Berburu Kondiak dengan Anjing Mahal

 




Ilustrasi warga berburu babi


Liputankini.com
-Babi alias celeng bin kondiak beragam nama satu nama binatang. Dia dianggap musuh bagi petani dan peladang. Jago dalam urusan menyeruduk. Tanaman bisa hancur kalau kondiak beraksi.

Sementara bagi lapisan masyarakat lain, kondiak bisa melepaskan panek-panek serta melegakan urat syaraf yang mengalami kejenuhan dari rutinitas dan beban hidup yang kian berat. Babi diburu, diterkam anjing disertai dengan sorak-sorai. Ayoh...Lalah..Cakau. Anjing menyalak tiada henti.

Berburu babi tak bisa dilepaskan dari komunitas kaum pemburu. Khusus di Kabupaten Solok, berburu digelar secara rutin. Sabtu berburu babi digelar di Sungai Lasi. Bila hari Minggu berburu ada banyak lokasi. Mulai dari Aripan, Tanjung Balik dan Kuncia. Sementara tiap Rabu berburu babi digelar masyarakat di Kubang Nan Duo, Kecamatan Payung Sekaki. Tiga hari lowong dalam seminggu. Senin dan Selasa waktu untuk menjalankan aktifitas bagi pemenuhan ekonomi keluarga. Jumat waktu beribadah. Sujud dan tafakur di masjid, selain ibadah wajib Salat Jumat.

Kalau berburu ciliang tetap dilakukan di hari Senin atau Selasa, bagi kaum pemburu, hasilnya juga tak akan ada. Waktu yang lowong itu, dimanfaatkan untuk bekerja. Petani ke sawah, pedagang ke pasar, pegawai masuk kantor dan lain sebagainya. "Kalau berburu dilaksanakan berturut-turut, ka balakang suok awak," kata Afrijoni, pria beranak dua yang hobi berburu.

Tradisi berburu babi telah ada puluhan tahun di Kabupaten Solok. Peserta dari berbagai kalangan. Tak mengenal kaya atau miskin. Pejabat atau rakyat kebanyakan. Kesemuanya bersatu dalam asa, membunuh ciliang yang sering mengganggu tanaman.

Raflis, salah seorang pecandu buru bagi mengemukakan, jelang dimulai buru babi, daerah yang menjadi tuan rumah pasti mengirimkan undangan ke daerah lain. Tujuannya, agar peserta membludak. Begitu sebaliknya, daerah yang diundang, giliran menjadi tuan rumah juga menyebarkan undangan. Mulai undangan lisan, memakai short message service, hingga melayangkan surat. Informasi juga disampaikan secara berantai dari mulut ke mulut.

Biasanya, pecinta buru babi menuju daerah yang jadi tuan rumah berkumpul di suatu tempat. Kendaraan jenis bak terbuka dicarter. Terkadang juga menggunakan angkutan umum. Juga banyak pecandu buru babi yang memakai kendaraan sendiri.

Tiap orang dikenai ongkos Rp20 ribu. Nasi bungkus dan rokok beli sendiri. Di lokasi perburuan, ada yang namanya karan. Karan merupakan pedagang keliling yang selalu mengikuti ke manapun ada orang berburu. Dengan menggelar selembar tikar, dipajang berbagai merek rokok, makanan ringan hingga kopi dan teh. Karan persis pedagang galeh babelok yang mencari kehidupan di manapun tanda-tanda kehidupan itu ada.

Raflis menyebutkan, secara ekonomi rugi memiliki hobi berburu. Tapi, dengan berburu, ada kesegaran yang bisa didapat. Pergaulan bertambah karena menyatu dengan berbagai kalangan. "Ada nilai lebih tak bisa diukur dengan uang," katanya.

Kebugaran juga didapat. Pemburu pasti turut berlarian. Bebas berteriak sekuat mungkin. Sebuah suasana yang tak bisa dilakukan di sembarangan tempat. Berteriak kencang di sembarang tempat, bisa dibilang kanai oleh kawan. Sementara di medan perburuan dianggap hal wajar dan lazim. "Ada kepuasan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata yang didapat dari berburu," kata Raflis yang juga PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok.

Berburu juga dinamai beragam. Mulai dari buru salek dan buru mamanggie. Buru salek, jumlah peserta relatif terbatas. Hanya satu atau dua mobil yang menuju lokasi perjudian. Buru salek dilaksanakan tiap Kamis. Buru mamanggie, berburu yang disertai dengan penyebaran undangan.

Berburu tak hanya ajang untuk menangkap babi. Sekaligus mencari prestise atas keterampilan anjing melakukan perburuan. Tak jarang terjadi transaksi hingga puluhan juta rupiah.

Anjing yang dihargai mahal kalau memiliki keterampilan melebihi anjing-anjing lain. Setelah dilepas, nanti anjing akan kembali ke tuan masing-masing. Akan ketahuan anjing mana yang paling jago.

Kalau pulang dengan berlumuran darah di mulut, berarti jago dalam berburu. Anjing dinilai jago, pasti akan langsung ditawar. Nilainya jutaan rupiah. Penetapan bukan terletak dari bentuk fisik anjing, tapi keterampilan yang menjadi tolok ukur.

"Dalam dunia perburuan, jangan heran kalau anjing akan lebih dikenal ketimbang si pemilik," kata Syamsuardi Hasan, wartawan yang gemar berburu babi.

Dia menyebutkan, kalau anjing ditawar dengan harga mahal, bukan anjing yang berarti mahal. Sama halnya dengan gaji kaum profesional, skill yang menentukan. Meski anjing berbulu bagus, namun kalau begok melakukan perburuan, dianggap hal biasa saja bagi kaum pemburu.

Pemburu yang berani menawar mahal anjing, biasanya berasal dari luar daerah. Mereka datang ke lokasi perburuan, sejak awal memang telah berniat mencari anjing yang bisa diasuah untuk berburu.

Raflis menyebutkan, bila dikalkulasi kaum yang memiliki hobi berburu babi di Kabupaten Solok bisa mencapai 5.000 orang. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Pecandu buru babi terhimpun dalam organisasi Porbi yang ada di kecamatan.

Harga anjing yang dimiliki kaum pemburu, mulai dari Rp500 ribu hingga jutaan rupiah. Ciri-ciri anjing yang bagus selain keterampilan, pusa-pusa lengkap, kuku pasak, dada lapang serta sunguik balang.

Anjing juga memiliki nama yang beragam: lupak, kumbang, koreang dan lain sebagainya. (Edwardi/tulisan ini terbit beberapa tahun lalu di sebuah harian terbitan Padang)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama