Wagub Bicara Peta Koalisi di Seminar Departemen Ilmu Politik Universitas Andalas

Narasumber dan peserta foto bersama


PADANG-Dalam menyambut pemilihan umum pada 2024, Departemen Ilmu Politik Universitas Andalas mengadakan seminar tentang proses persiapan pemilu dan potensi-potensi dinamika yang akan terjadi pesta demokrasi rakyat tersebut di Padang, Kamis (17/11/2022). 

Seminar ini menghadirkan tiga pembicara utama, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Audy Joinaldy,  anggota KPU Sumatera Barat, dan dosen Ilmu Politik Universitas Andalas, Yuzalman Indah Adi Putri.  Seminar dipandu dosen Ilmu Politik Universitas Andalas, Andri Rusta. 

Audy menyampaikan pemilu 2024 menyajikan hal yang berbeda sekaligus lebih besar dari pemilu-pemilu sebelumnya karena dilaksanakan secara serentak untuk memilih presiden/wakil presiden, legislatif pusat dan daerah. 

Melihat dinamika yang terjadi pada tingkat masyarakat, idealnya kontestasi untuk pemilihan presiden bisa menghadirkan lebih dari dua calon, kalau bisa empat pasang calon untuk menghindarkan keterbelahan publik. 

Misalnya melalui simulasi yang ia susun, koalisi antara Golkar, PPP, dan PAN memiliki komposisi dukungan 25.73 persen parlemen; koalisi Gerindra dan PKB memiliki 23.84 persen kursi parlemen: koalisi NasDem, Demokrat, dan PKS memiliki 28.35 persen kursi DPR dan PDIP menjadi satu-satunya partai yang dapat mencalonkan kandidat presiden tanpa membangun koalisi karena memiliki 22.26 persen kursi di legislatif. 

"Penyusunan simulasi ini merujuk pada aturan ambang batas pencalonan presiden presidential threshold yang mensyaratkan pencalonan capres/cawapres minimal memiliki dukungan suara minimal 20 persen dari parlemen," kata Audy.


Wakil Gubernur Audy juga mengulas terkait isu-isu yang mungkin timbul pada pemilu 2024 seperti politik uang, netralitas ASN dan birokrasi, dan lain sebagainya.


Yuzalmon menyampaikan, pemilu 2024 merupakan sarana untuk mempersatukan bangsa. Yuzalmon berharap pemilu 2024 dapat menjadi sarana pendewasaan politik bangsa Indonesia dimana kontestan bisa berkompetisi secara sehat dan tidak memecah belah kesatuan bangsa Indonesia. Dari segi pemilih, narasumber juga mengatakan, Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi dengan jumlah pemilih yang besar di Indonesia. 

Yuzalman mengimbau para mahasiswa memastikan bahwa mereka terdaftar sebagai pemilih dan menggunakan hak pilih mereka pada pemilu mendatang. Yuzalmon juga mengatakan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran aktif untuk turut mensukseskan pemilu 2024 dimana mahasiswa dapat menjadi salah satu garda terdepan dalam mencerdaskan pemilih. 

"Mahasiswa dapat membantu mencegah munculnya residu-residu politik yang berkepanjangan di level akar rumput sebagai imbas kontestasi politik yang sangat ketat selama berlangsungnya proses pemilu. Yuzalmon mengarisbawahi bahwa pemilu pada dasarnya merupakan kerja kolosal dimana keberhasilan pelaksanaanya sangat membutuhkan dukungan semua pihak. Untuk hal ini, kampus memiliki peran strategis untuk mendukung kesuksesan pemilu 2024 khususnya dalam mencerdaskan masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya," kata dia.

Sementara Indah Adi Putri dalam pemaparannya fokus pada keterlibatan aktif kaum perempuan pada pemilu mengingat perempuan merupakan salah satu komponen pemilih dengan jumlah yang sangat signifikan. Indah mengatakan bahwa banyak tokoh perempuan dari Sumatera Barat yang memiliki kontribusi besar bagi kehidupan masyarakat seperti Rasuna Said, Siti Manggopoh, dan Rohana Kudus. 

Oleh karena itu, seharusnya tidak ada alasan yang menjadi penghambat peran aktif kaum perempuan di politik. Lebih lanjut Indah mengatakan bahwa keterwakilan politik perempuan merupakan suatu hal penting untuk mencapai kesetaraan gender di bidang politik. Meskipun saat ini terdapat kuota 30 persen untuk representasi politik perempuan, peran kaum perempuan lebih banyak menjadi pelengkap untuk memenuhi persyaratan administrasi daripada pengambil peran-peran strategis. Hal ini juga tak lepas dari budaya patriarki yang menempatkan kaum laki-laki lebih superior dibandingkan perempuan. 

"Oleh karena itu, kaum perempuan harus memiliki mindset untuk mengambil peran aktif dalam proses-proses politik yang berlangsung selama pemilu. Untuk meningkatkan partisipasi politik, kaum perempuan bisa memulainya dengan turut terlibat aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat. Namun hal ini juga sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak agar kaum perempuan betul-betul mampu menunjukan peran aktif dalam aktivitas politik tutur," kata dia. 

Peserta seminar yang seluruhnya mahasiswa sangat antusias mengikuti jalannya diskusi. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan yang membuat diskusi menjadi semakin interaktif. Beberapa hal yang mereka pertanyakan seputar upaya KPU meningkatkan partisipasi politik generasi muda khususnya pemilih pemula, mengapa keterwakilan perempuan relatif rendah di politik Indonesia, bagaimana meningkatkan partisipasi politik perempuan ditengah hambatan internal dari diri perempuan sendiri, usaha-usaha pencegahan pelanggaran pemilu dan peran KPU untuj menyelanggarakan pemilu yang berkualitas, peluang penerepan pemilu dengan e-voting, perekrutan KPPS dan profesionalitas pelaksana pemilu, insentif koalisi parpol di level nasional dan daerah, serta peran KPU dalam mengatasi tingkat kerawanan pemilu dan partisipasi pemilih Sumatera Barat. 

Seminar dibuka Dekan FISIP Unand, Dr. Azwar. Azwar sangat mengapresiasi civitas akademika di Departemen Ilmu Politik yang terus aktif melaksanakan kegiatan sepanjang tahun ini. (*)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama