Adat Telah Menjalankan Fungsinya, Kesepakatan Ka Ompek Suku atas Pasar Payakumbuh Sah dan Mengikat

Zeki Dt Paduko Sati Marajo 


PAYAKUMBUH-Polemik terkait pembangunan Pasar Payakumbuh yang kembali mencuat ke ruang publik perlu dilihat secara utuh dan jernih dari sudut pandang adat Minangkabau. 

Isu yang berkembang mengenai klaim “ninik mamak belum sepakat” dinilai tidak sejalan dengan fakta adat yang ada.

Dalam adat Minangkabau, tanah ulayat merupakan pusako tinggi yang kewenangan keputusannya berada pada suku-suku pemilik ulayat. Keputusan atas pusako tinggi ditentukan melalui mufakat Ka Ompek Suku, bukan oleh pendapat perorangan dan bukan pula oleh pernyataan di luar forum adat.

Dalam persoalan Pasar Payakumbuh, Ka Ompek Suku sebagai pemegang kedaulatan adat telah mencapai kesepakatan bersama terkait pemanfaatan tanah ulayat. Kesepakatan tersebut kemudian disetujui dan diperkuat oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Nan Ompek sebagai lembaga adat nagari.

Penting dipahami masyarakat bahwa Ka Ompek Suku dalam Nagari Koto Nan Ompek bukan unsur simbolik, melainkan pemilik pusako kato dan pusako hak. 

Kedaulatan tanah ulayat berada pada suku, sementara KAN berfungsi mengesahkan dan menjaga keputusan mufakat tersebut agar berlaku dalam tatanan nagari. Ketika Ka Ompek Suku telah bermufakat dan KAN menyetujuinya, maka secara adat kato adat telah sampai ke puncaknya—sah, final, dan mengikat seluruh unsur adat nagari.

Dalam adat Minangkabau juga ditegaskan: “Kato mufakat alah bakuaso, indak buliah dipatahkan dek kato sorang.”

Keputusan bersama tidak dapat dibatalkan oleh pendapat individual, sekalipun berasal dari tokoh adat.

Tokoh adat Koto Nan Ompek, Dr. (C) Zeki Oktariza Karini, SH, MH, Dt. Paduko Sati Marajo, menegaskan bahwa keputusan terkait Pasar Payakumbuh berangkat dari mufakat Ka Ompek Suku.

"Urusan tanah ulayat itu wewenang suku. Nan dipakai itu kato mufakat Ka Ompek Suku. Kalau alah mufakat, indak ado kato lain nan bisa mambaliakkannyo,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa adat Minangkabau tidak menghambat pembangunan, selama keputusan tersebut lahir dari mufakat adat.

"Adat indak manghalang pembangunan. Adat justru jadi payuang supaya pembangunan bajalan luruih dan baraka,” tambahnya.

Adapun Ka Ompek Suku dalam Nagari Koto Nan Ompek yang telah menyatakan mufakat dalam persoalan Pasar Payakumbuh tersebut adalah:

Suku Bodi Chaniago — H. Makmur Asykarullah, Dt. Sinaro Kayo

Suku Sembilan Ompek Parompek — Tegas Teguh Kata, Dr. Rajo Mantiko Alam

Suku Limo Nan Tujuh — Yamer Edi, Dt. Penghulu Rajo Nan Data

Suku Ompek Niniak — Noveri, Dt. Rajo Pangulu

Sebagai tindak lanjut administratif, Pemerintah Kota Payakumbuh bersama KAN Koto Nan Gadang dan KAN Koto Nan Ompek juga mencatatkan kesepahaman dalam sebuah rapat koordinasi bertempat di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) terkait Tanah Ulayat Nagari Koto Nan Godang dan Koto Nan Ompek, Jakarta 21/12/2025

Seiring beredarnya berbagai pandangan di ruang publik, klarifikasi adat ini disampaikan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang lurus. 

Secara adat, pendapat di luar mufakat Ka Ompek Suku tidak membatalkan keputusan yang telah disepakati bersama dan disetujui KAN.

Zeki Dt Paduko Sati Marajo juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama, tokoh masyarakat, hingga masyarakat Kota Payakumbuh secara luas, untuk bersama-sama mendukung Pemerintah Kota Payakumbuh dalam mewujudkan pembangunan Pasar Payakumbuh.

“Pembangunan pasar ini adalah untuk kepentingan orang banyak. Kalau adat alah mufakat, mari kito basamo-samo manyokong pemerintah demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kota Payakumbuh,” ujar Zeki Dt Paduko Sati Marajo melalui pesan WhatsApp, Kamis malam (1/1/2026).(jnd)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama