![]() |
| Panorama Maninjau yang aduhai, tapi danau tercemar. (pegi-pegi) |
PADANG-Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan program penyelamatan Danau Maninjau menelan biaya hingga Rp237 miliar.
Angka sebesar itu dibutuhkan untuk pengerukan sedimen sisa pakan dan kotoran ikan yang selama berpuluh-puluh tahun mengendap di dasar danau. Penyebabnya karena banyaknya keramba jaring apung (KJA) yang belum tertata sesuai dengan daya dukung dan daya tampung danau, sehingga terjadi penurunan kualitas sumber air danau, hingga berstatus cemar berat.
Hal ini disampaikan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan dalam rapat koordinasi tata kelola Danau Maninjau sebagai destinasi pariwisata secara virtual bersama Gubernur Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Audy Joinaldy yang dihadiri jajaran Kepala OPD di ruang rapat kantor gubernur, Selasa (18/5/2021).
Luhut mengatakan, pada 2019 maninjau telah ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional (KSN) dan kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). Berdasarkan data LIPI, terdapat 22.078 unit KJA yang beroperasi di Danau Maninjau.
Jumlah tersebut melebihi 3,5 kali lipat daya tampung. "Peraturan daerah Agam Nomor 5/2014 tentang Pengelolaan Kelestarian Danau Maninjau membatasi jumlah KJA hingga 6.000 unit, itu pun tidak bisa menjamin kelestarian danau," ungkapnya.
Aktivitas budidaya KJA menyumbang 91 persen beban pencemaran di danau. Limbah tersebut meningkatkan kandungan nitrat dan fosfor di dalam udara sehingga status trofik air danau pada 2019 adalah hipertrofik (tinggi akan unsur organik).
Berdasarkan hasil penelitian LIPI pada 2017, 95 -97 persen dari total volume danau kandungan oksigen sangat rendah . Oleh karena itu, hanya 3-5 persen luasan volume Danau Maninjau yang bisa menjadi tempat kehidupan biota.
Dikatakan Luhut, volume sedimen yang harus disedot adalah 2.745.000 meter kubik. Penyedotan sedimentasi akan dilakukan dengan menggunakan alat drag flow pump.
Kapasitas drag flow pump yang akan digunakan 1.000 meter kubik/jam selama 2.745 jam. "Semua itu membutuhkan biaya penyedotan sedimentasi 2.745.000 meter kubik Rp237 miliar dengan waktu operasi selama 65 minggu. Biaya tersebut termasuk biaya penggunaan alat," jelasnya.
Luhut Binsar Pandjaitan berharap bisa menciptakan kawasan Danau Maninjau menjadi destinasi pariwisata berkelanjutan dan berkualitas melalui revitalisasi kawasan danau dan juga dimanfaatkan sebagai lokasi sumber air PLTA .
Mahyeldi Ansharullah mengatakan, revitalisasi kawasan danau sangat penting, karena sudah masuk dalam kawasan strategis pariwisata nasional. Menurutnya potensi wisata di kawasan Maninjau sangat besar, baik di sisi alam, kuliner, budaya dan sejarahnya.
Bahkan kawasan ini juga kampungnya tokoh-tokoh besar seperti Buya Hamka dan banyak lainnya. "Insya Allah, adanya objek wisata Geopark Danau Maninjau, masyarakat kita akan bisa merasakan manfaatnya. Kemudian kita bisa jadikan sebagai kawasan wisata religi," kata Mahyeldi.
Gubernur berharap dapat dukungan dari Menko Marves dan menunggu kebijakan dan langkah-langkah yang akan disepakati Kemenko Marves. (BIRO HUMAS SETDAPROV SUMBAR)
