Tujuan Penting Social Distancing

loading...


Oleh: Ahmad Hidayat
(Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand)

COVID-19 semakin mengkhawatirkan. Kasus positif terus bertambah dan menjadi tantangan sendiri bagi rumah sakit dan tenaga medis untuk menanganinya. 

mjnews.id - Begitu pula pada suspek dan orang dalam pemantauan. Jumlahnya terusbertambah dan diprediksi akan terus bertambah. Per 19 Maret 2020, kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 309 kasus dari 1.727 orang yang diperiksa, serta 25 di antara meninggal dunia.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan laju angka-angka tersebut. Salah satunya adalah melalui himbauan untuk melakukansocial distancing atau pembatasan kontak sosial. Upaya ini diusulkan melalui pembahasan yang panjang dan mendalam. Manfaatnya sangat besar jika betul dilakukan oleh masyarakat.

Hanya saja potret yang terjadi tidak sebagaimana diharapkan. Pesan untuk melakukan social distancing dianggap angin lalu bagi sebagian besar orang, khususnya di Kota Padang. Tidak sedikit orang tetap melakukan interaksi dengan kelompok sosialnya, bahkan harga tiket pesawat yang menurun dimanfaatkan banyak orang untuk travelingataupun mudik karena sebagian besar kantor dan sekolah menerapkan sistem online (tidak tatap muka).

Muncul pertanyaan di pikiran saya, apa sebetulnya yang menjadi persoalan? Mengapa socialdistancingseolah sulit untuk dilakukan? Mengapa tak semua orang mengindahkannya meski hanya untuk beberapa waktu saja? Saya berasumsi bahwa sebagian besar masyarakat belum begitu akrab dengan istilah tersebut, atau lebih fatal lagi jika masyarakat tidak mengetahui tujuan penting untuk dilaksanakannya.

Pada hakekatnya, social distancing adalah upaya untuk menghentikan penularan Covid-19. Pertama kita harus mengetahui bahwa hingga saat ini penyebaran Covid-19 sebagai penyakit baru masih terus dipelajari, salah satunya oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Penularan yang paling utama hingga saat ini adalah penularan dari manusia ke manusia, yaitu pada kontak langsung melalui respiratory droplets (tetesan cairan pernafasan) yang dihasilkan saat seseorang batuk atau bersin.

Droplet tersebut dapat mendarat di mulut atau hidung pada orang di sekitar, bahkan bisa jadi terhirup ke dalam paru-paru. Kekuatan virus corona baru ini sangat beragam. Ada yang sangat menular atau mudah untuk tersebar seperti campak (measles). Penularan sangat mungkin terus tersebar tanpa upaya pemberhentian. Apalagi virus bisa jadi tidak ditularkan langsung, tetapi melewati sebuah media perantara yang menghubungkan seseorang ke orang lain. Hingga saat ini, berbagai peneliti di penjuru dunia masih mencari tahu berapa lama virus corona baru ini dapat bertahan di media lain tersebut, seperti meja, lift, gagang pintu, dinding, helm, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana peran socialdistancing?

Sekarang kita ilustrasikan kelompok masyarakat menjadi A, B, C, dan D. A adalah orang positif Covid-19 yang kita sebut penular pertama (firstcarrier). Tentu saja mereka mudah ditemukan, sebab umumnya mereka dalam pengobatan. Bayangkan ada orang seperti A berpindah tempat untuk bertemu C, dan berpapasan dengan B di tempat umum selama perjalanan. A dan B tidak saling mengenal.

Kemudian A bertemu dengan C, dengan kemungkinan tertular yang sangat tinggi. Hanya saja, berapapun banyaknya C, kita masih bisa menemukannya melalui ingatan A. C ini umumnya adalah keluarga, teman, rekan, tetangga, kasir, petugas fasilitas publik, supir, dan sebagainya. Jika C terlacak tentu akan langsung dikarantina untuk mencegah penularan berikutnya.

Masalahnya adalah, kita sulit menemukan B. Tidak ada yang kenal B, bahkan B pun tidak tahu dirinya bisa jadi telah tertular. Lalu bayangkan jika B tersebut melakukan kontak, bertemu, atau bahkan sekedar berpapasan dengan D, yang nantinya berpeluang untuk menjadi “B” baru atau kita istilahkan B2. Ingat, B ini bisa jadi lebih dari satu orang, tergantung pada seberapa banyak yang melakukan kontak atau berpapasan dengan A selama perjalanan.

Kontak-kontak seperti A dan B, ataupun B dengan B2, umumnya terjadi di tempat umum. Sebut saja misalnya dalam keramaian, pertemuan atau perkumpulan, supermarket, lift, antrean toilet, restoran, dan lain sebagainya. Bayangkan seberapa besar peluang kontaknya. Seberapa besar risiko penularannya.

Maka tujuan dari socialdistancing ini adalah untuk menyembuhkan masyarakat yang telah tertular ataupun suspek, sembari menemukan kelompok B yang bisa jadi sangat banyak di luar sana sebelum menularkan pula ke orang lain. Dengan durasi inkubasi sekitar 2 minggu, Covid-19 bisa jadi belum menampakkan gejala, sehingga kelompok B yang tidak menyadari dirinya bisa saja telah tertular tetap melakukan aktivitas seperti biasa yang melibatkan kontak sosial dan menjadi rantai penularan yang mengerikan. Hal ini dapat memicu terjadinya ledakan kasus positif dan membuat rumah sakit kita tak mampu menanganinya.

Akan lebih bijak jika masyarakat memenuhi himbauan pemerintah untuk melakukan socialdistancing untuk sementara waktu. Batasi interaksi ataupun kontak dengan orang lain serta mengurangi aktivitas di luar rumah. Upayakan untuk tetap berada di tempat Anda berada saat ini alias tidak berpergian. (*)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama