Mensos Temui Keluarga Korban Tambang Emas

 Menteri Sosial foto bersama usai menyerahkan bantuan.

SOLOK SELATAN-Banyak warga tertimbun saat menambang emas membuat Menteri Sosial Tri Rismaharini prihatin. Dia terbang ke Solok Selatan, sebelumnya transit di BIM setelah mendarat dari Jakarta, Rabu (12/5/2021).

Menteri Sosial menyatakan berduka atas peristiwa itu. Dia sedih ada bencana yang menimpa rakyat di saat akan menghadapi Lebaran. Warga yang bekerja di tambang berjuang demi kebutuhan keluarga masing-masing. "Kita berharap bulan-bulan berikutnya tidak ada lagi korban dikarenakan mencari nafkah," ujar mantan Wali Kota Surabaya itu.

Menurut Risma, Solok Selatan memiliki alam yang subur. Dia mengaku sudah berbicara dengan Wakil Gubernur Audy Joynaldi tentang perlunya kehidupan yang lebih rendah tingkat risikonya. "Semua memang harus ada risiko, tapi kita bisa hindarkan," katanya.

Risma bercerita tentang pengalamannya di Surabaya membina ibu-ibu yang dulu biasa-biasa saja, kemudian menjadi luar biasa serta mampu menyekolahkan putra-putrinya hingga perguruan tinggi. 

Risma menyebutkan, yakinlah Tuhan memberikan jalan keluar atas tiap persoalan yang dihadapi. Dia berharap Bupati Solok Selatan bisa mencarikan alternatif, supaya tidak ada lagi korban lain dan tidak ada lagi anak-anak yang kehilangan orang tua.

Dalam kunjungan ke Solok Selatan, menteri mendarat di GOR Rimbo Tangah. Menteri beserta rombongan disambut Bupati Khairunas bersama Wakil Bupati Yulian Efi dan pejabat daerah lainnya. 

Rombongan selanjutnya bertemu dengan keluarga korban di kantor bupati. Khairunas menyampaikan, sebagian masyarakat Solok Selatan mampu menjalankan usaha di sektor perkebunan sawit dan karet, namun sebagian besar dari masyarakat petani masih dihadapkan pada persoalan rendahnya nilai jual hasil komoditi pertanian.

Di lain pihak, Solok Selatan kaya dengan potensi sumber daya mineral, salah satunya adalah emas, sehingga mencari emas sudah menjadi budaya masyarakat sejak dahulu kala.

Menurut Khairunnas, kejadian pada Senin lalu, merupakan salah satu dari beberapa musibah serupa yang terjadi di Solok Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun kejadian itu memang terbesar dengan jumlah korban yang cukup banyak.

Dikatakan Khairunnas, 60 warga melakukan aktivitas penambangan tradisional. "Sekitar pukul 07.30, terjadi longsor yang diakibatkan curah hujan," ujar Khairunnas.

Tercatat delapan warga meninggal dunia sembilan luka-luka akibat tertimpa ditimbun longsoran. "Kami sudah melakukan langkah langkah membantu para korban, mengevakuasi dan memberikan bantuan dan santunan pada keluarga," ujar bupati.

Agar peristiwa ini tidak terulang kembali, Pemkab Solok Selatan berupaya mengalihkan budaya menambang emas sebagai mata pencarian menjadi fokus pada sektor pertanian dan peternakan. (*)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama