Mengingat Kembali Masa Perjuangan Perempuan

loading...

Oleh : Indri Yanti Imelda
(Mahasiswa Universitas Andalas)

Sosok Raden Ajeng Kartini tampak tidak lepas menjadi topik pembicaraan seputar emansipasi wanita. Usaha yang diperoleh dalam memperjuangkan wanita untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan diberikan kesempatan yang sama untuk menerapkan ilmu yang dimiliki agar tidak direndahkan derajatnya.
Kartini terinspirasi untuk meningkatkan wibawa dan pendidikan kaum wanita yang terbelakang di zaman itu. Sehingga Kartini berjuang mendirikan sekolah yang khususnya untuk kaum wanita, dan kemudian terkenal dengan nama Sekolah Kartini. Oleh karena itu Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai tokoh Penggerak Emansipasi Wanita.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria. Selanjutnya emansipasi wanita memiliki arti proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.

Selain Sosok Raden Ajeng Kartini, ada juga pejuang kemerdekaan Indonesia diantaranya Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Rahma El Yunusiyah, Rohana Kudus dan Siti Manggopoh. Sosok Hajjah Rang kayo Rasuna Said yang kerap dipanggil dengan sebutan Rasuna Said ternyata ia juga merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan ia juga seorang pejuang kemerdekaan sekaligus memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita.

Rasuna Said merupakan keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhammad Said, seorang saudagar Minangkabau. Setelah Menamatkan jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Rasuna Said dikirimkan ayah untuk melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah. Saat itu, ia merupakan satu-satunya santri perempuan. Ia dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas dan pemberi. Rasuna said sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita, ia sempat mengajar di Diniyah Putri sebagai guru.

Sama halnya dengan seorang reformator pendidikan islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang bernama Rahma El Yunusiyah. Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, perguruan yang saat ini meliputi taman kanak-kanak hingga sekolah tinggi. Pada waktu Rahma El yunusiyah mengenyam pendidikan disekolah milik kakak sulungnya, siswa laki-laki digabung dengan siswa perempuan dalam ruang kelas yang sama. Saat itu sedikit sekali perempuan yang belajar disekolah itu. Murid perempuan kesulitan mendapatkan penjelasan agama secara mendalam tentang fikih yang berkaitan dengan perempuan. Ia lalu berfikir untuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Tujuannya agar perempuan lebih leluasa belajar dan lebih percaya diri.

Sedangkan Rohana kudus merupakan wartawan perempuan pertama Indonesia. Ia seorang wanita yang amat peduli dengan nasib perempuan. Ketidaktersediaan sekolah untuk putri mendorong rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia, sekolah kaum putri yang mengajarkan keterampilan. Berbeda dengan Siti Manggopoh, ia merupakan seorang pejuang perempuan dari Manggopoh Lubuk Basung, Agam. Ia pernah mengobarkan perlawanan terhadap kolonialis Belanda dalam perang yang dikenal sebagai Perang Belasting. Siti memang sangat  membenci Belanda sehingga ia berani melakukan pertarungan para pejuang dengan Belanda. Siti berhasil menghabisi puluhan tentara Belanda Meski belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, pemerintah sudah mengakui jasa-jasa Siti Manggopoh dan menetapkannya sebagai Perintis Kemerdekaan.

Dulu Raden Ajeng Kartini berjuang agar wanita bisa mendapatkan haknya, kini emansipasi wanita dapat diwujudkan dengan langkah-langkah yang lebih mudah. Salah satu wujud dari emansipasi wanita yakni ketika wanita tidak menggantungkan hidupnya kepada siapa pun dan belajar lebih mandiri. Sedangkan di ruang lingkup sehari-hari, emansipasi dapat dimulai dari hal-hal yang paling kecil, seperti di dalam kelompok pertemanan atau di dalam rumah.

Peran agen perubahan dalam mempengaruhi orang untuk melakukan hal-hal yang baik jauh lebih menantang dari pada melakukan kegiatan besar yang kurang diminati. Oleh karena itu, dengan melakukan hal yang sederhana dan membawa kebaikan akan menjadi  manfaat bagi lingkungan sekitar, itu sudah merupakan bentuk dari emansipasi. Wujud emansipasi lainnya juga bisa dilakukan dengan berbuat baik kepada orang lain dan menghargai apa yang dimiliki sebagai bentuk rasa syukur kepada anugerah yang diberikan Tuhan. Namun sebaiknya, berbuat baik jangan dilakukan dengan setengah hati, terlebih lagi jika tidak memiliki semangat daya juang tinggi.

Jika seseorang sudah konsisten dalam menjalani suatu hal, tapi tidak ada juang dari dalam diri, hal tersebut akan menjadi sulit. Motivasi sebenarnya ada dalam diri masing-masing tergantung bagaimana cara fokus pada motivasi yang dimiliki.

Emansipasi wanita tidak semata-mata berfokus pada kesetaraan antara hak laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam beragam bidang. Makna sebenarnya dari emansipasi wanita yaitu tentang bagaimana wanita dapat berkembang dan maju dari waktu  ke waktu tanpa menghilangkan jati dirinya. Dengan memahami makna emansipasi wanita seutuhnya, wanita turut serta memberikan emansipasi bagi masyarakat dan negara.

Berbicara mengenai emansipasi wanita behubungan dengan Hari Perempuan Internasional tepatnya pada 8 Maret, yang mana pada Hari itu merupakan hari yang sangat bersejarah bagi kaum wanita. Usaha kaum wanita dalam upaya mendapatkan kesetaraan dan menyampaikan aspirasi mengenai masalah kesenjangan yang dialami oleh kaum wanita. Perjuangan kaum wanita dalam mewujudkan kehidupan tanpa ketimpangan berdasarkan gender melalui Hari Perempuan Internasional memang bukan isapan jempol belaka. Banyak progress positif yang telah dicapai dalam menciptakan kehidupan yang setara antara kaum wanita dan kaum pria dengan adanya Hari Perempuan Internasional.

Hari Perempuan Internasional dibentuk guna merayakan pencapaian yang telah dibuat oleh kaum wanita upaya menyetarakan gender dengan pria. Mulai dari kesetaraan sosial, ekonomi, kebudayaan, hingga politik telah berhasil dicapai berkat usaha yang dilakukan oleh kaum perempuan. Selain itu, Hari Internasional juga bertujuan sebagai seruan bagi kaum wanita untuk memperjuangkan hak- hak mereka.

Dalam hal ini, perayaan Hari Perempuan Internasional mengajak kaum wanita diseluruh dunia untuk memperingati  pencapaian, sekaligus ajakan dalam mendapatkan kesetaraan gender secara global. Tak hanya itu, dalam momen 8 maret ini juga menjadi perwujudan sebuah persatuan, cerminan, advokasi, dan aksi bagi seluruh kaum wanita dalam menghilangkan ketimpangan berdasarkan gender. Jadi, dengan adanya Hari Perempuan Internasional ini, kaum wanita dapat terus memperjuangkan emansipasi wanita dan menyuarakan keinginan mereka dalam mencapai kehidupan tanpa adanya kesenjangan karena berbeda gender.

Kesetaraan gender telah menjadi perkara yang sulit untuk terselesaikan. Bahkan, hingga saat ini pro kontra dari pembahasan kesetaraan gender terasa seperti tiada akhir. Namun, dengan adanya Hari Perempuan Internasional ini, diharapkan bahwa pada akhirnya, adanya diskriminasi pada kaum wanita dapat hilang secara menyeluruh. Segala masalah yang masih dianggap setara antara kaum wanita dan pria hendaknya mencapai jalan keluar yang diinginkan. Dengan begitu, emansipasi wanita dapat diperoleh setiap perempuan di semua negara di seluruh penjuru dunia. (*)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama