Kedelai Meroket, Pengusaha Tahu dan Tempe di Payakumbuh Tidak Bisa Naikkan Harga

 Pedagang penjual tahu dan tempe di Payakumbuh


PAYAKUMBUH-Pengusaha tahu dan tempe di Payakumbuh sedang menghadapi ujian berat. Kedelai sebagai bahan baku harganya meroket tajam. Barang impor itu mengikuti nilai tukar rupiah yang cenderung tertekan beberapa waktu belakangan. 

Pengusaha tak bisa menaikkan harga jual karena itu akan berdampak pada hilangnya pelanggan. Kalau dijual lebih mahal, warga dikawatirkan enggan membeli.

Bagi pengusaha kecil dan menengah itu jadi masalah. Kalau mereka naikkan harga, sementara industri besar bertahan dengan harga lama, akibatnya produk pengusaha kecil ditinggalkan konsumen.

Hal tersebut dilontarkan Juned, salah seorang pengusaha tahu di Payakumbuh, Selasa (24/10/2022) di pasar Ibuh kepad. Dia khawatir, karena harga kedele sudah menembus harga Rp705.000 perkarung dengan berat 50 kilogram. Artinya, harga perkilogram memembus angka Rp14.100.

“Kami hampir menyerah pak untuk berproduksi karenakan dengan harga kacang kedele yang sekarang naik, kami seharusnya menaikan harga. Sementara pabrik-pabrik besar tidak mau menaikan harga dikarenakan diduga pabrik besar membeli kacang secara banyak dan mendapatkan harga murah,” tuturnya.

Dikatakan Juned, selaku pengusaha dia awam dengan harga kedelai yang sebenarnya. Sebab, belum pernah membeli kedele dalam jumlah besar. Dia bersama pengusaha kecil lainnya hanya membeli di kios.

“Kami berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan dan menindak jika ada oknum yang bermain atau diduga ada mafia terkait masalah ini," katanya.

Ketua DPRD Hamdi Agus menyebutkan, pihaknya menerima aspirasi pengusaha dan akan koordinasi dengan OPD terkait guna mencari jalan keluar yang semestinya. (JND)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama