Tiga Tahun Berlalu, Bangunan Gedung Sanggar Seni di Desa Lolofaoso Belum Juga Selesai


 Spanduk pembangunan gedung sanggar seni dan pekerjaan yang terbengkalai



NIAS-Pembangunan Gedung Balai Sanggar Seni Serbaguna di Desa Lolofaoso, Kecamatan Hiliserangkai, Kabupaten Nias, Sumatera Utara sudah lama jadi sorotan masyarakat setempat.


Warga bertanya, sudah tiga tahun, kenapa bangunan belum juga rampung. Selain itu, belum ada tanda pekerjaan akan dilanjutkan lagi.

Warga setempat menduga Pemerintah Desa Lolofasoso sengaja mengulur waktu demi kepentingan tertentu. Kepala Desa Lolofaoso, Masati Waruwu mengatakan, mangkraknya pekerjaan itu lantaran terkendala pelaksanaan pembangunan karena keterbatasan waktu.

Versi kepala desa

Masyarakat berhak untuk bertanya dan mempertanyakan. Namun, kepala desa punya versi tersendiri tentang persoalan itu. 

"Bukan kita tidak mau mengerjakan. Itu tetap kita kerjakan. Selain itu, ada aturan dan perintah, sehingga dana tidak bisa dilaksanakan pada tahun berikutnya. Persoalan ini sudah kami jelaskan ke masyarakat," kata Masati Waruwu saat dikonfirmasi di kantor desa, 7 April 2022 lalu.

Dikatakannya, biaya pembangunan gedung itu Rp768.438.000 yang bersumber dari Dana Desa anggaran 2019 dan untuk sisa biaya bahan material yang sudah dibelanjakan TPK tinggal Rp318 juta.

"Sisanya sudah kita kembalikan di RKUDes dan sudah beberapa kali kami menarik dana silpa itu sejak 2020 dan 2021, namun tidak sempat untuk dikerjakan karena mepet waktu," ujarnya.

Sedangkan, dana yang Rp450 juta itu sudah digunakan TPK untuk membelanjakan bahan bahan material di lapangan walaupun tidak semua sudah sampai di lokasi.

"Ada berbagai material yang sudah dibelanjakan, khususnya semen yang dibelanjakan ada sekitar 995 sak dan yang sudah digunakan  200 sak. Namun, yang lebihnya berjumlah 795 sak masih DO dititipkan di toko bangunan smpai sekarang," katanya.

Kepala desa mengakui, Inspektorat Kabupaten Nias telah datang ke lokasi dan melakukan audit. Tim melakukan audit atas pekerjaan pembangunan gedung itu, mulai dari tahun anggaran 2019 bahkan pekerjaan 2020 dan 2021. "Kita tunggu hasil audit dari inspektorat dan semua datanya sudah kita serahkan, "Pungkasnya.

Dipertanyakan warga

Warga desa setempat, Danosokhi Halawa merasa aneh karena bangunan gedung sanggar seni tak tuntas dalam tiga tahun. "Masa gedung tak selesai dalam tiga tahun," kata dia.

Dia menyebut, masyarakat tak pernah tahu tentang anggaran dana desa dan penggunaannya karena spanduk APBDes tidak pernah terbentang.

Warga berharap agar Inspektorat bekerja secara profesional dalam menyajikan laporan hasil audit karena mereka merupakan salah satu ujung tombak pemerintahan dalam melakukan pengawasan pengunaan anggaran.

"Jika Inspektorat atau APIP tidak bekerja secara profesional, maka dapat dipastikan penggunaan uang negara tidak akan tepat sasaran," katanya. 

Warga lainnya membuat perbandingan tersendiri. Pemerintah pusat membangun tol dan bandara, terkadang cuma butuh waktu dua tahun. "Selagi dikerjakan, tak ada pekerjaan yang tak akan tuntas," kata warga itu.

Dia menambahkan, tak masuk akal jika pembangunan gedung butuh waktu bertahun-tahun. Dalam hitungan dia, apabila sebuah pekerjaan benar-benar dilakukan, sebuah gedung akan rampung dalam waktu maksimal enam bulan. "Tiga tahun kok cuma tiang yang terpasang," kata dia. (YAMONI)




Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama