Masjid Aufu Bil Uqud, Masjid Tua Warisan Ulama


Masjid bersejarah di Padang Panjang. (kominfo)

PADANG PANJANG-Bagian atas mimbar berukirkanan rangkaian motif dedaunan berpadu dengan ayat suci Alquran, berwarna hitam dan putih. Itulah satu-satunya ornamen lama yang masih dipertahankan sejak Masjid Aufu Bil Uqud didirikan 1 Juli 1929. 


Konon, masjid yang terletak di Kelurahan Koto Katik, Kecamatan Padang Panjang Timur ini adalah masjid tertua kedua di Padang Panjang setelah Masjid Asasi di Kelurahan Sigando. Masjid bersejarah ini, diinisiasi tiga ulama, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Imam Idris dan Muhammad Nurdin. 


Ketua Pengurus Masjid, Benny Chandra diwakili Ketua LPM Isnaini mengatakan, arsitektur masjid sedikit mengadopsi gaya Timur Tengah dengan bangunan dua lantai, berkapasitas 600 orang. Berdiri dengan empat pilar. Isnaini menyebut, memiliki filosofi lantaran dibangun empat suku yaitu Suku Pisang, Sikumbang, Koto Baparuik dan Koto Baranam. 


Sejumlah perubahan diakui Isnaini terjadi. “Dulu ada empat kubah di sekeliling masjid, kini tidak ada lagi. Kemudian bentuk mimbar yang berjenjang di depannya, di mana Khatib memegang tongkat saat berkhotbah, diubah kira-kira tahun 1980-an. Khatib masuk dari belakang mimbar sekarang. Masjid ini tiga kali renovasi,” katanya dijumpai, Minggu (25/4/2021).


Isnaini bercerita, nama Aufu Bil Uqud memiliki makna menepati janji. “Jadi ketiga ulama ini meminta dengan didirikannya masjid, masyarakat kampung hendaknya memakmurkan masjid. Inilah sebenarnya masjid tua masyarakat Kanagarian Lareh Nan Panjang,” ujarnya. 


Sebelum berdirinya Masjid Aufu Bil Uqud pada 1929, Isnaini menyebut, tempat itu menjadi sarana menimba ilmu agama yang dikembangkan Syekh Muhammad Jamil Jaho di 1924. 


“Setelah beliau menuntut ilmu di Mekkah kepada Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syekh Muhammad Jamil Jaho kemudian pulang. Pada 1924 beliau mengembangkan ajaran agama Islam di sini dengan sistem halaqah,” tuturnya.


Bersama Imam Idris dan Muhammad Nurdin, Syekh Muhammad Jamil Jaho kemudian mendirikan masjid Aufu Bil Uqud. “Selama tujuh tahun di Koto Katik, Syekh Muhammad Jamil Jaho menuju tanah kelahirannya di Jaho menetap dan mengajar di sana,” lanjutnya.  


Masjid Aufu Bil Uqud disebut Isnaini menjadi saksi sejarah deklarasi gerakan Muhammadiyah pertama di Kota Padang Panjang. “Syekh Muhammad Jamil Jaho yang berajaran Tarbiyah NU menjadi saksi hadirnya gerakan Muhammadiyah di sini. Begitulah sikap ulama kita yang saling menghargai dulu,” sebutnya. (HARRIS SUYATA-KOMINFO)






Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama