Polisi pun Berburu Tikus...

loading...

 

BERBURU TIKUS-Hama tikus mengganas, polisi juga terpaksa turun tangan melakukan perburuan. (edwardi)



Liputankini.com
-Tikus mengganas, petani menjerit. Dasar mancik tak mau tahu dengan penderitaan orang. Beras mahal, pupuk mahal, mancik tahunya menggerogoti tanaman padi milik petani. Meski sudah dibasmi, mancik tetap saja merajalela. Dan, polisi pun turun tangan membasmi tikus.

Ternyata, polisi tak hanya bisa mengungkap dan menangkap pelaku tindak kejahatan. Dalam buru tikus bersama yang digelar di Kecamatan Gunung Talang, Selasa (19/6), sekitar 100 orang anggota Polres Solok dikerahkan berburu tikus. Hasilnya, lebih dari 1.000 ekor tikus berhasil dibunuh. Tak hanya polisi yang berburu, tapi juga diikuti kalangan masyarakat serta pelajar.

Wakapolres Solok, Kompol Jufnedi mengemukakan, buru tikus bersama, idenya berasal dari jajaran Polres Solok. Berburu tikus merupakan bukti kepedulian polisi terhadap petani yang belakangan resah dengan serangan hama tikus. Buru tikus juga dalam rangka mendekatkan polisi dengan masyarakat.

Jufnedi menambahkan, polisi berburu tikus bukan karena tak penjahat yang mau dikejar. Buru tikus semata-mata menunjukan kepedulian Polri dengan nasib petani. "Kegiatan ini juga dalam rangka HUT Polri ke-61," katanya. Polres Solok berupaya memberdayakan Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) yang sudah terbentuk di Kecamatan Gunung Talang.

Meski polisi turut berburu tikus, tapi tak sebutir pun peluru yang dimuntahkan. Tak ada terdengar letusan badia di arena perburuan. Tapi, hanya sorak sorai. Cakau! Gali lubang! Minyak abih! Dan, ada juga mancik kalera!

Berburu tikus memang tak menggunakan senjata api. Tapi, memanfaatkan 70 kota tiran, solder serta belerang sebanyak 500 kilogram. Belerang disertai asap disemprotkan ke sarang tikus. Mancik pun terkapar. Bangkai tikus dimasukan ke dalam karung, lalu dibakar.

Serangan mancik ternyata tak bisa dianggap enteng. Sepasang tikus, ternyata bisa menghasilkan keturunan hingga 2.046 tikus. Tikus sebanyak itu, akan bisa menggagalkan dua kali musim tanam.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumatra Barat, Joni yang hadir di arena buru tikus kepada Singgalang menyebutkan, tahun ini, Kabupaten Solok merupakan daerah paling parah yang diserang hama tikus. Selanjutnya, serangan tikus yang juga ganas ada di Tanahdatar dan Dharmasraya. "Makanya, masyarakat tak boleh terlambat mengantisipasi serangan hama tikus," katanya.

Tikus termasuk famili muridae dari ordo rodentia yang hanya punya dua pasang gigi. Kendati dua pasang gigi, puluhan hektare sawah masyarakat bisa gagal panen dibuatnya. Kalau mancik mengganas, petani gagal panen. Kalau gagal panen, beras jadi mahal, dan ribuan orang akan mamakiak akibat tak mampu membeli beras. Semua, gara-gara tikus.

Joni menjanjikan fasilitas kepada masyarakat dan petani jika perburuan tikus masih dilanjutkan. "Pemerintah hanya berperan sebagai penggerak masyarakat dalam memerangi hama tikus," katanya. Kalau tikus terlambat diatasi, Sumatra Barat sebagai daerah penghasil beras, bisa tinggal kenangan.

Khusus di Kabupaten Solok, menurut Sabaruddin dari Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Solok, sebanyak 75 hektare sawah diserang tikus sepanjang 2007. Langkah penanggulangan paling efektif selain berburu tikus juga mengatur pola tanam. Juga diperlukan pengendalian hama tikus sejak dini serta menggunakan musuh alam.

Bupati Solok, Gusmal didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Tissarmi menyebutkan, serangan hama tikus memang persoalan berat yang dihadapi petani. Juga tak terhitung kerugian yang dialami petani ketika panen tak memperoleh hasil maksimal akibat serangan hama tikus.

Dikatakan Gusmal, ke depan Kabupaten Solok dituntut lebih meningkatkan produksi pertanian karena sekarang sudah beras dalam kemasan yang berhasil masuk ritel dan hypemarket besar di Jakarta. Beras menggunakan varietas unggul. Kalau serangan hama tikus tak tertangani, otomatis produksi padi juga turun. Bila order tak terpenuhi, maka kepercayaan yang sudah didapat bisa berkurang. (Edwardi/tulisan ini terbit beberapa tahun lalu di sebuah harian terbitan Padang)





 

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama