SOLOK SELATAN–Ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 menjadi catatan berharga bagi UPT SDN 04 Bariang Rao-Rao, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan.
Kepala SDN 04 Bariang Rao-rao, Asbandi mengungkapkan rasa bangga atas prestasi siswinya, Assyifa Queena Fatharan yang berhasil meraih Juara I cabang Pencak Silat pada ajang O2SN tahun ini.
Asbandi, Sabtu (23/5/2026) mengatakan, O2SN dan FLS3N bukan sekadar kompetisi tahunan, tetapi menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan minat dan bakat melalui kegiatan ekstrakurikuler yang dibina secara aktif di sekolah.
“Tahun 2026 bagi UPT SDN 04 Bariang Rao-Rao bukan hanya tentang kompetisi, tetapi menjadi ruang bagi murid untuk menyalurkan potensi sesuai bidang ekstrakurikuler yang mereka ikuti selama satu tahun penuh,” ujar Asbandi.
Ia menjelaskan, saat ini sekolah memiliki sembilan bidang ekstrakurikuler, di antaranya UKS, Pramuka, Tahfidz, drumband, olahraga seperti pencak silat dan futsal, kelas Olimpiade Sains, kesenian, hingga sastra.
Menurutnya, tahun ini sekolah menerapkan strategi berbeda dibandingkan tahun sebelumnya dengan memberikan kesempatan lebih luas kepada murid untuk tampil, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
“Target kami setiap tahun minimal ada dua cabang yang bisa tampil di tingkat provinsi sebagai wakil Solok Selatan,” katanya.
Pada ajang FLS3N 2026, UPT SDN 04 Bariang Rao-rao juga mengirim lebih banyak peserta dibanding tahun sebelumnya, termasuk pada cabang yang belum pernah diikuti, seperti gambar bercerita, pantomim, menyanyi tunggal, dan tari.
Namun demikian, meski beberapa peserta mendapat surat pemanggilan untuk tampil di tingkat kabupaten, pihak sekolah memilih tidak melanjutkan ke tahap tersebut karena jadwal pelaksanaan FLS3N bersamaan dengan O2SN.
Asbandi menilai penyelenggaraan kedua ajang tersebut memiliki karakteristik berbeda dan membutuhkan persiapan yang tidak sedikit, terutama pada FLS3N yang memerlukan biaya besar untuk setiap cabang lomba.
“Tahun ini kami hanya tampil di tingkat Kecamatan Sungai Pagu. Untuk cabang tari misalnya, membutuhkan biaya cukup besar sehingga demi efektivitas dan efisiensi, Bintang Tari SDN 04 Bariang Rao-rao tidak kami tampilkan di tingkat kabupaten,” jelasnya.
Ia menambahkan, grup tari sekolah tersebut sebelumnya pernah mewakili Solok Selatan di tingkat provinsi. Karena itu, pihaknya memberi kesempatan kepada sekolah lain untuk tampil, sementara Bintang Tari direncanakan kembali mengikuti kompetisi pada 2027.
Asbandi menyebut keberhasilan murid di cabang pencak silat tidak terlepas dari dukungan fasilitas sekolah. Setelah prestasi yang diraih Dzakiya pada tahun sebelumnya, sekolah membeli matras bela diri melalui dana BOS untuk menunjang latihan murid.
“Sekolah kini sudah memiliki matras untuk olahraga bela diri dan bisa dimanfaatkan juga untuk cabang olahraga lainnya,” ujarnya.
Asbandi berharap pelaksanaan O2SN dan FLS3N 2027 dapat digelar lebih profesional serta dilakukan evaluasi menyeluruh, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Ia mencontohkan proses seleksi cabang bulu tangkis di tingkat kecamatan yang dinilai perlu prosedur lebih jelas agar peserta yang dikirim benar-benar hasil seleksi terbaik.
Menurutnya, salah satu atlet potensial dari UPT SDN 25 Koto Kaciak, yakni Farel, tidak tercantum dalam SK pemanggilan peserta tingkat kabupaten, padahal berhasil meraih peringkat dua cabang bulu tangkis putra tahun ini.
“Kepanitiaan perlu dievaluasi, termasuk untuk bidang FLS3N. Karena banyak cabang membutuhkan biaya besar, sebaiknya seleksi cukup dilakukan langsung di tingkat kabupaten dan penyelenggaraannya dipisahkan dari O2SN atau agenda lainnya,” tutup Asbandi. (jup)