Belajar dengan Maestro, Silek Pingian di Dharmasraya Wajib Dilestarikan

Peserta belajar bersama maestro foto bersama


DHARMASRAYA-Seni bela diri tradisional asli Dharmasraya adalah Silek Pingian. Silek itu menjadi objek pemajuan kebudayaan yang diangkat dalam kegiatan belajar bersama maestro (BBM) yang digelar di Laman Tuo  Silek Pingian Rantau Batanghari, Nagari Sungai Dareh, Kecamatan Pulau Punjung. Kegiatan berlangsung 1-7 Juli.


Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pemerintah Kabupaten Dharmasraya dan perguruan Silek Pangian Rantau Batanghari.

Penyelenggaraan kegiatan BBM secara luring ini merupakan kelanjutan dari kegiatan BBM daring yang sudah dilaksanakan sebelumnya pada 22-23 Juni. 

Kegiatan belajar bersama maestro (BBM) dibuka perwakilan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, Tari Syakrisyah. Pembukaan juga turut dihadiri rombongan Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan yang dipimpin Rochie W. Dajoh, anggota tim panel ahli BBM, Arie Batubara, Sekretaris Disbudparpora Kabupaten Dharmasraya M Syukri, Wali Nagari Sungai Dareh, Hendrianto Bandaro Panjang dan lainnya.

Ketua panitia kegiatan Yul Hendri yang ditemui di lokasi kegiatan, Sabtu (2/7/2022) mengatakan,  pihaknya menggelar kegiatan yang bernama belajar bersama maestro tentang tradisi dan budaya Silek Pingian. "Silek ini perlu kita lestarikan. Harapannya para peserta BBM yang kini menjadi anak, dapat membawa tanggung jawab untuk mengembangkan silek pingian di rantau masing-masing," katanya.

Peserta BBM Silek Pingian berjumlah 30 orang dengan usia rata-rata 25 tahun. Hal ini sesuai dengan tujuan dari kegiatan BBM, menyasar para pelaku seni budaya muda untuk menjadi pelopor dalam melestarikan seni budaya yang bersangkutan. 

Semua peserta tersebut merupakan anggota dari Silek Pingian Rantau Batanghari yang berasal dari berbagai daerah di luar Sumatera Barat, seperti Kabupaten Kuansing dan Tebo. Pada akhir pelaksanaan BBM, seluruh peserta akan membuat dramaturgi tentang perjalanan menjadi seorang murid mulai dari membantai limau (syarat masuk sasaran), menerima gerak, hingga ujian hingga masuk ke dalam hutan. (eko)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama