Ketika Bencana Tak Menunggu, Suliki Siapkan 60 Penjaga dari Enam Nagari


Penyerahan dana bantuan


LIMAPULUH KOTA–Bencana hampir selalu datang tanpa memberikan banyak waktu untuk berpikir. Ketika hujan deras memicu banjir, tanah mulai bergerak, angin kencang merobohkan bangunan atau api membesar di kawasan permukiman, masyarakat setempat menjadi pihak pertama yang berhadapan dengan keadaan darurat.

Petugas pemerintah, kepolisian, TNI dan relawan mungkin sedang bergerak menuju lokasi. Namun, pada menit-menit awal yang menentukan, keselamatan warga sangat bergantung pada pengetahuan, keberanian dan kesiapan masyarakat di sekitar tempat kejadian.

Kesadaran itulah yang menjadi dasar pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) Sulam Naga di Kecamatan Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota.

Sebanyak 60 orang yang berasal dari enam nagari dikukuhkan sebagai pengurus KSB Sulam Naga dalam apel pengukuhan sekaligus Simulasi Uji Standar Operasional Prosedur Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana, Minggu, 5 Juli 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat tersebut tidak hanya menjadi acara pengukuhan organisasi baru. Kegiatan itu sekaligus menjadi ujian awal bagi masyarakat Suliki dalam menghadapi situasi darurat secara cepat, tepat dan terkoordinasi.



KSB Sulam Naga beranggotakan perwakilan masyarakat dari Nagari Andiang, Suliki, Limbanang, Tanjung Bungo, Kurai dan Sungai Rimbang.

Enam puluh pengurus tersebut dipersiapkan menjadi penggerak kesiapsiagaan di nagari masing-masing. Mereka akan menjalankan peran mulai dari memberikan edukasi kepada masyarakat, memetakan potensi ancaman, melakukan langkah mitigasi, membantu membangun sistem peringatan dini hingga melakukan penanganan awal ketika bencana terjadi.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Limapuluh Kota, Indra Suryani, mengatakan pembentukan Kampung Siaga Bencana bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan menghadapi ancaman di lingkungannya.

Menurutnya, penanggulangan bencana tidak hanya dimulai ketika bencana telah terjadi. Upaya tersebut harus dimulai jauh sebelumnya melalui pemetaan risiko, edukasi, pelatihan serta pembentukan organisasi masyarakat yang memahami tugas masing-masing.

“Tujuan kegiatan ini adalah memfasilitasi pembentukan Kampung Siaga Bencana sekaligus mempersiapkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana. Masyarakat harus memahami potensi dan risiko bencana di wilayahnya sehingga mampu melakukan antisipasi secara mandiri,” ujar Indra Suryani.



Pelaksanaan program tersebut dilakukan oleh Tim Kelompok Kerja Mitigasi dengan dukungan teknis dari Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat dan Dinas Sosial Kabupaten Limapuluh Kota.

Indra menegaskan, pengurus KSB bukan sekadar nama yang dicantumkan dalam surat keputusan. Mereka diharapkan menjadi ujung tombak dalam membangun kesadaran masyarakat dan melakukan penanganan awal sebelum bantuan dalam skala lebih besar tiba di lokasi.

“Pengurus ini merupakan perwakilan masyarakat dari enam nagari yang nantinya menjadi ujung tombak dalam edukasi, mitigasi dan penanganan awal apabila terjadi bencana di wilayah masing-masing,” jelasnya.

Bupati Limapuluh Kota, Safni Sikumbang, mengingatkan bahwa Kabupaten Limapuluh Kota memiliki kekayaan alam yang besar. Namun, kondisi geografis daerah itu juga menyimpan potensi ancaman bencana yang perlu dihadapi secara serius.

Banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kebakaran dan berbagai bencana lainnya dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, penanganan bencana tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah dan petugas kebencanaan.

Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri, membantu kelompok rentan, mengenali jalur evakuasi dan mengambil tindakan awal tanpa harus menunggu instruksi terlalu lama.

“Kampung Siaga Bencana merupakan wadah untuk meningkatkan kewaspadaan, kesiapsiagaan dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi risiko bencana,” kata Safni.

Melalui KSB, masyarakat diharapkan tidak lagi hanya menjadi objek yang menunggu pertolongan. Warga diarahkan menjadi bagian aktif dalam sistem penanggulangan bencana berbasis nagari.

“Masyarakat diharapkan mampu mengenali potensi ancaman di lingkungannya, melakukan langkah-langkah pencegahan, serta bertindak cepat dan tepat ketika terjadi bencana,” lanjutnya.

Menurut Bupati, pengukuhan pengurus KSB Sulam Naga bukan sekadar seremoni. Di balik pembacaan ikrar dan penyematan identitas pengurus, terdapat tanggung jawab besar untuk melindungi masyarakat.

Para pengurus harus mampu menjadi motor penggerak dalam memberikan edukasi, menyusun pola koordinasi dan membangun sistem peringatan dini di tingkat nagari.

“Saya berharap para pengurus yang telah dikukuhkan mampu menjadi motor penggerak dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, membangun sistem peringatan dini di tingkat nagari, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan bencana,” ujarnya.

Setelah apel pengukuhan dan pembacaan ikrar siaga bencana, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi penanganan keadaan darurat.

Simulasi tersebut melibatkan Taruna Siaga Bencana atau Tagana, unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, relawan dan masyarakat. Setiap unsur menjalankan peran sesuai standar operasional prosedur yang telah disiapkan.

Latihan itu menjadi bagian penting dalam pembentukan KSB. Sebab, pengetahuan tentang kebencanaan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori dan sambutan.

Masyarakat perlu memahami siapa yang memberikan informasi, siapa yang membantu proses evakuasi, ke mana warga harus bergerak, bagaimana kelompok rentan diselamatkan, serta bagaimana koordinasi dengan petugas dilakukan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.

Melalui simulasi, kesiapan personel dan pola komunikasi antarunsur diuji. Kekurangan dalam koordinasi dapat diketahui sebelum masyarakat menghadapi bencana sesungguhnya.

Jajaran Polsek Suliki menyatakan siap mendukung keberadaan KSB Sulam Naga sebagai mitra pemerintah dan aparat dalam penanganan kebencanaan maupun kegiatan kemanusiaan.

“Melalui pelatihan ini masyarakat memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dan berpartisipasi dalam penanggulangan bencana. Polsek Suliki siap mendukung dan bersinergi dengan Kampung Siaga Bencana dalam setiap upaya penanganan kebencanaan maupun kegiatan kemanusiaan,” ujar perwakilan Polsek Suliki.

Pembentukan KSB Sulam Naga juga diperkuat dengan bantuan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dari Kementerian Sosial Republik Indonesia senilai Rp157.577.500.

Bantuan tersebut mencakup dukungan pembentukan Kampung Siaga Bencana, fasilitasi pembentukan dan pengisian logistik Lumbung Sosial, serta pelaksanaan program Tagana Masuk Sekolah.

Keberadaan Lumbung Sosial menjadi salah satu unsur penting dalam sistem kesiapsiagaan. Logistik dasar disiapkan lebih dekat dengan masyarakat sehingga dapat digunakan ketika akses menuju wilayah terdampak terganggu atau bantuan dari luar belum sampai.

Sementara itu, program Tagana Masuk Sekolah diarahkan untuk memperkenalkan pengetahuan kebencanaan kepada pelajar. Pendidikan kesiapsiagaan sejak usia sekolah diharapkan membentuk generasi yang memahami risiko di lingkungannya dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan saat menghadapi keadaan darurat.

Pembentukan sebuah organisasi tidak dengan sendirinya membuat masyarakat menjadi tangguh. Efektivitas KSB Sulam Naga akan ditentukan oleh aktivitas para pengurus setelah pengukuhan.

Pemetaan kawasan rawan, penyusunan jalur evakuasi, pendataan warga lanjut usia, anak-anak dan penyandang disabilitas, pelaksanaan latihan berkala serta pembentukan sistem komunikasi darurat menjadi pekerjaan yang harus dilanjutkan di enam nagari.

Kesiapsiagaan juga perlu masuk ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga tidak hanya diminta mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana datang, tetapi juga menjaga lingkungan dan mengurangi tindakan yang dapat memperbesar risiko bencana.

Safni Sikumbang mengajak masyarakat Kecamatan Suliki menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya. Kepedulian terhadap lingkungan, pelestarian alam dan semangat gotong royong harus menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko.

“Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota berkomitmen untuk terus mendukung berbagai program peningkatan kapasitas masyarakat di bidang kebencanaan sehingga terwujud masyarakat yang tangguh, mandiri dan siap menghadapi bencana,” tegasnya.

Pengukuhan 60 pengurus KSB Sulam Naga menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan organisasi tersebut tetap aktif, rutin berlatih dan hadir di tengah masyarakat.

Sebab, ukuran keberhasilan Kampung Siaga Bencana bukan terletak pada banyaknya seremoni atau seragam yang dikenakan. 

Keberhasilannya akan terlihat ketika masyarakat mampu mengenali ancaman, memperingatkan sesama, menyelamatkan kelompok rentan dan bergerak secara terkoordinasi pada saat bencana benar-benar datang.

Di Suliki, benteng pertama menghadapi bencana kini mulai dibangun. Bukan hanya melalui peralatan dan bantuan logistik, tetapi melalui pengetahuan, keberanian dan gotong royong masyarakat dari enam nagari. (LIPUTAN KHUSUS PEMKAB LIMAPULUH KOTA)



Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama