Payo Punya Cerita, Separoh Jalan untuk Menjemur Kopi



Petani di Payo terpaksa menjemur kopi di aspal karena ketiadaan rumah jemur 


KOTA SOLOK-Kopi Payo terkenal ke mana-mana. Tak terbilang entah berapa banyak orang yang menyeruput kopi itu. Payo memiliki kisah panjang soal kopi itu. Mulai dari kehadiran kopi sejak zaman Belanda, hingga separoh jalan terpakai untuk menjemur kopi di zaman yang disebut orang sebagai era serba modern ini. Zaman milenial kata apak-apak yang pintar itu.


Payo, merupakan sebuah sudut negeri di Kota Solok. Di Payo, tumbuh subur kopi jenis Robusta. Masyarakat di sana menyebut, sejak zaman Belanda kopi telah jadi tananaman masyarakat. Ketinggian tanaman kopi di sana kurang lebih 5-7 meter.  Sentra kopi ada di puncak Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kota Solok.

Dulu, kopi Payo mendapat pujian banyak orang karena memang berkualitas tinggi. Soal rasa jangan disebut. Pokoknya, mantap. Namun belakangan, tak sedikit kalangan yang menilai kualitas kopi Payo mengalami penurunan. Usut-punya usut, penurunan kualitas terjadi karena pengolahan yang tidak memenuhi standar pengolahan kopi.

Soal kualitas kopi Payo yang disebut mengalami penurunan, datang dari sejumlah kalangan pejabat di Kota Solok. Sejumlah wartawan tak langsung percaya dengan penilaian itu. Makanya, wartawan datang langsung ke Payo.

Sampai di Payo, ada pemandangan yang tak lazim. Warga menjemur kopi di separoh jalan. Tinggal sedikit aspal yang bisa dilalui kendaraan. Salahkah warga itu, ternyata tidak juga. Sebab, Pemko Solok memang belum pernah membuat rumah jemur kopi di Payo. Warga menjemur kopi di aspal, karena aspal memang sangat panas ketika terpapar matahari.

Ketua KTNA Kota Solok, Yusrizal menyebutkan, kopi Payo memang tergolong bagus. Dia memberi catatan, kulitas bagus dapat dicapai apabila saat panen dilakukan dengan sistim petik merah. 

Ia menyayangkan, kualitas kopi yang tergolong bagus tersebut kini menjadi menurun. Selain kesalahan dalam panen, juga akibat anggota kelompok tani menjemur hasil panen di aspal. Usaha kopi di Payo dilakukan tujuh kelompok tani.

Diakui Yusrizal, ketujuh kelompok tani kopi Payo hingga saat ini tidak memiliki rumah jemur. Yusrizal menyesalkan, potensi ekonomi masyarakat dengan tanaman tersebut tidak didukung maksimal oleh Pemerintah Kota Solok.

Diakui Yusrizal, belum lama ini pembuatan rumah jemur kopi ini diusulkan Kelompok Tani Koto Sejati. Usulan dilakukan pada  awal 2022 ke Pemko Solok. "Kami berharap, setiap kelompok tani memiliki rumah jemur yang layak, dengan lantai jemur dari papan atau triplek," ujar Yusrizal.

Yusrizal juga berharap agar setiap kelompok tani kopi di Payo memiliki rumah pengolahan. Yusrizal optimis, dengan sistem pemetikan dan pengolahan yang memenuhi standar, maka kulitas Kopi Payo akan kembali naik, hingga menarik banyak pembeli.

Kebijakan pemerintah pada akhirnya akan mengangkat kembali ekonomi masyarakat di Payo. Masyarakat menanti keberpihakan pemerintah, hingga kehidupan petani bisa semanis kopi setelah diseduh dengan gula. Jangan biarkan nasib petani pahit, sepahit kopi tanpa gula. Bukan begitu Pak Wali Kota? (SIS)




Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama