PAYAKUMBUH-Di tengah riuh kendaraan yang melintas di Jalan By Pass Payakumbuh, sebuah bangunan masjid berdiri teduh. Namanya Masjid Musafir. Ia tidak sekadar menjadi penanda waktu salat, tetapi juga tempat bernaung bagi jiwa-jiwa yang sedang dalam perjalanan—baik perjalanan fisik maupun perjalanan iman.
Masjid Musafir resmi dibuka, Kamis (18/12/2025) . Namun sejatinya, sejak awal, masjid ini telah diniatkan sebagai rumah Allah yang terbuka tanpa sekat. Siapa pun boleh singgah. Musafir, pekerja, pelintas jalan, hingga masyarakat sekitar. Semua disambut dalam satu ruang yang sama: ruang penghambaan.
Masjid ini lahir dari sebuah niat yang tumbuh perlahan. Aldi Yunaldi, penggagas Masjid Musafir, memulai pembangunan tiga tahun lalu di atas lahan yang tidak mudah ditaklukkan. Tanahnya labil, prosesnya panjang, dan tantangannya tidak ringan. Namun di balik semua itu, ada keyakinan sederhana: jika niatnya untuk Allah, maka jalan akan dibukakan.
“Masjid ini kami siapkan agar bisa digunakan selama 24 jam,” tutur Aldi dalam peresmian. Kalimat itu terdengar singkat, tetapi maknanya dalam. Sebab, iman tidak mengenal jam operasional. Musafir yang lelah di tengah malam, pengendara yang ingin menenangkan hati, atau siapa saja yang ingin bersujud di luar waktu-waktu ramai—semuanya memiliki ruang di Masjid Musafir.
Masjid ini tidak dirancang hanya untuk salat fardu. Di dalam rencananya, ia akan menjadi tempat tumbuhnya majelis taklim, tabligh akbar, dan pembinaan generasi muda. Sebuah upaya menghidupkan kembali peran masjid seperti pada masa Rasulullah SAW—sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, dan kepedulian sosial.
Kepala Kementerian Agama Kota Payakumbuh melalui Kasi Bimas Islam, Fajri Nur, melihat Masjid Musafir sebagai gambaran masjid ideal. Masjid yang tidak hanya memanggil umat untuk datang, tetapi juga menyiapkan sistem untuk menolong dan memberdayakan.
Di tempat ini, kelak akan dikembangkan pengelolaan zakat dan wakaf. Bukan semata ritual, tetapi ikhtiar agar keberadaan masjid memberi dampak nyata bagi kehidupan umat di sekitarnya.
Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, dalam sambutannya menyentuh sisi yang lebih sunyi: panggilan hati. Menurutnya, tidak semua orang yang diberi kelapangan rezeki mendapatkan panggilan untuk membangun rumah Allah. Masjid Musafir, katanya, adalah bukti bahwa harta yang dititipkan Allah menemukan jalan pulangnya.
Di era ketika masjid kerap ramai hanya di waktu tertentu, Masjid Musafir hadir dengan wajah berbeda. Ia berdiri di jalur lintasan, di antara mobil-mobil yang berlalu, seolah berbisik pelan: berhentilah sejenak, luruskan niat, dan sujudlah.
Lebih dari sekadar bangunan, Masjid Musafir adalah pesan. Bahwa di setiap perjalanan, selalu ada tempat untuk kembali. Bahwa sejauh apa pun langkah manusia melangkah, Allah selalu menyediakan rumah bagi hamba-Nya.
Di Payakumbuh, rumah itu kini bernama Masjid Musafir rumah singgah iman yang pintunya terbuka, siang dan malam. (jnd)
