Harga Karet Pecah dari Rp17 Ribu per Kg, Petani Kuansing Minta Perhatian Pemerintah

Ilustrasi penyadap karet. (Konten AI)


KUANSING-Harga karet di sejumlah wilayah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau kembali mengalami penurunan. Setelah sempat bertahan di kisaran Rp17 ribu per kilogram, kini harga komoditas andalan masyarakat tersebut turun menjadi sekitar Rp16 ribu per kilogram, Rabu (10/6/2026).

Penurunan harga ini kembali menimbulkan keresahan di kalangan petani karet yang selama ini menggantungkan kebutuhan hidup keluarga dari hasil penyadapan getah karet.

Suhar, seorang petani karet di Kuansing, mengaku hanya bisa berharap pemerintah dapat memperjuangkan kenaikan harga karet agar lebih stabil dan memberikan keuntungan yang layak bagi petani.

"Kami hanya bisa pasrah. Harapan kami pemerintah bisa memperjuangkan harga karet agar lebih mahal dan stabil. Sebenarnya kami sangat berharap harga karet bisa mencapai Rp20 ribu per kilogram, tetapi sampai saat ini itu masih sebatas harapan," ujar Suhar.

Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus terjadi tidak sebanding dengan pendapatan petani yang justru mengalami penurunan akibat merosotnya harga karet.

"Minimal diperjuangkan agar sebanding dengan kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok yang terus meningkat," tambahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Dimar, yang sehari-hari bekerja sebagai penyadap getah karet. Ia mengaku sempat merasakan sedikit peningkatan pendapatan saat harga karet menyentuh Rp17 ribu per kilogram, namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama.

"Baru sebentar kami menikmati harga yang lumayan. Di angka Rp17 ribu per kilogram saja kami sudah sangat senang dan semakin semangat pergi menyadap. Sayangnya harga kembali turun," katanya.

Para petani berharap pemerintah pusat memberikan perhatian lebih serius terhadap nasib petani karet. Mereka menilai kesejahteraan petani harus menjadi bagian dari perhatian pemerintah, mengingat tingginya biaya hidup yang harus ditanggung masyarakat.

"Kalau harga karet sebanding dengan harga sembako yang terus naik, kami tidak akan banyak menuntut. Kami hanya ingin ada perhatian terhadap petani karet yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga," ungkapnya.

Dimar menambahkan, kehidupan petani sangat bergantung pada hasil kerja harian di kebun. Jika tidak menyadap karet selama satu atau dua hari, maka pendapatan keluarga langsung terhenti.

"Kami petani, kalau sehari atau dua hari tidak menyadap karet, dapur bisa tidak berasap. Berbeda dengan ASN yang penghasilannya sudah dijamin setiap bulan oleh negara," pungkasnya. (ridho)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama