![]() |
| Ketua Bawaslu Kota Payakumbuh Aan Muharman, S.H |
PAYAKUMBUH-Pemilu 2029 memang masih beberapa tahun lagi. Namun bagi Bawaslu Kota Payakumbuh, menyiapkan pemilih tidak harus menunggu tahapan Pemilu dimulai.
Melalui kegiatan SERU bersama siswa-siswi SMAN 4 Payakumbuh, Jumat (4/9/2026) Bawaslu mulai masuk ke ruang yang akan banyak menentukan wajah Pemilu mendatang: generasi muda dan dunia digital.
Ketua Bawaslu Kota Payakumbuh Aan Muharman, S.H. mengingatkan, generasi yang hari ini duduk di bangku sekolah akan menjadi bagian penting dari pemilih pada Pemilu dan Pilpres 2029. Karena itu, kemampuan memahami informasi dinilai sama pentingnya dengan menggunakan hak pilih.
Menurut Aan, kehidupan generasi muda saat ini tidak bisa dilepaskan dari telepon genggam dan media sosial. Foto, video, potongan percakapan, meme hingga komentar dapat menyebar dalam hitungan menit.
Satu klik, katanya, bahkan dapat membawa sebuah informasi kepada ribuan hingga jutaan orang.
Karena itu, siswa diingatkan agar tidak membiarkan “jempol lebih cepat daripada pikiran” ketika memberikan komentar, membagikan informasi maupun mengunggah sebuah konten
Perubahan teknologi juga ikut mengubah medan pengawasan Pemilu.
Bawaslu menilai pengawasan tidak lagi cukup hanya dilakukan ketika masyarakat datang mencoblos di Tempat Pemungutan Suara. Ruang digital juga menjadi bagian yang harus diawasi.
Bawaslu memiliki peran mencegah penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian dan kampanye hitam, sekaligus mendorong masyarakat ikut dalam pengawasan partisipatif.
Pesannya sederhana: pengawasan Pemilu sekarang bukan hanya di TPS, tetapi juga di timeline.
Tantangan itu semakin besar dengan perkembangan Artificial Intelligence atau AI.
Gambar, suara hingga video kini dapat dibuat atau dimanipulasi sehingga menyerupai keadaan sebenarnya. Bawaslu mengingatkan generasi muda agar tidak sekadar bertanya apakah sebuah konten terlihat asli, tetapi juga mencari tahu dari mana sumber awal informasi tersebut berasal.
Menjelang 2029, Bawaslu ingin pelajar tumbuh menjadi pemilih yang kritis. Siswa diingatkan untuk mencari informasi sebelum menentukan pilihan, tidak menjadikan viralnya sebuah konten sebagai dasar memilih, memeriksa sumber dan konteks informasi serta tidak ikut menyebarkan fitnah, kampanye hitam.
Perbedaan pilihan, menurut Bawaslu, merupakan hal biasa dalam demokrasi. Namun pilihan politik seharusnya lahir dari informasi yang benar, bukan karena masyarakat digiring oleh informasi palsu atau menyesatkan.
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diajak mengenali ciri-ciri informasi mencurigakan, mulai dari sumber yang tidak jelas, tidak adanya tanggal, menggunakan kalimat provokatif hingga adanya ajakan untuk buru-buru menyebarkan sebuah pesan.
Bawaslu kemudian menanamkan lima pertanyaan sederhana sebelum seseorang membagikan informasi: siapa yang membuatnya, dari mana sumbernya, kapan dibuat, apa buktinya dan apakah ada sumber lain yang membenarkan.
Bagi Bawaslu, anak muda pada 2029 tidak cukup hanya datang ke TPS. Mereka juga diharapkan mampu menjadi bagian dari penjaga demokrasi di ruang digital.
Pesan yang dibawa Aan kepada pelajar pun sederhana: “Saring sebelum sharing, cek sebelum percaya, pikir sebelum viral. Di tengah derasnya informasi, kecanggihan AI dan politik yang semakin berpindah ke layar telepon genggam, pekerjaan menjaga kualitas Pemilu tampaknya memang tidak lagi dimulai pada hari pencoblosan.
Ia dimulai jauh sebelumnya—dari kemampuan seorang pemilih membedakan mana informasi, mana manipulasi. (jnd)
