Unand Kukuhkan Tiga Guru Besar

 Para guru besar foto bersama usai pengukuhan


PADANG-Uiversitas Andalas kukuhkan tiga guru besar, Senin (19/9/2022). Pengukuhan dipusatkan di convention hall kampus Limau Manis, Padang. Tiga guru besar tersebut, masing-masing Prof. Dr. Ir. Anwar Kasim, Prof. Dr. Ir. Rina Yenrina, M.Si dan Prof. Tuty Anggraini, STP, MP, Phd. Pengukuhan dilakukan dalam rapat senat luar biasa.

Ketiga guru besar itu melahirkan pemikiran tentang tumbuhan, tanaman dan makanan demi kesehatan peningkatan ekonomi masyarakat. 


Pemasangan kalung kehormatan pada guru besar 

Para profesor itu menjadi guru besar tetap pada Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Profesor Anwar Kasim berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam. Dia menyandang gelar profesor sejak 2002. Anwar Kasim telah menulis sejumlah buku dan publikasi internasional. Dia juga memiliki karya yang sudah dipatenkan. Selain itu, juga menyadang delapan penghargaan, termasuk prestasi yang diraih di Jerman.

Profesor Rina Yenrina berasal dari Bukittinggi. Dia guru besar pada Fakultas Teknologi Pertanian dengan keahlian teknologi pangan dan gizi. Dia alumni IPB sejak sarjana hingga doktor. Karya yang dihasilkan, antara lain 12 buku, puluhan publikasi pada jurnal nasional dan internasional. Profesor Rina memiliki tiga karya yang dipatenkan.

Profesor Tuty Anggraini lahir di Padang. Dia jadi profesor sejak 2019. Dia telah menghasilkan empat buku dan 70 publikasi pada jurnal nasional dan internasional dan memiliki satu hak paten. Dia juag tercatat sebagai peraih penghargaan dosen teladan di Universitas Andalas.

Profesor Anwar Kasim dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Gambir, Tanaman dari Masa Lalu dan Bahan Baku Industri Masa Depan. Gambir merupakan tanaman sejak lama dibudidayakan. Permasalahan utama gambir, adalah harga yang selalu turun naik. Gambir berfungsi sebagai bahan kosmetik, farmasi dan kimia.

Indonesia mengekspor 80 persen gambir produksi dalam negeri ke sejumlah negara.  Profesor Anwar menampilkan tiga produk gambir yang diharapkan Idonesia tak lagi mengekspor gambir secara mentah. Gambir perlu diolah menjadi aneka produk, sehingga gambir itu memiliki nilai tambah.

Profesor Rina Yenrina ketika menyampaikan orasi ilmiah menyebutkan, banyak masyarakat Indonesia yang mengalami asam urat. Penyakit itu lebih banyak dialami oleh warga yang di usia produktif. Di Padang,  asam urat termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak.

Salah satu cara mengatasi persoalan itu, adalah dengan mengatur bahan pangan. Angka prevalensi penderita bisa dikurangi dengan pengendalian makanan. Asam urat akan menurunkan kinerja seseorang, karena asam urat mengakibatkan warga sulit beraktivitas. Asam urat bisa mengakibatkan mati rasa, sudah berjalan dan sebagainya. 

Profesor Tuti Anggraini dalam orasi ilmiah menyebutkan, teh merupakan minuman yang terbuat dari daun. Teh digemari karena memiliki rasa yang enak dan banyak mengandung manfaat. Sumatera Barat merupakan derah penghasil teh. Teh yang dihasilkan, teh hijau, teh putih dan teh hitam.

Usai menyampaikan orasi ilmiah, dilanjutkan dengan pemasangan kalung kehormatan pada tiga guru besar tersebut dan disertai dengan foto bersama. 

Rektor Universitas Andalas, Profesor Yuliandri tetaplah melakukan inovasi dalam pengembangan ilmu. Menjadi guru besar bukan merupakan akhir dari pengabdian. Guru besar merupakan ladang pengabdian baru untuk melahirkan inovasi. Rektor menyampaikan selamat pada tiga guru besar itu. 

Ditambahkan Profesor Yuliandri, pencapaian gelar profesor jangan sampai mengubah jati diri sebagai ilmuwan. "Tetaplah melahirkan penelitian karena masyarakat menantikan peran dari perguruan tinggi guna menghadapi berbagai persoalan hidup," kata Rektor Yuliandri.

Dikatakan rektor, hasil penelitian tiga guru besar tersebut memiliki makna strategis yang perlu ditindaklanjuti pihak terkait. (ZK)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama