Silek Pingian Dharmasraya Perlu Dilestarikan, Belajar Bersama Maestro Berakhir

Peserta belajar silat pada mahaguru di Dharmasraya foto bersama


DHARMASRAYA-Lengkap sudah tujuh hari dilalui 30 peserta yang digembleng Mahaguru Zainir Dato’ Mangku dan menjalani ujian tertulis serta penampilan dramaturgi berupa gerakan silat beregu. Silek Pingian harus dilestarikan.


Kegiatan itu menandai berakhirnya perhelatan program belajar bersama maestro yang digelar Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Kegiatan berlangsung 1-7 Juli. Peserta belajar Silek Pingian dengan maestro Zainir Dato’ Mangku.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbudristek, Judi Wahjudin menyampaikan,  sekitar 30 pesilat sekaligus pegiat seni budaya muda  dari Sumbar dan Kabupaten Kuansing dan Tebo berpartisipasi dalam ajang belajar bersama maestro (BBM) Silek Pingian tersebut.

Judi menjelaskan, program belajar bersama maestro Dharmasraya ini merupakan bentuk dukungan terhadap Kenduri Svarnabhumi, yaitu kegiatan yang berupaya memajukan kebudayaan dan menjaga lingkungan Sungai Batanghari, sehingga nantinya dapat mengembalikan dan mewariskan kekayaan alam yang ada di sekitar daerah aliran sungai itu.

Setelah tujuh hari pelaksanaan, di akhir program, para murid melaksanakan ujian tertulis guna mengetahui sejauh mana ilmu atau materi yang diberikan diterima dengan baik. 

Kemudian, setelah melaksanakan ujian tertulis, para murid menampilkan praktik gerakan silat yang telah diberikan. Sebanyak 30 peserta dibagi menjadi lima kelompok dan menampilkan gerakan silek beregu, sebuah gerakan khas andalan. 

Gerakan silek beregu ini merupakan variasi gerakan silek Pingian terobosan baru. Sebelumnya, Silek Pingian Rantau Batanghari menampilkan gerakan silek berpasangan saja. Keistimewaan dari gerakan tersebut, tiap anggota dalam regu akan menampilkan gerakan yang serentak dan selaras dari awal hingga akhir.

Menurut Sekretaris Perguruan Silek Pingian Rantau Batanghari, Yul Hendri gerakan Ssilek Pingian beregu adalah gerakan yang sulit.

“Gerakan Silek Pingian beregu harus memiliki visi yang sama antara anggota dalam regunya. Ibarat pemain band, unsur-unsur dalam band harus memiliki visi yang sama sehingga tercipta harmonisasi yang indah,” ujar Yul Hendri.

Selama tujuh hari pelaksanaan, para peserta digembleng dengan materi dan praktik di lapangan. Pada pagi hingga sore, para peserta diajarkan materi mulai dari sejarah Silek Pingian hingga materi-materi yang dapat diaplikasikan untuk kemajuan Silek Pingian sendiri, seperti materi pendokumentasian dan manajerial. 

Para peserta juga mendapatkan materi yang jarang didapatkan di dunia luar, yaitu tentang pengobatan tradisional, seperti menggunakan tumbuhan atau herbal untuk mengobati penyakit dan luka.

Pada malam harinya, para peserta melakukan praktik dengan turun ke laman tuo, sebutan tempat para peserta melakukan praktik silat untuk diajarkan. (eko)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama