BPBD Kota Solok Perkuat Mitigasi Bencana, Wujudkan Kota yang Tangguh, Aman dan Siaga

Wali Kota dan jajaran BPBD tinjau lokasi banjir


KOTA SOLOK–Mewujudkan daerah yang tangguh, aman, dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana merupakan salah satu komitmen Pemerintah Kota Solok dalam melindungi masyarakat. Keselamatan warga menjadi prioritas utama yang diwujudkan melalui berbagai program penanggulangan bencana yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Solok, Edrizal

Sebagai daerah yang memiliki karakteristik geografis dengan beragam potensi ancaman bencana, Pemerintah Kota Solok melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat langkah-langkah mitigasi sebagai upaya mengurangi risiko sekaligus meminimalkan dampak yang dapat ditimbulkan.

Mitigasi bencana tidak lagi dipandang sekadar sebagai program penanggulangan ketika bencana terjadi, melainkan menjadi investasi jangka panjang dalam menjaga keselamatan masyarakat serta menjamin keberlangsungan pembangunan daerah.


Proses evakuasi korban banjir 


Untuk mewujudkan hal tersebut, BPBD Kota Solok secara konsisten melaksanakan berbagai upaya strategis, mulai dari penyusunan Kajian Risiko Bencana (KRB), pemetaan kawasan rawan bencana, edukasi kepada masyarakat, peningkatan kapasitas aparatur, penguatan koordinasi lintas sektor, hingga penyediaan sarana dan prasarana pendukung penanggulangan bencana.

Berdasarkan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), Kota Solok memiliki sepuluh potensi ancaman bencana yang perlu diantisipasi secara serius. Ancaman tersebut meliputi banjir, gempa bumi, cuaca ekstrim, tanah longsor, kebakaran permukiman, kekeringan, angin puting beliung, wabah penyakit atau Kejadian Luar Biasa (KLB), kegagalan teknologi, serta bencana sosial.

Di antara berbagai potensi tersebut, banjir masih menjadi ancaman yang paling sering terjadi dan memberikan dampak cukup besar terhadap aktivitas masyarakat. Curah hujan yang tinggi, kondisi topografi wilayah, serta meluapnya aliran sungai menjadi faktor utama yang menyebabkan banjir masih menjadi bencana yang harus terus diwaspadai.

Personel BPBD selalu siaga 


Hasil kajian BPBD menunjukkan terdapat empat kelurahan yang relatif aman dari ancaman banjir, yakni Laing, Tanjung Paku, Pasar Pandan Air Mati (PPA), dan beberapa kawasan lainnya. Sementara sembilan kelurahan lainnya masih tergolong rawan sehingga memerlukan perhatian dan kewaspadaan yang lebih tinggi.

Selain banjir, Kota Solok juga berada di kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Sumatera sehingga memiliki potensi terjadinya gempa bumi. Kondisi tersebut menjadi dasar penting bagi Pemerintah Kota Solok untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan seluruh unsur pemerintah maupun masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Solok, Edrizal, mengatakan bahwa paradigma penanggulangan bencana saat ini lebih menitikberatkan pada upaya mitigasi dan pengurangan risiko dibandingkan hanya berfokus pada penanganan saat bencana terjadi.

"Bencana memang tidak dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat diminimalkan apabila seluruh masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang baik. Karena itu kami terus memperkuat edukasi, meningkatkan kapasitas personel, serta membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.

Menurut Edrizal, salah satu langkah paling efektif dalam mengurangi risiko bencana adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi ancaman yang ada di lingkungan masing-masing. Di era digital saat ini, media sosial juga menjadi sarana penting dalam menyampaikan informasi kebencanaan, peringatan dini, hingga edukasi mengenai langkah penyelamatan diri.

"Informasi kebencanaan kini dapat diterima masyarakat dengan cepat melalui berbagai platform digital. Namun yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memahami risiko dan mampu bertindak dengan tepat ketika menghadapi bencana," tambahnya.

Sebagai bentuk implementasi dari komitmen tersebut, BPBD Kota Solok secara rutin melakukan pemetaan dan pemutakhiran kawasan rawan bencana. Data tersebut menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan, penataan ruang wilayah, serta perencanaan pembangunan yang berbasis pada pengurangan risiko bencana.

Di sisi lain, kesiapsiagaan operasional juga terus diperkuat melalui keberadaan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Solok yang bersiaga selama 24 jam. Tim ini menjadi ujung tombak penanganan bencana dengan melaksanakan asesmen cepat di lokasi kejadian, evakuasi korban, penanganan darurat, distribusi bantuan logistik, hingga koordinasi dengan berbagai instansi terkait.

Kecepatan respons menjadi faktor penting dalam meminimalkan dampak bencana sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat ketika menghadapi situasi darurat.

Keseriusan Pemerintah Kota Solok dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana juga diwujudkan melalui dukungan anggaran yang memadai. Pada 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran dari pengembalian Dana Transfer Keuangan Daerah (TKD) sebesar Rp1,5 miliar untuk memperkuat kapasitas BPBD Kota Solok.

Dari total anggaran tersebut, sebesar Rp900 juta dialokasikan untuk pembangunan gudang logistik dan garasi kendaraan operasional sebagai pusat penyimpanan peralatan dan logistik kebencanaan yang lebih aman, tertata dan terintegrasi.

Selanjutnya sekitar Rp500 juta digunakan untuk pengadaan berbagai peralatan kebencanaan guna mendukung operasi penanganan darurat di lapangan. Dengan kelengkapan sarana tersebut, proses evakuasi, penyelamatan, dan penanganan korban diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, efektif, dan optimal.

Sementara itu, Rp132 juta dialokasikan untuk penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) yang menjadi landasan dalam penyusunan arah kebijakan pembangunan daerah berbasis pengurangan risiko bencana.

Menurut Edrizal, dukungan anggaran tersebut mencerminkan keseriusan Pemerintah Kota Solok dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang semakin profesional, modern, dan adaptif terhadap berbagai tantangan di masa depan.

"Pembangunan sarana dan prasarana, pengadaan peralatan, penyusunan dokumen kajian risiko, hingga peningkatan kapasitas personel merupakan investasi jangka panjang untuk mewujudkan Kota Solok yang lebih tangguh terhadap bencana. Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama sehingga memerlukan dukungan seluruh elemen masyarakat," tegasnya.

Selain memperkuat kapasitas kelembagaan, BPBD Kota Solok juga terus mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak besar, seperti menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, merawat saluran drainase, mengenali potensi ancaman di lingkungan masing-masing, serta mengikuti setiap informasi dan peringatan dini yang disampaikan pemerintah.

Melalui mitigasi yang terencana, edukasi yang berkelanjutan, penguatan infrastruktur kebencanaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan seluruh lapisan masyarakat, Kota Solok terus melangkah menuju daerah yang lebih tangguh, aman, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana.

Sebab pada akhirnya, bencana memang tidak dapat dihindari sepenuhnya. Namun dengan kesiapsiagaan, mitigasi yang tepat, serta semangat kebersamaan seluruh elemen masyarakat, risiko dan dampak bencana dapat ditekan semaksimal mungkin sehingga keselamatan masyarakat, keberlangsungan pembangunan dan kesejahteraan daerah tetap terjaga. (siska)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama