Petani Cabe Kaget, Gubernur Ikut Memanen

Gubernur berdialog dengan petani cabe. (humas)


AGAM-Dua petani cabe di Agam dapat kejutan. Ketika memanen tanaman di ladang, tiba-tiba gubernur datang. Gubernur Mahyeldi pun minta izin untuk ikut memanen cabe itu.

Petani itu, Bahtiar Kamal dan Eli Warni. Mereka memanen cabe di Jorong Lasi Mudo, Pauh, Kecamatan Canduan, Kabupaten Agam, Minggu (2/5/2021). "Assalamualakum .. .uda jo uni sadang panen lado yo. Buliah ambo ikut bantu panen lado ko," kata Mahyeldi.

Lansung saja petani itu mempersilahkan. Kemudian, tangan Mahyeldi memanen satu persatu cabe merah itu. Setelah genggaman penuh, cabe dimasukkan ke ember berukuran sedang berwarna hitam. 

Sementara petani lain ada yang menggunakan kain yang dililitkan di pinggang untuk menampung cabe. Begitu penuh selanjutnya dioper ke karung. "Alah banyak lado wak, sanang rasonyo bisa bantu uda di siko. Lai buliah ambo acok acok kamari minta lado da," kata gubernur sambil bercanda.

Gubernur mengatakan, jorong tersebut menjadi daerah sangat berpotensi dijadikan kawasan agribisnis cabe merah. "Kami berkunjung untuk panen cabe bersama warga. Saya bisa bertemu dengan ketua kelompok wanita tani Bunga," ucapnya.

Gubernur menyebutkan, cabe sudah 24 kali panen. Sekarang harganya Rp20 ribu perkilogram. Petani belum bisa dikatakan untung. Minimal harganya Rp25 ribu sampai Rp30 ribu perkilogram.

"Insya Allah, ke depannya pemerintah dengan kebijakan kebijakannya bisa menstabilkan harga cabe, sehingga semangat para petani bergairah kembali menanam," ungkapnya.

Melalui pembinaan yang dilakukan PPL Agam, petani hendaknya berkembang dan maju.  "Seperti Kebun cabe Bahtiar Kamal, salah satu contoh petani yang sukses. Sudah 24 kali panen," ujar gubernur.

Eli Warni mengharapkan kepada pemprov dapat membantu bantuan pupuk gratis atau pupuk bersubsidi karena hampir tiap tahun harga pupuk selalu naik.

"Kami mengeluarkan modal Rp15 juta dengan hasil panen satu ton. Alhamdulillah kami dapat menghasilkan Rp20 juta dengan keuntungan lebih kurang Rp5 juta," ujar Eli.

Menurut Eli Warni, harga Rp25 ribu cukup ideal di tingkat petani. Meski demikian dikhawatirkan anjlok pada saat panen raya.

Eli berharap bantuan modal agar perekonomian petani cabai bisa hidup. Eli minta pemerintah juga membantu pemasaran dari produk olah petani cabe. (BIRO HUMAS SETDA SUMBAR)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama