Bahas Stunting, Beppeda Payakumbuh Adakan FGD

 Suasana diskusi


PAYAKUMBUH-Dalam rangka penelitian dan pengembangan bidang sosial dan kependudukan, Bappeda Kota Payakumbuh melakukan kerjasama penelitian dengan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Padang (Poltekkes Padang) Prodi D3 Kebidanan Bukittinggi membahas tentang "Analisa Determinan dan Pengaruh Model Pemberdayaan Perempuan Budaya Minangkabau dalam pencegahan Stunting" yang dilaksanakan di Aula Kantor Bappeda Kota Payakumbuh, Selasa(2/8/2022) 


Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Bappeda Kota Payakumbuh Yasrizal dan dihadiri OPD terkait, Kepala Puskesmas dan Rumah Sakit yang ada di Kota Payakumbuh. 

Kepala Bappeda Kota Payakumbuh  Yasrizal mengatakan penanganan stunting menjadi prioritas penting pemerintah yang telah diatur melalui Peraturan Presiden No. 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Namun, dalam upaya mengatasi masalah stunting bukan hanya tugas pemerintah, namun kolaborasi dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk mewujudkan upaya percepatan penurunan stunting nasional. 

"Oleh karenanya, kami sangat menyambut baik kolaborasi dan penelitian yang telah dilakukan oleh Poltekkes Padang dalam melakukan penelitian tentang "Analisa Determinan dan Pengaruh Model Pemberdayaan Perempuan Budaya Minangkabau dalam pencegahan Stunting" agar dapat memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang isu stunting. Diharapkan kemitraan dan inisiatif seperti ini tidak hanya 3 tahun seperti apa yg telah disampaikan oleh Poltekkes Padang karena keberlanjutanlah yang penting untuk terus mengedukasi tentang pencegahan stunting di masyarakat," Terang Yasrizal

Peneliti Poltekkes Padang Siti Khadijah mengatakan Stunting masih menjadi salah satu permasalahan yang menghalangi potensi optimal anak-anak sebagai penerus generasi Bangsa Indonesia. Tiga dari 10 anak Indonesia diperkirakan mengalami stunting pada 2021.

Meskipun hasil survei status gizi menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun, jumlah anak stunting sangat bervariasi antar daerah dan masih dikategorikan sebagai masalah kesehatan masyarakat berat menurut ambang batas WHO yaitu 20%. Untuk itu, berbagai strategi nasional telah ditetapkan pemerintah sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan Peraturan Presiden No 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting dengan target penurunan hingga 14% pada 2024. Upaya dari berbagai pihak, termasuk penyusunan materi edukasi, penting dilakukan untuk mempersiapkan Generasi Emas Indonesia pada tahun 2045.

Ditambahkan Sity, Penanganan Stunting di Kota Payakumbuh memerlukan koordinasi dan keterlibatan antar lima elemen yang disebut pentahelix yaitu pemerintah pusat dan daerah, akademisi atau perguruan tinggi, sektor swasta, masyarakat atau kelompok komunitas, serta media. Penelitian ini merupakan salah satu bentuk kolaborasi nyata dari kelima unsur tersebut.

"Sebagai institusi pendidikan, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Padang  Prodi D3 Kebidanan Bukittinggi berkomitmen untuk berkontribusi  mendukung percepatan penurunan angka Stunting di Kota Payakumbuh melalui penelitian "Analisa Determinan dan Pengaruh Model Pemberdayaan Perempuan Budaya Minangkabau dalam pencegahan Stunting" Melalui berbagai tinjauan lapangan dan pengumpulan data secara langsung sehingga nantinya ditemukan permasalahan apa yang menyebabkan 20 % anak di Kota Payakumbuh mengalami Stunting serta langkah tepat dalam menekan angka Stunting di Kota Payakumbuh," Ujar Siti

Sity mengatakan pentingnya peran keluarga dan komunitas dalam mendukung pencegahan serta penanganan Stunting. 

"Kami menilai bahwa perlu adanya upaya untuk mendukung Kader Posyandu dan tim pendamping keluarga agar dapat melakukan edukasi gizi di level keluarga dan masyarakat, dengan dibekali informasi penting dan tepat terkait dengan pencegahan Stunting serta informasi yang aplikatif khususnya terkait pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak. Sebab, salah satu kunci dalam upaya mengatasi stunting umumnya adalah pemahaman yang cukup terkait perkembangan anak oleh orang tua, hingga pentingnya deteksi dini yang dilakukan oleh Kader Posyandu sebagai pendamping masyarakat," kata Siti. (AA)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama