Bermodal Pinjaman untuk Merantau, Akhirnya Jadi Polisi

 Ipda A. Candra Widodo dan keluarga


KUANSING-Kapolsek Benai, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Ipda A. Candra Widodo memiliki kisah inspiratif. Pernah dianggap kurang gaul hingga disindir gara-gara tak merokok. Kisah hidup sang kapolsek mengajarkan tentang perlunya keras untuk meraih kesuksesan.

Candra Widodo lahir di Desa Kelumpang, Kecamatan Ulu Ogan, Kabupaten Oku, Sumatera Selatan. Waktu kecil dia tinggal di bedeng Taman Sari II Baturaja. Waktu kecil hingga remaja, dia sekolah dengan berjalan kaki.

"Saya terbiasa untuk belajar mandiri sejak kecil," kata dia, Minggu (20/11/2022).

Ketika beranjak remaja, banyak orang mencemoohnya dikarenakan dia dianggap kurang pergaulan sebab tidak merokok, dan tidak keluar malam serta jarang  berkumpul dengan teman sebaya.

Dia banyak waktu bermain karena dia fokus berlatih olahraga, belajar dan berdoa dalam menggapai cita-cita.

Waktu kecil dan tinggal di kampung, rumah keluarga A. Chandra Widodo tak memiliki listrik. Dia lahir 1983. Listrik baru masuk ke kampung  itu pada 1998.

"Saya dari keluarga miskin, orang tua seorang petani," katanya.

Dia empat bersaudara dua laki-laki dua perempuan. Dia anak kedua dari empat bersaudara. Dia bersama kakak dan dua adiknya sekolah di Baturaja. Mereka jauh dari orang tua dan mengontrak rumah di sana. Dia dan kakaknya juga bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Setelah tamat SMA pada 2002, dia ikut kawan ke Palembang kerja serabutan serta menumpang di rumah teman. "Teman saya pagi kuliah ,saya bermenung, setelah itu saya meminjam uang dengan teman Rp150 ribu untuk ongkos naik bus ke Pekanbaru. Sesampainya di terminal Pekanbaru di Jalan Nangka, saya turun tanpa tujuan. Saya bingung," katanya.

Dalam kebingungan itu, dia membuka dompet dan melihat catatan di dalamnya yang berisi nama orang satu kampung. "Lalu, seorang di antaranya saya telepon melalui wartel. Saya naik oplet lalu dn di antar ke pasar Kodim. Di sana saya bermenung lagi," kata dia.

Bertanya lagi pada sopir oplet dan dicarikan angkutan ke Jalan  Jambu.

Sampai di Jalan Jambu, berjumpa dengan orang yang dicari. Pada orang itu, dia minta alamat kakak laki-lakinya yang paling tua yang tinggal di Perawang.

"Sepanjang perjalanan, saya hanya minum air putih dikarenakan takut uang nanti habis. Teringatlah ada kampung yang jadi polisi. Saya cari nomor teleponnya dan saya hubungi dan akhirnya saya jumpai dengan orang sekampung yang polisi itu," katanya.

Jelang berjumpa dengan polisi itu, dia dijemput terlebih dahulu. "Saya tinggal di rumahnya jadi pembantu. Saya bilang sama beliau saya ke sini mau kerja. Mau digaji atau tidak terserah. Setelah hampir satu tahun tinggal di rumah itu, sang polisi kasihan dan dia disuruh tes masuk polisi pada 2002, namun ia gagal.

Pada 2003, disuruh lagi daftar lagi jadi polisi. Kemudian dia lulus dan pendidikan di SPN Pekanbaru. "Setelah saya lulus menjadi anggota polri, saya telepon tetangga melalui wartel," kata dia.

Setelah lulus, orang tua syukuran di kampung. Namun, tak satupun tetangga yang datang ke acara dikarenakan orang sekampung tidak percaya kalau dia lulus menjadi anggota polri karena dia berasal dari keluarga miskin. 

"Tak lama kemudian saya pulang ke kampung dengan berpakaian dinas barulah orang kampung percaya," kata dia. (ridho magribi)





Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama