Peringati Harganas 2026, Wabup Solok Selatan: Ketangguhan Keluarga Kunci Indonesia Emas 2045




SOLOK SELATAN– Pemerintah Kabupaten Solok Selatan memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 bersamaan dengan pelaksanaan Apel Gabungan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Senin (29/6/2026). Momentum ini dimanfaatkan untuk mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membentuk generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Apel yang digelar di Halaman Kantor Bupati Solok Selatan tersebut dipimpin Wakil Bupati Solok Selatan, H. Yulian Efi, dan diikuti seluruh ASN serta para Penyuluh Keluarga Berencana (KB).

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN. Ia menegaskan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan masa depan bangsa, terutama di tengah bonus demografi yang tengah dihadapi Indonesia.

"Transformasi kualitas sumber daya manusia tidak boleh ditunda. Proses itu tidak dimulai dari bangku sekolah atau dunia kerja, melainkan sejak dalam kandungan melalui pengasuhan yang berkualitas di lingkungan keluarga," ujar Yulian.

Ia menjelaskan, pemerintah telah memetakan tiga tantangan utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Tantangan pertama adalah sektor kesehatan, khususnya percepatan penurunan stunting. Menurutnya, stunting bukan hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan otak yang akan memengaruhi daya saing mereka di era kecerdasan buatan.

Karena itu, pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari setiap keluarga.

Tantangan kedua adalah pendidikan karakter. Rumah diharapkan menjadi "madrasah abad ke-21" yang mampu menanamkan nilai integritas, kejujuran, kedisiplinan, serta membentuk anak-anak yang adaptif dan mampu berkolaborasi menghadapi perkembangan zaman.

Sementara tantangan ketiga adalah memperkuat ketahanan mental keluarga. Menurutnya, keluarga harus menjadi tempat yang aman secara emosional sehingga anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, resilien, dan tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Yulian juga menekankan bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Kehadiran ayah tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga harus dibarengi kedekatan emosional dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

"Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik, namun absen secara psikologis," tegasnya.

Selain itu, ia mengingatkan agar orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya proses pengasuhan kepada gawai digital. Menurutnya, tanpa pendampingan orang tua, anak-anak akan lebih banyak dipengaruhi oleh algoritma media digital dibandingkan nilai-nilai yang ditanamkan keluarga.

Ia mengajak para orang tua mengurangi waktu layar (screen time) dan menggantinya dengan dialog, kebersamaan, serta aktivitas produktif bersama anak.

"Kelalaian dalam pengasuhan dapat bermuara pada berbagai persoalan sosial, seperti tawuran, perundungan, pergaulan bebas, hingga penyalahgunaan narkoba. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan paling dirindukan, sehingga ke mana pun anak melangkah, kehangatan keluarga akan selalu membawa mereka kembali ke jalan yang benar," pungkasnya. (Jup)


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama