KKN ITB Widya Gama Lumajang Tinggalkan Jejak di Kertowono, dari Inovasi Produk hingga Digitalisasi Desa

 Mahasiswa KKN ITB Widya Gama Lumajang berfoto bersama perangkat Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Foto: Dok. KKN ITB Widya Gama Lumajang)


LUMAJANG-Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang meninggalkan sejumlah program di Desa Kertowono, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, setelah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Program yang dijalankan tidak hanya menyasar sektor ekonomi. Mahasiswa juga mendorong penguatan UMKM, memberikan edukasi kepada siswa sekolah dasar, hingga membantu digitalisasi desa melalui optimalisasi situs web Desa Kertowono.

Salah satu program utama menyasar pengembangan ekonomi kreatif dan UMKM. Kegiatan itu diawali dengan Pelatihan Pengembangan Potensi Ekonomi Kreatif Desa yang digelar pada Senin, 10 Agustus 2026 lalu, di Kantor Desa Kertowono.

Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa mendampingi pelaku UMKM, masyarakat, dan ibu-ibu PKK mengenai kreativitas produk, kemasan, branding, serta strategi pemasaran melalui media digital. Materi disampaikan Dosen Pembimbing KKN, Ayu Nareswari, S.E., M.M.

Ayu mengatakan, potensi lokal yang dimiliki Desa Kertowono perlu diolah agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah.

“Potensi lokal yang dimiliki Kertowono sangat besar. Karena itu, masyarakat perlu terus didorong untuk mengembangkan komoditas yang ada menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah, didukung kemasan, identitas produk, dan pemasaran yang lebih baik,” kata Ayu kepada Liputankini.com, Selasa (01/09/2026).

Menurutnya, pendampingan kemudian dilanjutkan dengan praktik pengolahan kopi lokal. Dari program tersebut, mahasiswa bersama masyarakat menghasilkan tiga inovasi produk, yakni brownies kopi, brownies krispi, dan sirup kopi.

Produk-produk tersebut menjadi upaya mendorong masyarakat agar tidak hanya menjual kopi sebagai bahan mentah. Komoditas lokal diolah menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar lebih luas.

“Pengembangan produk juga diarahkan untuk memperkuat identitas produk lokal Kertowono. Mulai dari pengolahan, kemasan, hingga branding menjadi bagian dari proses agar produk UMKM memiliki daya tarik lebih kuat,” jelas Ayu.

Hasilnya kemudian diperkenalkan dalam Bazar UMKM 2026 yang digelar pada 22 Agustus 2026 di Lapangan Desa Kertowono.

Puluhan stan memamerkan berbagai produk unggulan masyarakat, mulai dari olahan teh, kopi lokal, camilan tradisional, hingga produk hasil inovasi mahasiswa dan masyarakat.

Sementara itu, Ketua KKN, Moh. Irfannun Nafik, mengatakan bazar menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus melihat peluang pasar.

“Kami ingin program yang dilakukan tidak berhenti ketika KKN selesai. Melalui bazar, kami memberikan ruang kepada masyarakat dan pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka, sekaligus melihat peluang untuk mengembangkan pasar,” ujar Irfan.

Dia menjelaskan, bazar tidak hanya diisi aktivitas jual beli. Penampilan seni siswa-siswi SDN Kertowono, pertunjukan mahasiswa KKN, serta hiburan bersama masyarakat dan pelaku UMKM, juga turut meramaikan kegiatan tersebut.

Selain UMKM, Irfan menambahkan, mahasiswa juga menyasar pendidikan dasar. Pada 11-13 Agustus 2026, edukasi mengenai menabung dan kewirausahaan diberikan kepada siswa SDN 01, 03, 04, dan 06 Kertowono.

Siswa kelas 1-3 diperkenalkan dengan pentingnya menabung dan mengelola uang saku melalui kegiatan kreatif. Sementara siswa kelas 4-6 mendapatkan materi dasar kewirausahaan, mulai dari keberanian mencoba, kreativitas, kemandirian, hingga kemampuan melihat peluang di lingkungan sekitar.

“Materi diberikan melalui praktik agar lebih mudah dipahami siswa,” ungkapnya.

Lebih lanjut Irfan memaparkan, program KKN juga menyentuh aspek digitalisasi. Mahasiswa mendampingi optimalisasi situs web Desa Kertowono sebagai media informasi dan komunikasi desa.

Situs web tersebut, kata dia, tidak hanya diarahkan untuk menyampaikan informasi pemerintahan. Platform itu juga diposisikan sebagai etalase digital yang memuat potensi Kertowono, termasuk UMKM, pertanian, wisata, dan kekayaan budaya desa.

Menurut Irfan, keberadaan situs web dapat membantu memperluas jangkauan informasi mengenai potensi Desa Kertowono.

“Website desa kami arahkan agar tidak hanya berfungsi sebagai media informasi pemerintahan, tetapi juga menjadi etalase digital yang dapat memperkenalkan UMKM, pertanian, wisata, dan budaya Kertowono kepada masyarakat yang lebih luas,” tuturnya.

Rangkaian KKN kemudian ditutup pada akhir Agustus 2026. Penutupan menjadi momentum untuk menunjukkan sejumlah hasil program yang telah dijalankan mahasiswa bersama masyarakat.

Salah satu agenda utamanya adalah peluncuran situs web Desa Kertowono. Peluncuran tersebut menjadi penanda dimulainya langkah baru desa dalam memperkuat kehadiran di ruang digital.

Rangkaian penutupan juga diisi dengan kegiatan Bantengan. Kesenian tradisional tersebut menghadirkan suasana meriah sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk merayakan kebersamaan.

Di sisi lain, Ayu juga mengatakan, keberlanjutan menjadi bagian penting dari program yang telah dijalankan.

“Harapan kami, apa yang sudah dimulai selama KKN dapat dilanjutkan oleh masyarakat. Inovasi produk, penguatan UMKM, edukasi anak-anak, dan digitalisasi desa merupakan langkah awal yang masih bisa dikembangkan sesuai kebutuhan dan potensi Kertowono,” pungkasnya. (rus)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama