12 Orang Positif Covid-19 di Sumbar, Beras dari Pemerintah Belum Juga Turun

loading...

Ilustrasi: perawatan pasien positif terinfeksi virus corona. (ist)

mjnews.id - Dampak wabah covid-19 makin berat dirasakan oleh masyarakat Sumatera Barat (Sumbar), terutama bagi masyarakat tidak berpenghasilan tetap. Pemerintah berjanji akan membantu masyarakat dengan beras, tapi bantuan itu belum juga turun.

Dampak dirasakan terutama yang selama ini bekerja di luar rumah. Selain itu wabah korona ini juga badai kencang yang memporakporandakan bagi ribuan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Karena UMKM itu sangat membutuhkan pembeli dan masyarakat. Sementara dengan kebijakan pemerintah melarang berkerumun, secara tidak langsung sudah mematikan UMKM. Karena usaha mereka tidak dengan modal yang kuat, jika tidak jual beli saja dalam satu minggu, modal habis.

“Saya hanya jual kaki lima, kadang ada jual beli, kadang ndak. Sekarang orang tidak lagi boleh banyak keluar rumah, tak ada yang beli lagi,” sebut Abdurahman, 35 di kawasan GOR Agus Salim Padang.

Lain lagi dengan Novan, 39 selama ini dia menjadi operator musik organ tunggal. Dia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dengan panggilan tiap minggu. Dia tampil di kegiatan baralek, syukuran dan sejumlah kegiatan yang mem butuhkan hiburan.

“Sekarang orang dilarang pesta, tidak bisa tampil lagi. Tabungan sudah menipis, mau usaha lain, apa pula yang bisa dikerjakan dengan kondisi seperti ini,”sebut Novan.

Ketua Satgas Percepatan Penanganan Dampak Covid-19 Pemprov Sumbar, Beny Warlis mengakui Pemprov Sumbar sudah memutuskan untuk membantu masyarakat dengan 5 kg bagi satu orang. Bantuan itu nantinya dibagikan bagi warga terdampak.

“Benar kita sudah sepakati dengan bupati/walikota dari rapat yang dilaksanakan padaa 27 Maret lalu,”sebut Beny.

Hanya saja saat ini Pemprov Sumbar masih menunggu data yang sedang dihimpun pemerintah kabu paten/kota. Terhitung, Rabu (1/4/2020) Pemprov Sumbar belum menerima data tersebut.

Disampaikannya, bantuan beras itu nantinya diberikan bagi masyarakat terdampak covid-19, namun tidak menerima Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial. Selain itu juga tidak menerima bantuan pangan non tunai (BPNT).

“Kalau penerima PKH dan BPNT mereka kan sudah mendapatkan bantuan tiap bulan, kalau bantuan dampak ini bagi mereka yang tidak berpenghasilan karena dampak korona ini,” sebutnya.

Untuk itu, Beny juga tidak dapat menyampaikan kapan data itu dihimpun kabupaten/kota. Menurutnya dalam rapat disepakati, penghimpnan data hendaknya secepatnya.

“Kita memang tidak ada deadline, tapi secepatnya,” ujarnya.

Sebelumnya, mendapati dampak yang parah seperti itu, Pemprov Sumbar sudah membentuk Satuan Tugas Percepatan Penanganan Corona (Covid-19). Satgas ini bertugas untuk penanganan dampak ekonomi dan sosial dari masyarakat yang terdampak virus ini.

Terbentuknya Satuan Tugas Penanganan Dampak Virus Corona ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI, Joko Widodo melalui teleconference dengan Gubernur se-Indonesia, Selasa (24/2/2020) lalu. Di mana sesuai arahan Presiden Joko Widodo, setiap kebijakan yang diambil dalam penanganan penyebaran Covid-19 ini, harus mengukur dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan.

Karena itu, perintah Presiden, agar pemerintah daerah menyiapkan anggaran yang direncanakan sampai tuntasnya penanganan Covid-19 ini. Yang penting itu anggaran untuk jaring pengaman sosial untuk yang miskin baru yang akan muncul.

Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit mengatakan Satuan Tugas Penanganan Dampak Virus Corona ini, akan menangani sejumlah dampak akibat wabah ini.

Nasrul Abit tidak memungkiri, dampak sosial dari Covid-19 ini terhadap masyarakat cukup luas. Pemprov Sumbar akan melihat stok barang, baik itu berupa beras, untuk dibagikan ke masyarakat yang terdampak.

“Covid-19 berdampak ekonomi, terhadap nelayan, PKL, UMKM, yang tidak jualan. Kita coba bantu melalui beras kita. Berapa banyak stok beras yang bisa kita bagikan, akan kita bagikan ke masyarakat nelayan, PKL, UMKM dan lainnya. Dinas Sosial Provinsi Sumbar yang punya datanya nanti,” ujar Nasrul Abit.

Menurut Nasrul Abit, Pemprov Sumbar mulai menghitung. Tidak hanya pelaku ekonomi, tetapi juga untuk masalah sosial yang ditimbulkan. Misalnya, untuk orang dalam pantauan (ODP) dan yang meninggal maupun pasien dalam pengawasan (PDP) akan dibantu. Tapi besarannya akan dihitung dulu, melalui rapat tekhnis nantinya.

Sudah 12 Orang Positif Covid-19 di Sumbar

Hingga Rabu (1/4/2020) Pemprov Sumbar merilis melalui website corona.sumbarprov.go.id jumlah yang terinfeksi korona di Sumbar masih bertambah. Menjadi 12 orang setelah dinyatakan positif satu orang lagi di Padang.

“Iya bertambah satu orang lagi, ini sebelumnya sudah masuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP),”sebut Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar, Jasman Rizal.

Berdasarkan hasil labor Kedokteran Unand, yang positif Covid-19 bertambah 1 orang lagi.

Wanita, pekerjaan rumah tangga, umur 51 th berasal dari Padang. Kini dirawat di RS Ahmad Muchtar Bukittinggi.

Sebelumnya pasien tersebut masuk ke RSAM sejak tanggal 28 Maret 2020. Diduga terpapar karena ada keluarga pulang dari Malaysia dan tetangga Jakarta.

“Sekarang lagi di tracking oleh tim. Total yg telah positif adalah 12 orang, dengan rincian di M Jamil dirawat 6 orang di ruang isolasi 3 orang, dan isolasi mandiri 3 orang. Sedangkan di RSAM 5 orang. Diruang isolasi 3 orang, 2 orang isolasi mandiri. Satu orang meninggal dunia,” katanya.

Bantuan Masyarakat

Juru Bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan hingga Rabu (1/4/2020), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah menerima sumbangan sebesar Rp66,5 miliar dari masyarakat untuk menangani kasus pandemi itu. Dana itu akan diprioritaskan untuk tenaga medis.

“Kami bersyukur bahwa kepedulian masyarakat, baik secara individu maupun kelompok telah mendonasikan lebih dari Rp66,5 miliar sampai saat ini kepada rekening Gugus Tugas untuk menangani permasalahan ini secara komprehensif,” kata Yuri.

Dana yang telah dikirimkan ke rekening Gugus Tugas Penanganan Covid-19 itu digunakan untuk membeli kebutuhan para tenaga medis yang melakukan perawatan terhadap pasien Covid-19. Alat- alat itu berupa alat pelindung diri (APD), kebutuhan pangan para tenaga medis, hingga vitamin untuk menunjang kesehatan para tenaga medis yang menjadi lini depan dalam penanganan virus asal Wuhan itu.

Lebih lanjut, Yuri mengatakan setidaknya saat ini terhitung 5.000 petugas medis yang terjun langsung ke lapangan melakukan penelusuran kontak terkait kasus positif Covid-19.

“Dari kasus yang kita dapatkan dan kemudian menelusuri kontak dekat yang ada, ini sudah melibatkan 5.000 petugas kesehatan yang terjun ke tengah masyarakat untuk melakukan penyelidikan epidemologi,” ujar Yuri.

Diharapkan akan lebih banyak lagi tenaga medis yang dapat berkontribusi dan membantu percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia. Yuri juga berpesan agar masyarakat semakin taat mengimbau pemerintah, baik pusat maupun daerah terkait jaga jarak (physical distancing) dan menjaga kebersihan tangan yang terbukti efektif mencegah penyebaran Covid-19.

Hingga Rabu sore tercatat sebanyak 1.677 orang di Indonesia positif COVID-19, sebanyak 103 orang di antaranya sembuh dan 157 meninggal.

300 Polisi Terindikasi Covid-19

Sementara itu, Dinas Kesehatan Jawa Barat (Jabar) akan memantau perkembangan kesehatan 300 siswa Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lemdikpol Polri di Kota Sukabumi yang terindikasi terpapar Covid-19.

“Ini sudah ditangani langsung oleh Mabes Polri, jadi Dinkes Kota Sukabumi maupun Dinkes Jabar hanya melakukan pemantauan dari luar institusi,” ujar Kadinkes Jabar Berli Hamdani yang diwartakan detikcom.

Ditemui di tempat terpisah, Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan saat ini jumlah warga terkonfirmasi positif Covid-19 masih berjumlah 198 orang. Saat ini, pihaknya masih menunggu hasil uji swab bagi warga yang terindikasi positif lewat rapid test.

“Kita masih menunggu hasil PCR, mungkin dalam tiga hari bakal ada lonjakan yang besar. Kita menunggu dan berdoa mudah-mudahan hasil swab-nya negatif,” ujar Ridwan Kamil di Baleendah, Kabupaten Bandung.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono setelah mengecek kondisi para siswa tersebut di Setukpa, Sukabumi.

“Sesuai perintah Bapak Kapolri, sehubungan dengan pemberitaan siswa Setukpa terjangkit atau positif Corona, kita cek ke sini, ada Ka SDM Polri dan Karo Psikologi. Kita langsung mengecek, mengawasi, melihat, memberikan beberapa arahan-arahan berkaitan dengan siswa tersebut,” kata Argo kepada awak media.

Argo mengungkapkan 1.550 siswa yang ada di Setukpa menjalani rapid test beberapa hari lalu. Dari jumlah tersebut, 300 siswa terindikasi positif.

“Saat ini 300 siswa yang dinyatakan positif usai rapid test tersebut ada di Setukpa, kemudian 1.250 siswa lainnya itu cuti. Dari 300 ini sudah dilakukan langkah oleh Setukpa, Pusdokes Polri, SDM Polri, dan Kasetukpa,” ucap Argo.

Ada beberapa langkah yang dilakukan Polri, antara lain pemberian vitamin dan isolasi mandiri. Saat ini kondisi 300 siswa tersebut dalam keadaan baik.

“Yang pertama isolasi mandiri, kedua adalah pemberian vitamin C injeksi dan tablet. Kemudian rontgen dan olahraga ringan, berjemur. Itu semua sudah kita lakukan. Secara teknis akan dijelaskan nanti oleh Kapusdokes,” beber Argo. (*/eds)




 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama