. Dengan itu, Riza mampu mempertahankan idle capacity sehingga pertumbuhan ekonomi naik.

Pada periode pemerintahan kedua, Riza bersama Erwin Yunaz fokus kerja dalam pembenahan bidang ekonomi sesuai dengan janji kampanyenya pada Pilkada 2017. Inovasi ekonomi dimulai dengan mendeklarasikan Payakumbuh sebagai Kota Rendang atau lebih sering disebut Payakumbuh The City Of Randang. 

Pengembangan produk rendang diyakini memiliki efek daya ungkit yang besar untuk membangun ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Payakumbuh terutama dimasa pandemi covid 19.

Deklarasi tersebut tentu bukan sekedar klaim. Sebelumnya Payakumbuh sudah punya 43 IKM rendang yang 40% tersentralisasi di Kampung Rendang Lamposi. Produksi rendang IKM Payakumbuh bahkan sudah mencapai 1 ton per hari.

Kondisi itu didukung dengan semua bahan baku rendang tersedia di Payakumbuh. Mulai dari ketersediaan daging, cabe khas Payakumbuh yaitu cabe Kopay, hingga kelapanya. Kelapa Payakumbuh memiliki kelebihan dibandingkan kelapa daerah lain dimana kandungan santannya yang cenderung mengeluarkan lebih banyak minyak. Hal itu tentu menambah cita rasa rendang Payakumbuh itu sendiri. Semua itu dipandang Riza sebagai opportunity yang harus digarap serius.

Riza berpikir keras bagaimana caranya skala bisnis rendang ini semakin besar dan bisa berproduksi dalam jumlah massal. Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Mulai dari pembangunan Gedung Sentra IKM Rendang, persiapan BUMD peternakan sapi, pemanfaatan rumah potong hewan bertaraf internasional, teknologi retouch, hingga pengadaan mesin vertical packaging.

Dari segi marketing, produk rendang diliterasikan menjadi video dan buku. Buku rendang Payakumbuh dibuat dua bahasa yaitu Indonesia-Inggris dan Indonesia-Arab. Targetnya akan dijadikan 7 bahasa ditambah Indonesia-Mandarin, Indonesia-Jepang, Indonesia-Korea, Indonesia-Prancis, dan Indonesia-Spanyol. Itu semua diliterasikan dengan tujuan untuk disebar ke seluruh dunia agar rendang Payakumbuh semakin dikenal pasar internasional.

Selain itu, para pengusaha rendang juga difasilitasi untuk mengikuti ekspo baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tahun 2019 Riza membawa sejumlah pengusaha rendang Payakumbuh untuk mengikuti ekspo di Jeddah, Arab Saudi. Di sana, Rendang Payakumbuh dipresentasikan dengan penyajian yang baik, mulai dari segi ingredient, kandungan nutrisi, cara pengolahan, hingga kemasan yang baik, sehingga mereka memahami bahwa wajar rendang diakui sebagai makanan terlezat di dunia.

Ekspo tersebut membuahkan hasil. Pengusaha Arab tertarik untuk membangun kerja sama dengan pengusaha rendang Payakumbuh. Penandatanganan kesepakatan bisnis antara keduanya dilakukan di KJRI Jeddah, 27 Januari 2019. Melalui transaksi business to business itu, Payakumbuh dipastikan bakal mengekspor 20 ton rendang ke Arab Saudi.

Di bulan Oktober 2021, kembali Riza membawa sejumlah pengusaha rendang Payakumbuh untuk mengikuti ekspo di Dubai, setelah kedatangan Menpanekraf Sandiaga Uno melihat secara langsung proses pembuatan randang di Sentra IKM Randang Kota Payakumbuh. 

Semua inovasi itu dilakukan Riza demi kebangkitan daerah yang dipimpinnya agar bisa beradaptasi dalam dunia yang terus berkembang cepat dan dinamis. Dia punya pemikiran tentang model pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang berangkat dari sumber daya yang ada di daerah itu sendiri. Sebab, setiap daerah mempunyai keunggulan dan kelebihannya masing masing. Untuk menjadi sejahtera, daerah itu sendiri yang harus menemukan caranya dan berdaya saing unggul.

Visinya adalah model pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Visi yang sangat sulit untuk diwujudkan suatu daerah. Ini hanya bisa direalisasikan bila suatu daerah berada pada kepemimpinan yang tepat dalam mewujudkan kerangka pembangunan yang berkelanjutan (sustainability development).

Pertanyaannya, seperti apakah kapasitas minimum seorang pemimpin yang bisa mewujudkan visi itu? Pertama, pemimpin itu memiliki kepribadian yang kuat dan pantang menyerah untuk menghadirkan visinya dan digaungkan terus kepada semua pemangku kepentingan di daerah tersebut. Pemimpin yang mampu menjadi pelita bagi masyarakat sehingga masyarakat di daerah itu sadar bahwa mereka memiliki kekuatan untuk merubah diri dan ikut menjadi pemain global.

Kedua, pemimpin yang memiliki daya kohesifitas untuk memastikan semua personil dan pemangku kepentingan bisa memahami visinya, sehingga bisa bergerak dalam ritme kerja yang relatif tinggi, efektif, dan efisien.

Ketiga, memiliki kapasitas dan aksesibilitas kepada sumber-sumber keuangan. Bukan pemimpin yang hanya bisa menghabiskan APBD namun tidak bisa mencari sumber anggaran dan sumber daya untuk kemajuan daerahnya. Melainkan pemimpin yang bisa mengakses sumber keuangan baik itu dari komunitas bisnis lokal maupun global, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi. Ketiga kriteria tersebut kiranya ada pada diri seorang Riza Falepi. (CAN)




Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama