Bertambah 8, Total Kasus Positif Virus Corona di Indonesia Jadi 27

loading...

Ruang isolasi pasien corona di RSUP Persahabatan, DKI Jakarta.

JAKARTA, MJ News - Pemerintah kembali mengumumkan penambahan kasus positif virus Corona atau Covid-19 di Indonesia. Pasien yang positif bertambah 8 orang dan jika ditotal dengan yang sebelumnya menjadi 27 kasus.

"Tadi seharian saya ke kantor, ke PNBP. Bertemu dengan tim laboratorium yang menangani ini. Saya sempat ketemu kepala Balitbang, saya akan mengumumkan yang confirm positif. Kita kemarin pasien dengan kode 1-19," kata Juru Bicara Penanganan Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di Kantor Presiden kepada wartawan di Kantor Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2020).

"Demikian informasi pasien dari nomor 20 sampai 27," tambahnya.

Ke-8 pasien yang baru saja dinyatakan positif virus corona ada yang tertular di luar negeri.

Ada 2 Kasus Berangsur Membaik

Sebelumnya, Yuri mengatakan kondisi kasus pasien 06 yaitu anak buah kapal (ABK) Diamond Princess sudah berangsur baik pada hari ke-5, Selasa (10/3). Tidak hanya itu, kata dia, setelah melakukan pemeriksaan pertama hasilnya pasien tersebut negatif virus corona (COVID-19)

"Bahwa kasus 06 ini sudah masuk hari ke-5, pemeriksaan sudah negatif," kata Yuri.

Tetapi, dia menjelaskan, tim medis akan melakukan pemeriksaan kembali selama dua hari. Jika negatif kembali, kata dia, pasien 06 akan dikeluarkan dari rumah sakit.

"Artinya kita masih menunggu pemeriksa ke-2. Jadi negatif pertama, kita akan tunggu dua hari kemudian, kalau negatif lagi, kita akan keluarkan dari rumah sakit," ungkap Yuri, seperti ditulis merdeka.com.

Kondisi Kesehatan Pasien

Sebanyak 19 kasus dalam kondisi stabil. Sisanya, ada yang mengalami tekanan psikologis, ada pula yang masih perlu penanganan karen sakit ringan.

Berikut kondisi kesehatan 27 kasus positif Corona berdasarkan penjelasan Juru Bicara Pemerintah untuk Penangan Virus Corona, Achmad Yurianto.

Kasus 1: Perempuan (31). Alami Tekanan psikologis.

Kasus 2: Perempuan (64). Kondisi stabil.

Kasus 3: Laki-laki (33). Kondisi stabil.

Kasus 4: Laki-laki (34). Kondisi stabil.

Kasus 5: Laki-laki (55). Kondisi stabil.

Kasus 6: Laki-laki (36). Negatif dan perlu ada pengecekan kembali selama dua hari

Kasus 7: Perempuan (59). Sakit ringan sedang. Kondisi stabil.

Kasus 8: Laki-laki (56). Menggunakan peralatan infus, oksigen. Sudah bisa nafas spontan, selang sudah dicabut tetapi masih menggunakan sungkup oksigen.

Kasus 9: Perempuan (55). Sakit ringan.

Kasus 10: Laki-laki (29). Sakit ringan sedang.

Kasus 11: Perempuan (54). Sakit ringan sedang.

Kasus 12: Laki-laki (31). Sakit ringan sedang.

Kasus 13: Perempuan (16). Kondisi stabil.

Kasus 14: Laki-laki (50). Sakit ringan sedang. (Negatif) perlu dilakukan pengecekan ulang

Kasus 15: Perempuan (43). Kondisi stabil.

Kasus 16: Perempuan (17). Kondisi stabil.

Kasus 17: Laki-laki (56). Kondisi stabil.

Kasus 18: Laki-laki (55). Kondisi stabil.

Kasus 19: Laki-laki (40). Kondisi stabil.

Kasus 20: Perempuan (70). Kondisi stabil.

Kasus 21: Perempuan (47). Kondisi stabil.

Kasus 22: Perempuan (36). Kondisi stabil.

Kasus 23: Perempuan (73). Saat ini menggunakan ventilator. Kondisi stabil.

Kasus 24: Laki-laki (46). Kondisi stabil.

Kasus 25: Perempuan (53). Kondisi stabil.

Kasus 26: Laki-laki (46). Kondisi stabil.

Kasus 27: Laki-laki (33). Kondisi stabil.

Direktur Medik, Keperawatan dan Penunjang RSPI Sulianti Saroso dr. Dyani Kusumowardhani, SpA, mengatakan, ada banyak faktor cepat atau lambatnya pemulihan kondisi pasien. Seperti kasus 1 dan kasus 2 yang telah sembilan hari dirawat dan hingga kini masih belum dinyatakan negatif hingga sembuh.

"Ya memang banyak faktor yang menyebabkan orang menjadi sakit atau kemudian menjadi sembuh lagi. Faktor dari dalam dia sendiri faktor lingkungannya," ujar Dyani, di RSPI Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, Selasa (10/3/2020).

Dyani mengklaim, dari sisi lingkungan sudah benar-benar dijaga oleh pihak RSPI. Di samping, mereka juga diberi asupan gizi yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

"Atau mungkin ada 'faktor x' lain yang membuat kuman masih ada di dalam tubuh mereka. Kita belum tahu persis. Faktor x dari si penderita," katanya. (*)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama