Pasar Ternak di Tanah Datar akan Ditutup 14 Hari


 Suasana di pasar ternak. (merdeka.com)


BATUSANGKAR- Mendapatkan informasi adanya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak, Bupati Eka Putra didampingi Wakil Bupati Richi Aprian, Senin (16/5/2022) malam mengadakan rapat koordinasi bersama DPRD, forkopimda, sekda, para asisten, OPD terkait, camat, serta asosiasi peternak kabupaten Tanah Datar di Gedung Indojolito Batusangkar.


Rapat ini dimaksudkan guna menentukan langkah dan upaya pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran PMK pada ternak di Tanah Datar, serta meredam kekhawatiran masyarakat terutama petani dan pedagang ternak, disamping juga para pengguna dan konsumsi daging.

Bupati Eka Putra menyampaikan, berdasarkan kesepakatan rapat koordinasi ini didapatkan keputusan, dalam waktu dekat pemerintah daerah segera melakukan penutupan pasar ternak di Tanah Datar selama 14 hari guna mengantisipasi penebaran PMK.

“Kita tahu saat ini di Sumatera Utara dan di kabupaten tetangga sudah mulai ada hewan ternak yang terjangkit PMK, jadi untuk mengantisipasi hal ini sementara waktu kita akan menutup pasar ternak selama 14 hari. Kita juga akan bekerjasama dengan pihak kepolisian terkait dengan rencana pengendalian keluar masuk ternak di 6 (enam) titik pintu masuk ke Tanah Datar,” terang Eka Putra yang dikutip dari Prokopim Setda Tanah Datar.

Bupati menyarankan agar para pedagang agar melakukan isolasi pada ternak-ternak yang baru dibelinya sebelum dibawa di pasar untuk diperjualbelikan kembali.

Disampaikan Eka Putra, pemerintah daerah juga akan segera melakukan penganggaran untuk penanganan pengobatan pada ternak yang tertular virus PMK di Tanah Datar.

Oleh karena virus ini hanya menular pada ternak yang berkuku belah dan tidak berisiko untuk manusia, masyarakat diimbar tetap tenang dan pemerintah akan melakukan upaya antisipasi lebih awal.

Wakil Ketua DPRD Saidani menghimbau agar para peternak yang ada di Tanah Datar segera melapor kepada instansi terkait apabila mendapati gejala PMK pada ternak-ternak mereka.

Kapolres AKBP Ruly Indra Wijayanto menyatakan dukungan kepada pemkab terkait rencana penyekatan di enam titik pintu masuk wilayah Tanah Datar.

AKBP Ruly juga meminta agar masyarakat untuk terbuka dan memberikan informasi kepada instansi terkait apabila menemukan gejala PMK pada ternak. Hal ini dimaksudkan agar mudah dideteksi dan diantisipasi serta diminimalisir penularannya kepada ternak yang lain.

“Masyarakat perlu legowo bila ada ternaknya yang terjangkit, jadi tidak mengakibatkan terjadinya penularan yang lebih parah lagi,” sampainya.

Wabup Richi juga mengingatkan kepada dinas terkait agar lebih lagi dalam melakukan pengawasan dan pemerikasaan di Rumah Potong Hewan (RPH) yang ada di Tanah Datar.

“Dinas harus benar-benar memastikan hewan ternak yang akan dipotong sehat dan dagingnya aman dan layak dikonsumsi oleh masyarakat,” tegasnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Sri Mulyani, menjelaskan jenis penyakit ini masa inkubasinya mulai 1-14 hari sejak hewan tertular penyakit hingga timbul gejala penyakit. Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan dan bertahan hidup pada tulang, kelenjar, susu, serta produk susu.

Menurut Sri Mulyani, tingkat penularan penyakit ini cukup tinggi tetapi tingkat kematiannya 1-5 persen saja. “Jadi apabila ditemukan gejala pada ternak seperti ternak terlihat lemah, lesu, kaki pincang, air liur berlebihan, tidak mau makan, dan mulut melepuh segera hubungi OPD terkait agar segera dilakukan pemeriksaan dan pengobatan,” ujar Sri Mulyani.

Dijelaskan Sri Mulyani penularan virus PMK ini bisa melalui beberapa cara, diantaranya dengan cara kontak langsung, kontak tidak langsung dan bisa juga melalui udara. Dan gejala klinis apabila hewan tertular PMK diantaranya mengalami demam, tidak nafsu makan, penurunan produksi susu yang drastic, keluar air liur yang berlebihan, luka pada kuku, bagian mulut melepuh serta gejala klinis lainnya. (*)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama