SMAN 1 Lubuk Sikaping Gelar Simulasi Gempa Bersama BPBD Pasaman


Pasaman  -- Ketegangan mendadak menyelimuti lingkungan SMAN 1 Lubuk Sikaping saat sirene peringatan bencana meraung nyaring pada Senin pagi (24/11/2025) pukul 09.00 WIB. Ratusan siswa dengan sigap meninggalkan kelas sambil melindungi kepala, mengikuti instruksi petugas secara tertib. Ini bukanlah kejadian darurat, melainkan bagian dari simulasi evakuasi gempa bumi yang dilaksanakan bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Pasaman.

Kegiatan ini bertujuan membangun budaya sadar bencana di kalangan pelajar, terlebih Kabupaten Pasaman dikenal sebagai kawasan yang kerap diguncang gempa. Lokasi geografis yang berdekatan dengan Bonjol – titik rawan aktivitas seismik – menambah urgensi akan edukasi kesiapsiagaan, terutama di sekolah yang menampung ratusan siswa.

“Gempa bisa datang tanpa aba-aba. Di sekolah, tanggung jawab kita bukan hanya mengajar, tapi juga memastikan keselamatan siswa. Simulasi ini adalah bentuk nyata dari kesiapsiagaan,” kata Mardanis Darasan, S.Pd, Kepala SMAN 1 Lubuk Sikaping, saat ditemui usai kegiatan.

Dalam simulasi tersebut, petugas BPBD memandu siswa melalui tahapan “drop, cover, and hold on” saat gempa, serta tata cara evakuasi setelah guncangan berhenti. Jalur aman telah disiapkan menuju titik kumpul di halaman sekolah, lengkap dengan penjelasan risiko bahaya sekunder seperti kabel listrik, puing bangunan, hingga potensi kebakaran.

Guru-guru turut dilibatkan sebagai pengawas dan evaluator, mencatat respons dan kecepatan evakuasi tiap kelas untuk bahan evaluasi kegiatan mendatang. Mereka menilai kesiapan siswa sudah cukup baik namun perlu disempurnakan lewat latihan berkala.

Antusiasme siswa terlihat jelas selama simulasi. Banyak yang menyebut kegiatan ini membuat mereka lebih memahami langkah-langkah penyelamatan diri. Latihan ini juga membekali mereka dengan pengetahuan yang tak hanya berguna di sekolah, tapi juga di rumah atau ruang publik lainnya.

SMAN 1 Lubuk Sikaping menegaskan komitmennya menjadi sekolah tangguh bencana. Dengan mengadakan simulasi secara berkala, pihak sekolah berharap bisa menginspirasi lembaga pendidikan lain di wilayah Pasaman untuk melakukan hal serupa.

Di tengah ketidakpastian bencana alam, kesiapan menjadi satu-satunya alat perlindungan awal. Sekolah ini menunjukkan bahwa dengan latihan, edukasi, dan koordinasi yang baik, potensi korban jiwa dapat diminimalkan secara signifikan


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama