Kasus PMK Tersebar di 16 Daerah, 27 Dipotong Paksa

 Wagub terima vaksin dan obat-obatan untuk tanggulangi PMK di Sumbar


PADANG-Menanggulangi merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mencanangkan gerakan vaksinasi yang dimulai, Jumat (24/6/2022).


Pencangan vaksinasi tersebut ditandai dengan penyerahan 4.200 dosis vaksin PMK dan obat-obatan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian, Tri Melasari selaku penanggung jawab PMK di Sumatera Barat pada Wakil Gubernur Audy Joinaldy.

Menurut wakil gubernur, meski kasus PMK di Sumbar tergolong tidak parah, namun pemerintah tetap memberikan perhatian khusus untuk menjaga situasi tidak memburuk. Terutama di daerah-daerah yang menjadi kantong-kantong peternakan dan sapi perah, seperti Padang Panjang, Agam, Solok, dan Solok Selatan. Wagub memastikan peternakan di ke empat wilayah tersebut untuk segera mungkin divaksin.

"Populasi sapi perah kita tidak terlalu banyak,. Jadi Pastikan sapi perah, indukan dan sapi-sapi bantuan dalam dua hari ini tervaksin 100 persen, karena ini kan nilai ekonomisnya sangat tinggi," kata wakil gubernur.

Dia menyebutkan, masyarakat tidak perlu khawatir mengonsumsi daging hewan ternak. Menurut Wagub, PMK bukan penyakit zoonotik sehingga tak dapat ditularkan pada manusia.

"Perlu kita edukasi juga, masyarakat harus tahu ini bukan zoonosis, jadi tetap aman untuk dikonsumsi. Tidak perlu takut, apalagi ini kan mau Idul Adha. Sapi-sapi yang sakit tidak apa-apa dipotong paksa," katanya.

Tri Melasari menuturkan, 4.200 dosis vaksin dan obat-obatan merupakan bantuan tahap awal. Tri menjelaskan, vaksinasi tahap awal tersebut ditargetkan selesai pada 2 Juli mendatang. Kemudian bantuan berikutnya akan didistribusikan kembali secara bertahap dan proporsional sesuai kebutuhan di daerah.

"Bantuan diberikan berdasarkan proporsional populasi, target prioritas dan tingginya kejadian," katanya.

Ia menekankan komunikasi informasi dan edukasi pada peternak maupun masyarakat umum. Tri menilai masih banyak masyarakat awam yang beranggapan bahwa PMK menular ke manusia, padahal menurutnya semestinya hal ini tidak perlu dikhawatirkan.

Tri juga menyinggung adanya rencana relaksasi bagi peternak pengakses kredit usaha rakyat (KUR) yang terdampak penyakit mulut dan kuku tersebut. "Ini juga nanti akan kita koordinasi dengan pihak Bank, bagaimana caranya supaya peternak pengakses KUR yang terdampak PMK bisa mendapat relaksasi," jelasnya.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumbar, Erinaldi melaporkan, sampai hari ini terdapat 16 kabupaten dan kota yang terdapat PMK. Tercatat 4.470 kasus terjangkit, 670 sembuh, empat mati dan 27 dipotong paksa. (Dinas Kominfotik Sumbar)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama