Warga Desa Tuhegeo II Makin Menjerit, Malam Hari Pakai Lilin, Usaha Gulung Tikar


 Warga antre untuk isi BBM di SPBU Desa Saewe, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias.


GUNUNGSITOLI-Warga Desa Tuhegeo II, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli Sumatera Utara semakin menjerit. Bahan bakar minyak (BBM) susah didapat. Pada malam hari, untuk penerangan, masyarakat terpaksa pakai lilin. Genset yang biasanya untuk penerangan, tak bisa dipakai karena BBM tak ada.

Warga kesulitan mendapatkan BBM di SPBU karena pemerintah pusat melarangan penjualan melalui jeriken. Larangan itu berdampak luas pada masyarakat yang belum tersentuh aliran listrik ke pemukiman mereka.

Salah seorang warga, Murtianus Laoli yang mengandalkan mesin genset di malam hari dan beberapa belakangan semakin menjerit akibat bahan bakar minyak (BBM) susah didapat. Dia menyebut, warga desa sepertinya belum menikmati kemerdekaan. Dia menyebut, akibat BBM susah didapat, kondisi masyarakat amat memprihatinkan.

"Belakangan semakin parah karena harga BBM naik. Pertalite susah didapat. Pertamax bahkan Pertamax Turbo juga sulit didapatkan di SPBU jika melakukan pembelian dengan jeriken," ungkap Murtianus kepada wartawan, Rabu (20/4/2022).

Akibat penerangan yang minim, anak-anak di desa kalau belajar terpaksa hanya pakai lilin. Bila menggunakan lilin, risiko kebakaran juga besar. 

Ditambahkan, Pemerintah Desa Tuhegeo II sudah beberapa kali mengajukan sambungan listrik,  tapi sampai sekarang belum juga direalisasikan pihak terkait," tuturnya.

Murtianus Laoli menambahkan, pengusaha, perajin pembelah kayu atau tukang chainsaw dan pembabat rumput mulai kesulitan mendapatkan Pertalite, sehingga mereka tidak bisa mengoperasikan usaha.

“Kita membutuhkan sedikitnya 500 liter Pertalite perbulan untuk mesin genset, chainsaw dan mesin babat rumput tapi karena dibatasi tidak bisa melalui jeriken terpakasa gulung tikar sementara,” tegas dia. (YAMONI)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama