PADANG PANJANG-Di tengah terik matahari siang, helai-helai Bendera Merah Putih berkibar di sisi jalan Pasar Pusat Kota Padang Panjang. Warna merahnya menyala, putihnya memantulkan cahaya, seolah ikut menyambut bulan kemerdekaan.
Di balik deretan bendera itu, berdirilah Syalran (63), seorang pria berwajah teduh, yang sudah lebih dari empat dekade menggantungkan hidupnya pada selembar kain lambang negara ini.
Perantau asal Semarang, Jawa Tengah ini, memulai usahanya bersama sang istri sejak 1983. Bahkan jauh sebelumnya, sang istri sudah setia mendengar deru mesin jahit sejak 1976.
Dari usaha kecil di pinggir jalan, Syalran kini berhasil menyewa sebuah toko yang ia beri nama Tunas Fajar, untuk menjual bendera, seragam, dan atribut sekolah. Namun, setiap bulan Agustus, ia tetap kembali ke jalan, menjemput pembeli dengan sapaan ramah.
Bendera yang ia jajakan beragam, mulai dari Rp3.000 untuk ukuran kecil hingga Rp140.000 untuk yang terbesar. Pelanggannya datang dari dalam kota hingga luar daerah.
“Banyak yang dari Batusangkar. Kalau sudah langganan, saya kasih harga spesial. Saya menghargai mereka yang jauh-jauh datang,” ucapnya sambil tersenyum.
Meski tahun ini penjualan menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, Syalran tidak kehilangan semangat. Persaingan dengan pedagang lain ia sikapi dengan lapang dada.
“Saya percaya rezeki sudah ada yang mengatur. Yang penting kita mau berusaha,” katanya penuh keyakinan.
Harapan Syalran sedikit bertambah dengan adanya imbauan Pemerintah Kota Padang Panjang melalui Surat Edaran Wali Kota Nomor 30 Tahun 2025 yang mengajak warga memasang dekorasi Merah Putih dan mengibarkan bendera selama 1–31 Agustus. Kebijakan ini memberi nafas baru bagi para pedagang bendera, termasuk dirinya.
Bagi sebagian orang, Bendera Merah Putih mungkin hanya kain yang dijahit rapi. Namun bagi Syalran, setiap helainya adalah simbol perjuangan. Perjuangan untuk bertahan hidup, membesarkan sembilan anak, dan menjaga api kemerdekaan tetap berkibar, bukan hanya di tiang-tiang kota, tapi juga di hatinya. (mg/shindy/adin)
