Kearifan Lokal, Kunci Penanganan Covid-19 di Padang Panjang

 Para penerima anugerah kebudayaan dari PWI. (kominfo)


KENDARI-Di hadapan wartawan se-Indonesia, Wali Kota Fadly Amran paparkan kearifan lokal jadi benteng melawan Covid-19 di Padang Panjang. 

Pemaparan di aula RRI Kendari, Selasa (8/9) itu disampaikannya pada dialog kebudayaan dalam kapasitasnya sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (AK-PWI) bersama delapan kepala daerah lainnya, minus Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka.

Kearifan lokal itu, kata Fadly, dengan memberdayakan penghulu kaum dan memanfaatkan rumah gadang sebagai tempat isolasi kesehatan. 

Seperti halnya saat presentasi di hadapan tim juri AK-PWI Desember tahun lalu,  Wako Fadly kembali mendapat pujian dan aplaus dari undangan yang memadati aula tersebut.

“Pendekatan kebudayaan adalah roh penyelenggaraan pemerintahan di Padang Panjang. Alhamdulillah, dengan pendekatan itu, kami berhasil menekan angka Covid-19 menjadi nol dan capaian vaksinasi hampir 100 persen dan menjadi yang terbaik di Sumatera Barat,” ungkapnya.

Dialog kebudayaan dengan moderator Ketua Panitia AK-PWI, Yusuf Susilo Hartono, Fadly tampil dengan pakaian adat datuk, menceritakan bagaimana upaya dan pendekatan yang dilakukan dalam menyukseskan vaksinasi di Padang Panjang. 

“Pemerintahan di Sumbar, apapun daerahnya, tetap harus berkolaborasi dengan adat dan budaya dalam membangun kesejahteraan masyarakatnya. Di Padang Panjang, adat dan budaya ini menjadi perhatian khusus kami. Di masa pandemi, selain pendekatan medis dan pendekatan ekonomi, peran adat dan budaya termasuk tokoh adatnya, sangat vital di Padang Panjang,” kata Fadly yang dikutip dari Kominfo.

Ketua Dewan Pers, M. Nuh menyebutkan, apa yang dilakukan Fadly bersama kepala daerah penerima AK-PWI 2022 lainnya, diharapkan menjadi motivasi bagi pemerintah daerah lainnya di Indonesia dalam menumbuhkembangkan kebudayaan di daerah masing-masing.

“Penganugerahan AK-PWI merupakan apresiasi dari kawan-kawan pers bagi kepala daerah yang telah mengangkat tema kebudayaan dalam pembangunan di daerahnya. Banyak cara yang bisa dilakukan. Intinya adalah dengan cinta dan kasih sayang, dengan pola dan cara yang berbeda di masing-masing daerah sesuai kulturnya,” ungkap M. Nuh.

Ketua PWI Pusat, Atal S. Depari, mengatakan, penerima AK-PWI adalah orang-orang hebat dalam mempertahankan kebudayaan di daerahnya. Negara menjadi super power dengan hanya kebudayaannya. Contohnya adalah kehidupan gotong royong yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang patut untuk terus dilestarikan.

“Dengan penghargaan AK-PWI ini, kita harapkan bisa menginspirasi kepala daerah lain. Penghargaan ini adalah salah satu bentuk sinergitas antara pers dan pemerintah. Peran pers sebagai pencerah bagi masyarakat, misinya sama dalam membudayakan kebudayaan itu sendiri," terangnya. (*)




Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama